Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan


Abu Khaulah Zainal Abidin

(Seandainya ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa panjangkan umurku dan memberikan kesempatan kepadaku menyaksikan pernikahan putriku tercinta, kira-kira seperti inilah yang ingin aku sampaikan):

بسم الله الرحمن الرخيم

إن الحمد لله , نحمده ونستعينه , ونستغفره , ونعوذ بالله من شرور أنفسنا , ومن سيئات أعمالنا , من يهده الله فلا مضل له , ومن يضلل فلا هادي له , وأشهد أن لاإله إلا الله وحده لاشريك له , وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وسلم .

{ يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون }

{ يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تسألون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا }

{ يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا , يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم , ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما }

Anak-anakku..,

Hari ini akan menjadi satu di antara hari-hari yang paling bersejarah di dalam kehidupan kalian berdua. Sebentar lagi kalian akan menjadi sepasang suami-isteri, yang darinya kelak akan lahir anak-anak yang sholeh dan sholehah, dan kalian akan menjadi seorang bapak dan seorang ibu, untuk kemudian menjadi seorang kakek dan seorang nenek, ……insya الله.

Rentang perjalanan hidup manusia yang begitu panjang … sesungguhnya singkat saja. Begitu pula…liku-liku dan pernik-pernik kerumitan hidup sesungguhnya jugalah sederhana. Kita semua.. diciptakan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa tidak lain untuk beribadah kepada NYA. Maka, jika kita semua berharap kelak dapat berjumpa dengan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa …dalam keadaan IA ridlo kepada kita, hendaklah kita jadikan segala tindakan kita semata-mata di dalam rangka mencari keridlo’an-NYA dan menyelaraskan diri kepada Sunnah Nabi-NYA Yang Mulia -Shallallahu alaihi wa sallam-فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا.

(Maka barangsiapa merindukan akan perjumpaannya dengan robb-nya, hendaknya ia beramal dengan amalan yang sholeh, serta tidak menyekutukan dengan sesuatu apapun di dalam peribadatahan kepada robb-nya.)

Begitu pula pernikahan ini, ijab-qabulnya, adanya wali dan dua orang saksi, termasuk hadirnya kita semua memenuhi undangan ini…adalah ibadah, yang tidak luput dari keharusan untuk sesuai dengan syari’at ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa.

Oleh karena itu…, kepada calon suami anakku…

Saya ingatkan, bahwa wanita itu dinikahi karena empat alasan, sebagaimana sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam:

عن أبي هريره رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال:
تنكح المرأة لأربع: لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها، فاظفر بذات الدين تربت يداك

“Wanita dinikahi karena empat alasan. Hartanya, keturunannya, kecantikannya,atau agamanya. Pilihlah karena agamanya, niscaya selamatlah engkau.” (HR:Muslim)

Maka ambilah nanti putriku sebagai isteri sekaligus sebagai amanah yang kelak kamu dituntut bertanggung jawab atasnya. Dengannya dan bersamanya lah kamu beribadah kepada ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa, di dalam suka…di dalam duka. Gaulilah ia secara baik, sesuai dengan yang diharuskan menurut syari’at ALLAH. Terimalah ia sepenuh hati, kelebihan dan kekurangannya, karena ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa telah memerintahkan demikian:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

(Dan gaulilah isteri-isterimu dengan cara yang ma’ruf. Maka seandainya kalian membenci mereka, karena boleh jadi ada sesuatu yang kalian tidak sukai dari mereka, sedangkan ALLAH menjadikan padanya banyak kebaikan.) (An-Nisaa’:19)

Dan ingatlah pula wasiat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-:

إستوصوا بالنساء خيرا فإنهن عوان عندكم

(Pergaulilah isteri-isteri dengan baik. Karena sesungguhnya mereka itu mitra hidup kalian)

Dan perlakuanmu terhadap isterimu ini menjadi cermin kadar keimananmu, sebagaimana Sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-;

أكمل المؤمن إيمانا أحسنهم خلقا و خياركم خياركم لنساءهم (الترمذي عن ابي هريرة)

(Mu’min yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap isterinya)

Dan kamu sebagai laki-laki adalah pemimpin di dalam rumah tangga.

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

(Lelaki itu pemimpin bagi wanita disebabkan ALLAH telah melebihkan yang satu dari yang lainnya dan disebabkan para lelaki yang memberi nafkah dengan hartanya.) (An-Nisaa’: 34)

Maka agar kamu dapat memimpin rumah tanggamu, penuhilah syarat-syaratnya, berupa kemampuan untuk menafkahi, mengajari, dan mengayomi. Raihlah kewibawaan agar isterimu patuh di bawah pimpinanmu. Jadilah suami yang bertanggungjawab, arif dan lemah lembut , sehingga isterimu merasa hangat dan tentram di sisimu. Berusahalah sekuat tenaga menjadi teladan yang baik baginya, sehingga ia bangga bersuamikan kamu. Ya, inilah sa’atnya untuk membuktikan bahwa kamu laki-laki sejati, laki-laki yang bukan hanya lahirnya.

Kepada putriku…

Saya ingatkan kepadamu akan sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- :

عن أبي هريرة؛ قال:- قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

إذا أتاكم من ترضون خلقه ودينه فزوجوه. إلا تفعلوا تكن فتنة في الأرض وفساد عريض

“Jika datang kepadamu (-wahai para orang tua anak gadis-) seorang pemuda yang kau sukai akhlaq dan agamanya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan menyebarnya kerusakan di muka bumi.” (HR: Ibnu Majah)

Dan semoga -tentunya- calon suamimu datang dan diterima karena agama dan akhlaqnya, bukan karena yang lain. Maka hendaknya kau luruskan pula niatmu. Sambutlah dia sebagai suami sekaligus pemimpinmu. Jadikanlah perkawinanmu ini sebagai wasilah ibadahmu kepada ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa. Camkanlah sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-:

لو كنت أمرا أحد ان يسجد لأحد لأمرت المرءة ان تسجد لزوجها (الترم1ي عن ابي هريرة)

(Seandainya aku boleh memerintahkan manusia untuk sujud kepada sesamanya, sungguh sudah aku perintahkan sang isteri sujud kepada suaminya.)

Karenanya sekali lagi saya nasihatkan , wahai putriku…

Terima dan sambutlah suamimu ini dengan sepenuh cinta dan ketaatan.

Layani ia dengan kehangatanmu…

Manjakan ia dengan kelincahan dan kecerdasanmu…

Bantulah ia dengan kesabaran dan doamu…

Hiburlah ia dengan nasihat-nasihatmu…

Bangkitkan ia dengan keceriaan dan kelembutanmu…

Tutuplah kekurangannya dengan mulianya akhlaqmu…

Manakala telah kamu lakukan itu semua, tak ada gelar yang lebih tepat disandangkan padamu selain Al Mar’atush-Shalihah, yaitu sebaik-baik perhiasan dunia. Sebagaimana Sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-:

الدنيا متاع وخير متاع الدنيا المرأة الصالحة ( مسلم)

(Dunia tak lain adalah perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang sholihah.)

Inilah satu kebahagiaan hakiki -bukan khayali- yang diidam-idamkan oleh setiap wanita beriman. Maka bersyukurlah, sekali lagi bersyukurlah kamu untuk semua itu, karena tidak semua wanita memperoleh kesempatan sedemikian berharga. Kesempatan menjadi seorang isteri, menjadi seorang ibu. Terlebih lagi, adanya kesempatan, diundang masuk ke dalam surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki. Yang demikian ini mungkin bagimu selagi kamu melaksanakan sholat wajib lima waktu -cukup yang lima waktu-, puasa -juga cukup yang wajib- di bulan Ramadhan, menjaga kemaluan -termasuk menutup aurat- , dan ta’at kepada suami. Cukup, cukup itu. Sebagaimana sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-:

إذا صلت المرأة خمسها وصامت شهرها وحفظت فرجها وأطاعت زوجها

قيل لها: ادخلي الجنة من أي أبواب الجنة شئت (أحمد عن عبدالرحمن بن عوف)

(Jika seorang isteri telah sholat yang lima, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan ta’at kepada suaminya. Dikatakan kapadanya: Silahkan masuk ke dalam Surga dari pintu mana saja yang engkau mau.)

Anak-anakku…,

Melalui rangkaian ayat-ayat suci Al Qur’an dan Hadits-Hadits Nabi Yang Mulia, kami semua yang hadir di sini mengantarkan kalian berdua memasuki gerbang kehidupan yang baru, bersiap-siap meninggalkan ruang tunggu, dan mengakhiri masa penantian kalian yang lama. Kami semua hanya dapat mengantar kalian hingga di dermaga. Untuk selanjutnya, bahtera rumah-tangga kalian akan mengarungi samudra kehidupan, yang tentunya tak sepi dari ombak, bahkan mungkin badai.

Karena itu, jangan tinggalkan jalan ketaqwaan. Karena hanya dengan ketaqwaan saja ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa akan mudahkan segala urusan kalian, mengeluarkan kalian dari kesulitan-kesulitan, bahkan mengaruniai kalian rizki.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

(Dan barang siapa yang bertaqwa kepada ALLAH, niscaya ALLAH akan berikan bagi nya jalan keluar dan mengaruniai rizki dari sisi yang tak terduga.)

(Dan barang siapa yang bertaqwa kepada ALLAH, niscaya ALLAH akan mudahkan urusannya.)

Bersyukurlah kalian berdua akan ni’mat ini semua. ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa telah mengarunia kalian separuh dari agama ini, ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa telah mengarunia kalian kesempatan untuk menjalankan syari’at-NYA yang mulia, ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa juga telah mengaruniai kalian kesempatan untuk mencintai dan dicintai dengan jalan yang suci dan terhormat.

Ketahuilah, bahwa pernikahan ini menyebabkan kalian harus lebih berbagi. Orang tua kalian bertambah, saudara kalian bertambah, bahkan sahabat-sahabat kalian pun bertambah, yang kesemua itu tentu memperpanjang tali silaturahmi, memperlebar tempat berpijak, memperluas pandangan, dan memperjauh daya pendengaran. Bukan saja semakin banyak yang perlu kalian atur dan perhatikan, sebaliknya semakin banyak pula yang akan ikut mengatur dan memperhatikan kalian. Maka, barang siapa yang tidak kokoh sebagai pribadi dia akan semakin gamang menghadapi kehidupannya yang baru.

Ketahuilah, bahwa anak-anak yang sholeh dan sholehah yang kalian idam-idamkan itu sulit lahir dan tumbuh kecuali di dalam rumah tangga yang sakinah penuh cinta dan kasih sayang. Dan tentunya tak akan tercipta rumah-tangga yang sakinah, kecuali dibangun oleh suami yang sholeh dan isteri yang sholehah.

Akan tetapi, wahai anak-anakku, jangan takut menatap masa depan dan memikul tanggung jawab ini semua. Jangan bersedih dan berkecil hati jika kalian menganggap bekal yang kalian miliki sekarang ini masih sangat kurang. ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa berfirman:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

(Artinya: “Dan janganlah berkecil hati juga jangan bersedih. Padahal kalian adalah orang-orang yang mulia seandainya sungguh-sungguh beriman.”) (Ali Imran: 139)

Ya, selama masih ada iman di dalam dada segalanya akan menjadi mudah bagi kalian. Bukankah dengan pernikahan ini kalian bisa saling tolong-menolong di dalam kebajikan dan taqwa. Bukankah dengan pernikahan ini kalian bisa saling menutupi kelemahan dan kekurangan masing-masing. Bersungguh-sungguhlah untuk itu, untuk meraih segala kebaikan yang ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa sediakan melalui pernikahan ini. Jangan lupa untuk senantiasa memohon pertolongan kepada ALLAH. kemudian jangan merasa tak mampu atau pesimis. Jangan, jangan kalian awali kehidupan rumah tangga ini dengan perasaan lemah !

احرص على ما ينفعك. واستعن بالله ولا تعجز

(Bersungguh-sungguhlah kepada yang bermanfa’at bagimu, mohonlah pertolongan kepada ALLAH, dan jangan merasa lemah!) (HR: Ibnu Majah)

Terakhir, ingatlah bahwa nikah merupakan Sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, sebagaimana sabdanya:

النكاح من سنتي فمن رغب عن سنتي فليس مني

(Nikah itu merupakan bagian dari Sunnahku. Maka barang siapa berpaling dari Sunnahku, ia bukanlah bagian dari umatku.)

Maka janganlah justru melalui pernikahan ini atau setelah aqad ini kalian justru meninggalkan Sunnah untuk kemudian bergelimang di dalam berbagai bid’ah dan kema’shiyatan.

Kepada besanku…

Terimalah masing-masing mereka sebagai tambahan anak bagi kita. Ma’lumilah kekurangan-kekurangannya, karena mereka memang masih muda. Bimbinglah mereka, karena inilah saatnya mereka memasuki kehidupan yang sesungguhnya.

Wajar, sebagaimana seorang anak bayi yang sedang belajar berdiri dan berjalan, tentu pernah mengalami jatuh untuk kemudian bangkit dan mencoba kembali. Maka bantulah mereka sampai benar-benar kokoh untuk berdiri dan berjalan sendiri.

Bantu dan bimbing mereka, tetapi jangan mengatur. Biarkan.., Karena sepenuhnya diri mereka dan keturunan yang kelak lahir dari perkawinan mereka adalah tanggung-jawab mereka sendiri di hadapan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa. Hargailah harapan dan cita-cita yang mereka bangun di atas ilmu yang telah sampai pada mereka.

Keterlibatan kita yang terlalu jauh dan tidak pada tempatnya di dalam persoalan rumah tangga mereka bukannya akan membantu. Bahkan sebaliknya, membuat mereka tak akan pernah kokoh. Sementara mereka dituntut untuk menjadi sebenar-benar bapak dan sebenar-benar ibu di hadapan…dan bagi anak-anak mereka sendiri.

Ketahuilah, bahwa bukan mereka saja yang sedang memasuki kehidupannya yang baru, sebagai suami isteri. Kita pun, para orang tua, sedang memasuki kehidupan kita yang baru, yakni kehidupan calon seorang kakek atau nenek – insya الله. Maka hendaknya umur dan pengalaman ini membuat kita,…para orang tua, menjadi lebih arif dan sabar, bukannya semakin pandir dan dikuasai perasaan. Pengalaman hidup kita memang bisa jadi pelajaran, tetapi belum tentu harus jadi acuan bagi mereka.

Jika kelak -dari pernikahan ini- lahir cucu-cucu bagi kita. Sayangilah mereka tanpa harus melecehkan dan menjatuhkan wibawa orang tuanya. Berapa banyak cerita di mana kakek atau nenek merebut superioritas ayah dan ibu. Sehingga anak-anak lebih ta’at kepada kakek atau neneknya ketimbang kepada kedua orang tuanya. Sungguh, akankah kelak cucu-cucu kita menjadi anak-anak yang ta’at kepada orang tuanya atau tidak, sedikit banyak dipengaruhi oleh cara kita memanjakan mereka.

Kepada semua, baik yang pernah mengalami peristiwa semacam ini, maupun yang sedang menanti-nanti gilirannya, marilah kita do’akan mereka dengan do’a yang telah diajarkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-:

بارك الله لك وبارك عليك وجمع بينكما في خير

فأعتبروا يا أولي الأبصار

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لاإله إلاأنت أستغفرك وأتوب إليك

Read More......


Kutatap langit-langit kamar yang sunyi…..sungguh berbeda dengan kondisi di luar sana yang riuh ramai.
Sore ini, sore yang sama seperti sore sebelumnya,,,,
Sore…bertemankan butiran hujan yang tercurah dari langit bulan Febuari…

Butiran hujan, beradu dengan teriakan tetangga yang menyuruh anaknya mandi dan Jeritan sang anak yang menolaknya….adalah bagian dari sore ku dan sore mereka….
Tak pelak lagi pukulan, jeweran, dan cubitan, hinggap di tubuh mungil anak-anak mereka. Pemandangan yang sudah berakar dalam keseharian mereka
Namun aku lebih merasa gerah dengan kata-kata yang terlontar dari lisan sang orangtua.

Membuat muncul pertanyaan dalam otakku….”Inikah sosok seorang ibu…?”



Sedetik kemudian, pikiranku melayang ke peristiwa beberapa tahun yang lalu, saat aku masih kuliah- mahasiswa tingkat akhir.

Ibu dosenku berdiri disana, menerangkan pada kami tentang pola asuh orangtua : pentingnya pengasuhan yang baik dan akibat dari pola asuh yang kurang baik.

Kemudian beliau berkisah tentang Hitler -seorang pemimpin paling ditakuti karena telah membunuh begitu banyak orang Yahudi-. yang ternyata menjadi seseorang yang demikian kerasnya, karena salah asuh dari orangtuanya. Sejak kecil, ia selalu dipukuli oleh ayahnya hanya karena kesalahan-kesalahan kecil.. Hingga suatu hari Hitler menemukan sebuah buku, yang mengatakan bahwa “orang yang kuat itu adalah orang yang tidak pernah meneteskan air mata”, dan ia pun bertekat untuk tidak akan pernah menangis lagi.

Bahkan ketika sang ayah, pada suatu saat, memukulinya lagi, ia datang ke ibunya dengan tersenyum bangga, dan berkata bahwa ayahnya telah memukulnya sebanyak 33 kali (lupa tepatnya berapa kali *senyum), hingga ibunya menyangka bahwa Hitler telah gila.
Hitler pada akhirnya tumbuh menjadi orang yang demikian keras. Di saat ia mengetahui bahwa ayahnya adalah anak hasil “perkawinan di luar nikah” antara neneknya dengan orang Yahudi. Hitler menjadi sangat benci pada orang Yahudi, dan membantai banyak kaum tersebut.

Kemudian ibu dosen pun bercerita kisah tokoh-tokoh lain, yang tumbuh menjadi manusia yang kejam, akibat salah asuh orang tua.

Kemudian entah kenapa, saat itu aku mengangkat jari tangan, dan bertanya dengan kekanak-kanakan….

Kukatakan pada ibu dosenku, “Ibu…entah mengapa saya merasa ini tidak adil…”,

Aku menarik nafas dan melanjutkan,

“ Ibu….dulu, sewaktu kita akan dilahirkan, kita tidak bisa memilih kan bu, kelak kita akan menjadi siapa, bagaimana rupa kita, kepandaian kita, rizki kita. Kita pun tidak bisa memilih siapa orangtua kita. Ya kan bu…

Alangkah kasiannya anak-anak yang lahir dari pengasuhan yang buruk, kemudian mereka akhirnya tumbuh menjadi anak-anak yang buruk, sedangkan mereka juga tidak ingin memiliki orangtua yang buruk. Semua anak pasti ingin memiliki orangtua yang sayang dan perhatian pada mereka. Semua orang pasti menginginkan orangtua yang memberikan pendidikan yang terbaik bagi anaknya. Hanya saja……..mereka tidak dapat memilih kan bu…Alangkah kasiannya mereka…..Apakah salah seorang anak, jika ternyata orangtua mereka seperti itu….?”

Ibu dosenku tersenyum mendengar pertanyaan aneh itu, kemudian ia menjawab dengan bijak. -Sebuah jawaban…yang sampai saat ini…masih kusimpan dalam benakku…-

“benar….benar sekali…
kita ini…memang tidak dapat memilih siapa orangtua kita, dan bagaimana mereka akan membesarkan kita. Dan memang pola asuh mereka memiliki andil yang cukup besar dalam kepribadian kita. Namun…coba lihatlah…..kita hidup bukan hanya dilingkungan keluarga saja bukan…?
Kita hidup dalam masyarakat. Kita hidup dalam lingkungan yang lain, selain lingkungan keluarga.
Ada banyak hal yang kemudian membentuk kepribadian kita.

Lagipula, coba lihat diri kalian sendiri…!. Kalian ini sudah besar, sudah mahasiswa…Kalian ini ingin menjadi siapa atau apa, itu bukan karena oranglain. Namun, karena kalian sendirilah yang menginginkannya.
Apakah hanya karena orangtua kalian mendidik kalian dengan buruk, lalu kalian menyandarkan diri pada kesalahan mereka, dan tetap menjadi anak dengan kepribadian buruk…?

Bukan saatnya lagi untuk menyalahkan orang lain atas kejadian yang kita alami.
Kalian sudah dewasa…sudah seharusnya mengambil langkah untuk hidup kita sendiri…
Lagipula, yakinlah, apa yang diberikan Dia adalah yang terbaik untuk kita…
Bisa saja kita mendapatkan orangtua yang baik, namun lingkungan sekitar kita buruk, dan kita mengambil jalan yang buruk, maka kita pun akan tersesat.
Dan mungkin saja, kita diberikan orangtua yang buruk, namun kita terus memperbaiki diri, maka kita pun akan mendapatkan kebaikan…”



Saat itu, aku sungguh belum mengerti mengenai pentingnya memahami tentang takdir. Bukankah memahami takdir yang telah digariskan oleh Allah dapat supaya hati kita menjadi tenang…?



kini…aku sadar…betapa tidak layaknya, apabila seseorang menyalahkan takdirnya….bersandar pada kesalahan orang lain…..mencari-cari alasan bahwa ia menjadi seperti ini karena orang lain.

Mungkin salah seseorang anak, akan memiliki orangtua yang buruk….
atau memiliki orangtua dengan pendidikan rendah,
atau merasa tidak mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya,
atau merasa bahwa ia diperlakukan tidak adil
atau merasa bahwa ia memiliki masa kecil yang suram….
Atau ia sama sekali tidak bangga pada orangtuanya….bahkan merasa malu…

Kemudian ia beranggapan, bahwa ia yang sekarang ini….keburukan yang terjadi padanya, karakteristik sifatnya yang buruk ini, adalah akibat dari kesalahan orangtuanya.
Dan ia menjadi manusia yang memandang buruk masa lalunya….

Temanku…. Kami memahami kesedihanmu….
Memang benar, Orangtua mseharusnya menjadi seseorang yang paling dekat dengan kita….mengajari kita hal-hal yang positif….menerima kekurangan kita, membangun kepercayaan pada kita bahwa kita tidak sendirian…

Tapi disaat orangtua kita tidak seperti orangtua yang ideal, layakkah kita terus terkungkung pada hal tersebut….dan hanya menjadi pribadi yang diam, dan menyerah, serta menyandarkan diri pada kesalahan mereka…?

Apakah karena kesalahan didik orangtua kita….kurang kasih sayang…dan tidak pahamnya mereka tentang cara menjadi orangtua yang baik, lantas menjadikan kita demikian terpuruk……menjadikan kita terhempas….menjadikan kita pribadi dengan moral kalah…. bersembunyi pada kesalahan mereka, dan lari dari keharusan untuk bangkit….? Untuk memperbaiki diri….??

Apakah kita harus menjadi seseorang yang seperti itu….?

Akankah kita lari dari tanggung jawab kita untuk senantiasa memperbaiki diri….?

Temanku bukankah jika kita ingin menjadi orang yang lebih baik….itu kita lakukan bukan karena manusia…
Sungguh bukan karena manusia….
Kita tidak berubah menjadi orang yang lebih baik….hanya karena orangtua kita baik…atau bukan karena latar belakang kehidupan kita, tapi…karena mengharapkan pahala dari Allah…

Ibumu…ayahmu…adalah sama halnya dengan kamu…
Mereka pun manusia….
Memiliki kekurangan, disamping kelebihan….
Memiliki kesalahan….
Namun…jangan sampai kesalahan mereka, atau ketidaksukaanmu pada sikap mereka, mendorongmu untuk berbuat durhaka pada mereka….
Mendorongmu…untuk membenci mereka
Karena sikapmu yang seperti itu…tidak lain justru akan menjatuhkan dirimu sendiri dalam neraka…

Temanku…
yakinlah Allah Maha Adil…
Ia memberikan kalian kekurangan di satu sisi….InsyaAllah memberikan kelebihan kalian pada sisi yang lain….

Mungkin Allah meletakkan cobaan pada kalian dari sisi orangtua kalian…
Sedangkan teman-teman yang lain, diuji dengan jalan yang lainnya…

Tapi….temanku…Bukankah kesabaranmu…ketaatanmu dalam menghadapi ujian, adalah ladang pahalamu….?

Temanku…kehidupan itu tidak stagnan….kehidupan itu berubah….!!!
Betapa tak sedikit orang-orang yang lahir dari orangtua psikopat, akhirnya dapat bangkit dan menjadi sosok dewasa yang baik…?
Betapa tak sedikit orang-orang yang dibesarkan oleh lingkungan yang kumuh dan buruk, akhirnya dapat menjadi orang yang tegar dan shalih –atas ijin Allah…?

Temanku….ingatlah…bahwa Allah selalu bersamamu…cukuplah cintaNya menjadi tujuanmu…
Apabila engkau mengharap cinta dari manusia, mungkin engkau akan lebih banyak kecewa…disebabkan karena manusia pun adalah makhluk yang penuh dengan kekurangan….

Temanku….mari sama-sama belajar bersamaku…bersama teman-teman yang lain…untuk senantiasa memperbaiki diri…
Sudah saatnya kita melihat diri kita sebagai diri yang mandiri….
Bukan saatnya terus merenungi masa lalu….
Bukankah masa lalu adalah hal yang paling jauh dari kita…? Kita tidak akan kembali padanya…? Jadi biarkanlah ia berlalu….

Sekarang…..yang lebih baik kita lakukan adalah….menjadikan masa lalu kita sebagai suatu pelajaran….
Jangan sampai kelak anak-anak kita mengalami hal yang sama dengan masa lalu kita…
Jadikan kesalahan dalam didikan orangtuamu padamu….sebagai kunci keberhasilan kita dalam mendidik anak….
Belajarlah…dan terus belajar tentang cara mendidik anak-anakmu kelak….
Buatlah anak-anak kita berkata dengan lantang, “aku bangga punya orangtua seperti ummi dan abi…”

Dengarlah kaum wanita….generasi ini tanggung jawabmu….!!!!!



12 Febuari 2010

Dariku –temanmu-…..untuk saudariku yang kini tengah terluka….(kuharap ia membacanya….),,,,
percayalah…mereka sangat menyayangimu….

Read More......



“Mi…adik itu dari mana sih datangnya? Nanti keluarnya dari mana…?”

Pertanyaan seperti itu, bukan tidak mungkin akan keluar dari mulut si kecil, manakala ibu memberitahunya akan kehadiran sang adik bayi. Tidak itu saja, banyak lagi tanda Tanya besar dalam diri anak mengenai berbagai hal baru, termasuk masalah yang berkaitan dengan seks.

Bagaimana dengan orangtua sendiri…?
Kapan dan perlukah pendidikan seks diajarkan pada anak…?

Kadang ada orangtua yang enggan dan menganggap hal tersebut tabu untuk diajarkan, karena adanya anggapan bahwa seiring dengan perkembangan usianya, anak akan tau dan dapat belajar dengan sendirinya. Tanpa disadari, kelengahan ini dapat menimbulkan bahaya besar bagi sang anak.


Sejak Kapan Memulai….?

Islam tidak mengesampingkan satu aspek dari seluruh aspek pendidikan kepada anak, termasuk pendidikan seksual. Dengan demikian, pendidikan seks untuk anak juga merupakan bagian dari pendidikan yang perlu dan bahkan penting untuk diajarkan pada anak.

Lalu sejak kapan anak mulai dapat diberi pendidikan ini…?
Sejak anak mulai dapat membedakan hal yang benar dengan yang salah, yaitu usia tamyiz, biasanya pada usia 7 tahun, atau bahkan bisa kurang dari 7 tahun.

Pada usia ini, anak umumnya sudah mempunyai daya nalar yang cukup untuk menerima penjelasan dari orang dewasa di sekitarnya. Umumnya mereka sudah dapat membedakan antara laki-laki dan perempuan, serta memasukkan diri mereka sendiri dalam kategori yang mana.

Bagaimana Mengajarkannya….?

Pendidikan seks dapat diberikan secara langsung maupun tidak langsung kepada anak. Pengajaran dapat diberikan secara lisan, maupun melalui pembiasaan. Nah, berikut ini adalah beberapa yang dapat diajarkan kepada anak :

1. Mengajarkan etika meminta izin

“ Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak yang kamu miliki dan orang-orang yang belum baligh diantara kamu, meminta izin tiga kali (dalam satu hari), yaitu sebelum shalat, ketika kamu menanggalkan pakaianmu di tengah hari, dan sesudah shalat isya. Itulah tiga aurat bagimu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak pula atas mereka selain dari tiga waktu itu. Mereka melayani kamu, sebagian kamu (ada keperluan) kepada sebagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta ijin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta ijin…” (Terjemahan An-Nur 58-59)

Ayat ini mengajarkan kepada kita untuk mendidik anak-anak agar meminta ijin ketika akan menemui orangtuanya saat berada di tempat tidur, misalnya dengan mengetuk pintu terlebih dahulu. Hikmahnya apabila anak memasuki kamar orangtuanya, ia tidak dikejutkan oleh suatu keadaan yang tidak baik untuk dilihat. Orangtua pun benar-benar harus menjaga agar anak tidak pernah melihat keadaan yang tidak baik untuk dilihat tersebut. Hendaknya pula hal ini tetap dibiasakan hingga anak telah mencapai usia baligh.


2. Mengajarkan etika memandang lawan jenis

Sejak anak telah memasuki masa tamyiz (sekitar 7-10 tahun), anak sudah dapat dibiasakan untuk mempraktekkan etika melihat terhadap lawan jenis agar anak dapat membedakan mana yang dihalalkan dan mana yang diharamkan baginya. Saat memasuki masa baligh nanti, anak diharapkan telah mendapatkan bekal akhlak yang mantap. Sejak kecil, di dalam lingkungan keluarga anak sudah dapat dibiasakan untuk tidak memakai pakaian yang menampakkan auratnya (seperti memakai pakaian yang pendek sehingga terlihat kedua pahanya, memakai pakaian yang ketat dan tipis) agar di masa baligh, ia telah terbiasa menjaga auratnya.

Apalagi jika bersama dengan orang yang bukan mahramnya, anak diajarkan untuk menjaga pandangannya. Pembiasaan yang lain adalah mengajarkan anak untuk tidak memasuki kediaman perempuan asing yang boleh dinikahi (bukan mahram), dan mengajarkannya untuk tidak bersalaman dengannya…(tidak bersentuhan). Sejak memasuki masa peralihan (pubertas) yaitu sekitar usia 10 hingga 14 tahun, anak sudah dapat diberitahukan siapa yang menjadi mahramnya.


3. Menghindarkan anak dari rangsangan seksual

Tidur bersama saudara-saudara, laki-laki dan wanita di satu tempat tidur pada usia sepuluh tahun ke atas termasuk hal-hal yang dapat membangkitkan rangsangan seksual terutama apabila mereka berada dalam satu selimut. Oleh karena itu, memisahkan tempat tidur mereka harus segera dibiasakan. Sebagaimana Rasulullah shalalahu ‘alaihi wa salam bersabda :

“ Perintahkanlah anak-anak kalian mengerjakan shalat pada usia 7 tahun, pukullah mereka karena menginggalkan shalat pada usia 10 tahun, dan pisahkanlah, diantara mereka (sendiri-sendiri) dalam tempat tidur” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, shahih)

Hikmah adanya pemisahan tempat tidur ini juga diakui oleh para ilmuwan. Anak-anak yang tidur terpisah akan terhalang untuk bersentuhan badan dan bersenda gurau. Hal lain yang juga penting untuk diperhatikan adalah orangtua yang tidur dalam satu tempat tidur dengan anak. Hindarkanlah keadaan ini, meskipun anak masih bayi, sebab tidak selamanya anak tidur, ketika orangtuanya menunaikan hajat suami-istri. Anak dapat mendengar suara-suara yang mencurigakan. Ini sangat berbahaya bagi perkembangan kejiawaannya di usia mendatang.

Usaha lain untuk menghindarkan anak dari rangsangan seksual semenjak dini adalah menghindarkannya dari tayangan televisi yang tidak bermanfaat, video, bioskop, panggung sandiwara, komik porno, dan tempat-tempat hiburan. Penelitian menunjukkan bahwa anak pada zaman sekarang lebih cepat menjadi matang secara seksual akibat pengaruh rangsangan seksual dari luar tersebut.


4. Mengajarkan hukum-hukum kepada anak

Semenjak anak mulai menginjak masa peralihan (pubertas) menuju masa remaja, anak telah diajarkan tentang hukum-hukum syariat yang berkenaan dengan kecenderungan dan kematangan seksual. Anak perempuan yang duduk di kelas empat SD, misalnya, telah dapat diajarkan oleh ibunya tentang apa haid, bagaimana cara bersuci darinya, kewajiban syariat apa yang harus dilakukan jika sudah haid, dll.

Pengajaran tentang air mani, mimpi basah, dan lain-lain, hendaknya diberikan oleh ayah kepada anak laki-lakinya.

Dengan demikian, tidak dijumpai anak gadis yang berada dalam keadaan tidak suci (karena belum bersuci dari haid) , sementara mereka berfikir telah menunakan hak Allah dalam ibadah shalat.


5. Hiasi hari-hari anak dengan ibadah dan kegiatan yang bermanfaat

Banyak pendidikan yang dapat diberikan kepada anak dalam mengisi hari-harinya dengan kegiatan yang bermanfaat. Ini harus dimulai sejak anak masih kecil, agar kebiasaan yang baik hingga masa dewasanya. Menyibukkan anak dengan banyak kegiatan akan menghindarkannya dari perilaku seks yang menyimpang, seperti maturbasi.

Selain dialami pada masa remaja. Banyak penelitian menunjukkan bahwa maturbasi juga dialami oleh anak-anak kecil usia satu hingga 6 tahun yang kurang aktif dalam kegiatan, banyak melamun, dan sering kesepian. Alangkah baiknya jika orangtua dapat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan anaknya. Menjaga anak agar bergaul pada lingkungan yang bersih dan mengusahakannya mendapatkan persahabatan yang baik, akan sangat membantu sang anak. Biasakanlah anak untuk memperbanyak ibadah, seperti shalat, puasa, membaca al qur’an, hafalan al qur’an dan hadist, maupun mengajaknya ikut ta’lim, agar ia mendapatkan benteng yang kuat dalam menghadapi rangsanga-rangsangan seksual di sekitarnya.


6. Menjelaskan masalah seksual secara terbuka, jika anak sudah cukup umur
Penjelasan masalah seks merupakan masalah penting pada anak. Adapun dasar-dasar mengadakan hubungan seksual dan tata krama menyalurkan kebutuhan biologis, dapat diajaran pada saat anak mendekati usia baligh serta memasuki ambang pintu pernikahan.
Buang jauh-jauh perasaan tabu dan malu untuk menjelaskannya, karena anak Anda membutuhkan pendidikan ini dari Anda. Jangan sampai ia terlanjur salah langkah, karena Andalah yang bertanggung jawab akan pendidikannya



Perhatikanlah beberapa hal berikut ini dalam memberikan pendidikan seks untuk anak Anda :

1. Ajarkanlah tentang hukum-hukum tersebut yang sesuai dengan tingkat usianya.
Tentu akan sangat membingungkan bagi anak usia 10 tahun jika diajarkan tentang dasar-dasar hubungan seksual, sementara hokum yang berlaku pada masa pubertas dan masa baligh tidak diajarkan kepada mereka.

2. Sang ibu lebih utama mengajarkan masalah seksual kepada putrinya karena secara emosi mereka lebih dekat, dan menghindarkan rasa canggung. Apabila tidak ada, maka hendaklah diberikan kepada pendidik wanita lainnya yang dapat menggantikan kedudukan sang ibu.


Diketik ulang dari Majalah Nikah edisi Febuari 2003


Tambahan :

Waktu itu pernah membaca juga…namun lupa di mana sumbernya…mengenai pendidikan seks pada anak…

1. Untuk anak yang masih kecil, kita bisa mengajarkan anak pendidikan seks melalui adab-adab pakaian, misalnya laki-laki dibiasakan memakai celana, dan wanita memakai jilbab dan rok

Dengan begitu, anak akan mengetahui bahwa laki-laki dan wanita itu berbeda. Saat itu, kita bisa mulai menerangkan bahwa, karena mereka berbeda, mereka mempunyai karakteristik sendiri-sendiri, dan tugas masing-masing, misalnya ayah mencari nafkah, ibu di rumah mendidik anak.

2. Jangan lupa untuk mengontrol teman-teman anak-anak kita
Pada saat anak masih kecil, biasanya mereka kurang paham mengenai apa saja yang boleh dilakukan/tidak boleh dilakukan dengan teman-teman sepermainan yang lawan jenis.
Misalnya saja, anak-anak kecil biasa saling mencium, memeluk, padahal mereka lawan jenis, karena itu, mulailah mengajarkan bahwa mereka tidak boleh melakukannya.


**************************
************************************************
Hanya share dari majalah….dan belum ada pengalaman mendidik anak…
Jadi mohon saran dan masukannya/ sharingnya jika ada….
Jazaakumullahu khairan…..

Read More......

Hati telah siap…
keinginan telah mantap…
Umur telah mencukupi….dan orangtua telah memberikan lampu hijau, tapi kenapa Hasan, sebut saja begitu, belum juga maju untuk melamar.
Kenapa…?
Rupanya ia bingung dari mana harus memulai dan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Tak beda, Hasanah, bukan nama sebenarnya, tak tau mesti bagaimana agar ada laki-laki yang datang melamarnya….

Sebenarnya, Hasan dan Hasanah tak perlu kebingungan, karena syariat Islam telah mengatur semua itu. Dan itulah cara Islami dalam mencari pendamping hidup. Bagaimana itu….??


Langkah-Langkah menuju Pelaminan

Awali Minta Bantuan

Bila sudah mantap ingin menikah, tapi tidak kenal dengan akhwat atau ikhwan, cobalah mulai dengan meminta bantuan teman untuk mencarikan.
Usahakan teman yang sudah menikah lagi amanah, atau ustadz/ustadzah yang dapat dipercaya…!!!
Minta tolong cari tau ikhwan mana yang siap menikah atau akhwat mana yang siap dilamar.

Selain minta bantuan, bisa juga dengan maju langsung ke orang yang disukai. Bisa melalui risalah, lewat telepon, atau bicara langsung didepannya. Bagi pihak wanita mungkin malu bicara minta dinikahi, karena terkesan tidak punya adab atau tata krama, namun sebenarnya tidak juga, karena dulu ada pula seorang sahabiyah (sahabat perempuan Rasulullah) yang menawarkan diri pada Beliau Shalallahu ‘alaihi wa salam.

Bagi akhwat, sebenarnya yang paling bertanggung jawab dalam hal ini adalah sang ayah. Ayah yang mesti mencarikan jodoh buatnya, karena seorang anak putri berada di bawah pengawasannya. Maka sebagai seorang anak, sebaiknya kita jujur kepada orang tua tentang keinginan kita untuk menikah. Bila direstui minta kepada beliau untuk mencarikan. Tentunya dengan memberi criteria yang baik agama dan akhlaknya.

Kakakqu selalu berkata :
Apabila kita telah siap untuk taarufan, itu artinya…. kita harus siap untuk menolak, ditolak, dan tentu saja, siap untuk menikah
taarufan bukanlah sebuah permainan. Jangan sampai kita nantinya mempermainkan perasaan orang yang akan/ sedang taarufan dengan kita , karena sikap kita yang setengah-setengah, atau menggantung….hingga taarufannya dilakukan karena iseng-iseng saja…atau cuma sekedar pengisi waktu sebelum menikah….”

Jadi, langkah pertama yang harus kita lakukan jika kita hendak taarufan adalah, memantapkan hati kita bahwa kita memang sudah siap untuk proses tersebut

Tukar data awal

Bila sudah ketemu ikhwan dan akhwatnya, lakukan tukar data awal, guna mengetahui data umum ikhwan dan akhwat tersebut. Mulai nama, tempat tanggal lahir, pendidikan, orangtua, pekerjaan, tentang diri pribadi (misalnya sifatnya), kriteria calon pendamping yang diinginkan, sampai pemahaman agama, dan lain sebagainya. Dalam hal ini tergantung kebutuhan kedua belah pihak. hendaknya tukar data ini melalui pihak ketiga, tidak secara langsung, untuk menghindari fitnah atau berkhalwat

Bila dari data awal tertarik, selanjutnya beritahukan kepada pihak ketiga untuk meneruskan prosesnya, atau bicara langsung pada yang bersangkutan. Tapi bila tidak tertarik, silahkan ditolak, langsung, atau melalui pihak ketiga. Sampai disini belum ada ikatan apapun, karena baru proses penjajagan awal. Sehingga bila gagal tak perlu kecewa.


Cari Info tentang dia


Bila cocok dengan data awal, mulailah dengan mencari info tentang si dia. Yaitu info tambahan berkenaan dengan keseharian, dari sifat, karakter, agama, sampai akhlaknya. Info ini penting karena berkaitan dengan muamalah (hubungan keseharian) si dia ketika menjadi pendamping kita nantinya. Jangan sampai ada penyesalan di kemudian hari.

Akan lebih baik, mencari info dari orang terdekat si ikhwan atau akhwat tersebut, seperti saudara, teman dekat, tetangga, kalau perlu orangtuanya. Dipilih mana yang dapat menyampaikan info dengan obyektif. Keobyektifan info sangat penting berkaitan dengan penilaian kita terhadap si dia. Disinilah pentingnya informan yang jujur dan amanah.

Bila dari hasil telusuran cocok dan sesuai criteria, silahkan dilanjutkan prosesnya. Jika tidak, maka hentikan saja, agar tak menyiksa diri atau memberikan harapan yang tak pasti…!!!

Cocok, Nadhor saja….

Bila dengan data awal dan info tambahan, hati semakin mantap untuk menikah dengannya, lanjutkan dengan melihat si dia, dalam bahasa agama disebut nadhor

Perintah nadhor ini terutama ditujukan bagi laki-laki, sebagaimana sabda Rasulullah ketika menasehati Al-Mughibah

‘Lihatkah gadis tunanganmu itu terlebih dahulu, karena yang demikian itu akan membuat hubungan kalian berdua menjadi lebih langgeng “
(HR. Tirmidzi dan Nasai)

Nadhor ini bisa dilakukan secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. Bila harus terang-terangan, maka si akhwat harus ditemani mahram, agar tidak sampai terjadi khalwat.

Bagian tubuh yang diperbolehkan dinadhor- menurut pendapat yang lebih kuat- adalah muka dan telapa tangan. Dalam nadhor, bisa dilakukan pembicaraan antara keduanya guna mengenal lebih dekat karakter masing-masing, cara bicara, sampai pandangan hidup masing-masing.

Wanita pun sebaiknya melihat calon suaminya, agar di kemudian hari todak terjadi kekecewaan dengan fisik suaminya. Selain itu juga lebih menentramkan jiwanya.

Tapi ingat, Nadhor itu dilakukan jika ia berniat serius untuk menikah….
Jadi, jangan karena ada alasan, “hmmm….sudah saatnya menikah, “
maka ia melakukan nadhor dimana-mana….dan sama sekali tidak ada niatan untuk menikah….
Namun semata-mata untuk have fun saja….
Itu tidak diperbolehkan…

Catatan untuk para akhwat, dari kakakqu...
“Berhati-hatilah dengan ikhwan yang hobinya nadhor…Jadi…pastikan lewat teman-teman dekat/orangtua/ saudara ikhwan itu…bagaimana akhlak sang ikhwan yaaa….
Jangan sampai kita dipermainkan oleh ikhwan-ikhwan dengan moral yang seperti itu….!!!

Ingat sekali lagi ya, temanku…
Taaruf itu bukanlah sesuautu yang main-main atau sesuatu yang iseng…dan menikah itu dunia akhirat…Jadi kita harus bener-bener mengetahui akhlak orang yang datang pada kita”

Ingat juga yaaa….
Jika datang seseorang laki-laki pada kita…,,,, jangan hanya liat dari jenggotnya yang tebal….Celananya yang ngatung… Atau dahinya yang hitam….!
Namun lihat juga bagaimana akhlak dan agamanya….

Karena kadang ada akhwat yang mengeluhkan bahwa ternyata akhlak suaminya tidak sebaik penampilannya yang nyunnah…
Baik agamanya….belum tentu baik akhlaknya….
Baik akhlaknya…..belum tentu baik agamanya…
Meski memang benar bahwa, seharusnya orang yang baik agamanya…tentu harus baik akhlaknya….kenyataannya di lapangan, tidaklah selalu seperti itu……

Jadi….ingat saudariku…kehati-hatian dalam memilih pasangan….hmmm…artinya mengetahui mengenai seluk beluk akhlak dan agama pasangan, itu adalah hal yang tidak boleh diremehkan yaaa….
Tanyakanlah pada orang-orang terdekatnya…


Oiya…jangan lupa…untuk teman-teman….nadhor itu juga diperbolehkan adanya pembicaraan….namun…ingat…j
angan sampai berdua-duaan…
Tanyakanlah padanya hal-hal yang ingin kita ketahui…Namun…sebaiknya jangan mempersulit pertanyaan…(ini pesan kakakqu… lagi…)


Cocok lagi…? Khitbah…!

Bila setelah nadhor juga cocok, silahkan di-khitbah atau dilamar. Namun dapat juga khitbah dulu baru nadhor, atau khitbah dulu baru nadhor, atau nadhor bersamaan dengan khitbah. Pada intinya, khitbah adalah meminta izin pihak orangtua akhwat untuk merestui si pelamar menikahi putrinya. Bila diterima, maka tahap terakhir adalah akad atau walimah.

Dalam masyarakat kita, ada kekeliruan berkaitan dengan khitbah ini yaitu munculnya adapt tukar cincin antara kedua calon mempelai. Hal ini tidak pernah dicontohkan dan diperintahkan oleh Islam. Dan ini adalah maksiat, karena tukar cincin adalah budaya kafir yang diadopsi umat Islam. Sedangkan Rasulullah bersabda :

Barangsiapa yang meniru suatu kaum, maka ia termasuk kaum tersebut

Islam sendiri telah menggariskan bahwa laki-laki dan wanita non mahram tetaplah belum halal…meski telah khitbah…!!! Jadi….tidak ada alasan bahwa karena sudah khitbah, artinya mereka boleh jalan bareng, pegangan tangan, atau lebih dari itu…
komunikasi juga dibatasi, seperlunya saja…
Ingat, temanku…Betapa banyak di sekitar kita orang-orang yang bahkan sudah menetapkan tanggal pernikahan, menyebarkan undangan, namun….mereka harus menerima kenyataan bahwa mereka tidak berjodoh….


Istiharah…Jangan dilupakan….
Ingatlah, temanku…
Setiap orang pasti memiliki pandangan…
Kadang Ada seseorang memandang sesuatu itu baik….namun yang lain memandangnya kurang baik…
Kadangpun ada seseorang yang memandang sesuatu itu kurang baik, namun orang di sekitarnya justru ingin sekali mendapatkannya….
Lalu, siapakah yang paling mengetahui yang paling baik untuk kita….?
Tentu saja, Allah…Rabb yang paling mengerti kita, lebih dari kita sendiri…
Jadi….jangan lupa untuk bertanya pada Dia yaa…
Apalagi untuk masalah pernikahan, yang pada hakekatnya adalah masalah dunia akhirat….
Bertanyalah padaNya….niscaya akan ditunjukkan jalan yang paling baik untukmu…
Amin…


Bogor,
Januari-Febuari 2010



Diketik ulang dengan berbagai penambahan…
Dari : Majalah Nabila
Edisi 05/ Tahun 1/ September 2004/ sya’ban-Rajab 1425

Read More......



Segala puji bagi Allah, kita memujinya, memohon pertolongan dan ampunan kepadaNya kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan kejelekan amlan-amalan kita, barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dap at menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya hidayah.

Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwasa nnya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah hamba dan utusan Allah.

“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam.” (QS. Ali ‘Imran : 102)

“Wahai manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya, dan daripadanya keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) NamaNya kamu saling me minta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silahturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisa’ :1)

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah dengan perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu sosa-dosamu dan barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzaab : 70-71)

Amma ba’du :

“Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan dalam agama, setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu ditempatnya di Neraka.” (*)

(*) Khutbah ini dinamakan khutbatul haajah, yaitu khutbah pembuka yang biasa dipergunakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam untuk mengawal i setiap majelisnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga mengajarkan khutbah ini kepada para Sahabatnya. Khutbah ini diriwayatkan dari enam Sahabat Nabi Shallallahu ‘alahi wa Sallam . Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (I/392-393), Abu Dawud (no. 1097, 2118), an-Nasa-I (III/104-105), at-Tirmidzi (no. 1105), Ibnu Majah (no. 1892), al-Hakim (II/182-183), ath-Thayalisi (no. 336), Abu Ya’la (no. 5211), ad-Darimi (II/142) dan al-Baihaqi (III/214, VII/ 146), dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini shahih. Wallahu a’lam.


Gadis Primadona

Kehidupan umat Islam yang porak poranda sekarang ini, alam pergaulan muda mudi yang nyaris carut marut seperti yang kita lihat saat ini, ternyata masih juga menyisakan tokoh-tokoh menyejarah,bukan dalam arti pahlawan, juga bukan dalam arti pahlawan, juga bukan dalam arti penguasa, tapi pribadi-pribadi yang siap tampil be da dengan trade mark klasik, lugu, lugas, dan konsuken. Setiap sektor kehidupan selalu menyediaka tempat buat tokoh-tokoh seperti itu. Setiap periode zaman, tidak pernah bosan menanti kehadiran mereka, karena, mereka dilahirkan memang utnuk menjadi primadona!

RAHASIA KEINDAHAN

Wah…,indah betul gebyar-gebyar kehidupan dunia ini. Bila pemandangan alam diperindah dengan hijaunya pepohonan, indahnya wisata laut dipercantik dengan karang-karang laut dan pemandangan bawah airnya, kehidupan anak Adam juga selalu digemerlapi oleh munculnya pribadi-pribadi yang stabil, liat dan awet. Mereka, ibarat tahi lalat di wajah nan jelita. Bila dipandang secara sempit, terlihat buruk rupa, tapi bila dipandang secara menyeluruh, menjadi sumber keindahan yang sangat nyata.

Pribadi yang stabil, liat, dan awet, menggambarkan sosok manusia yang berpendirian konsuken, teguh pada pendirian dan tidak mudah rapuh. “Sesungguhnya orang-orang yang mengatkan, ‘Rabb kami adalah Allah’ kemudian mereka bersi kap istiqamah, maka akan turun kepada mereka (dengan mengatkan). ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu mersa sedih; dan begembiralah kamu dengan (memperoleh) jannah yang telah dijanjikan Allah kepdamu.” (QS.Fushshilat : 30)

Pribadi seperti itulah yang ‘menyulap’ kehidupan dunia yang pekat dengan bala bencana, menjadi panggung kehidupan yang penuh kemeriahan, selalu ceria dan sarat kegembiraan. Karena, dunia tidak menjadi indah karena orang-orang kaya. Betapa, dengan kekayaannya, para penjahat bisa berbuat lebih banyak dari kriminal kelas teri. Maling ayam tidak pernah bisa menciptakan kiamat seperti yang mampu dilakukan koruptor denga total sabetan milyaran rupiah.

Dunia juga tidak menjadi semakin indah karena para penguasa. Karena, betapa dengan kekuasaannya, banyak orang mampu mengubah semua proyek rakyat menjadi sumber penghasilan pribadi, menyulap kejahatan menjadi sebuah adegan lawak murahan.

Dunia, pula tidak terlihat semakin indah karena kemunculan para pendekar politik. Karena, betapa, seperti juga para pendekar tempo dulu, membunuh dianggap legal bila diberi bingkai ‘membela kebenaran’. Lihat saja, ketika pengorbanan materi hingga nyawa dari rakyat jelata, bisa sedemikian mudah tertutupi oleh gebyar gelanggang politik, asalkan tokoh politiknya bisa di-goalkan menjadi pembesar atau penguasa.

Namun, kitapun teramat menyadari, betapa masyarakat menjadi sangat terhibur, bila berjumpa dengan orang kaya yang mau sedikit melirik kehidupan fakir miskin, penguasa yang tidak terlalu menyusahkan rakyat, atau politikus yang agak sedikit religius. Artinya, betapa sikap konsekuen terhadap nilai-nilai kebenaran menjadi hiburan yang sangat menyejukkan hati, meski baru pada taraf sentuhan-sentuhan kecil, jauh dari totalitas yang diharapkan dalam ajaran Islam.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya, janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah : 208)

Sehingga, menatap konsekuensinya terhadap nilai-nilai kebenaran, sebenarnya, secara fitrah pun sudah diakui sebagai kenikmatan yang sangat menghib ur. Namun tentu saja dianggap menjadi sangat mengganggu, oleh mereka yang memiliki kepentingan memuaskan diri sendiri. Sikap konsekuen orang lain.,selalu mereka anggap ketu kan palu di kepala mereka yang terlalu besar karena sikap rakus dan tamak.

SANG PRIMADONA
Kalau pribadi unggul yang selalu memebekali diri dengan kontinuitas yang mapan terhadap nilai-nilai kebenaran menjadi ‘keindahan’ yang sangat menghibur, dalam kehidupan masyarakat yang pekat pelanggaran, maka, kemunculan seorang wanita muslimah yang teguh pendirianny, konsuken terhadap agamanya, adalah partai punca k dalam sajian hiburan paling memikat di alam dunia ini.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda “
“Dunia adalah kenikmatan, dan sebaik-baiknya kenikmatan dunia adalah wanita yang salihah.” (1)

Orang yang paling berbahagia dengan kenikmatan kolo sal yang satu ini adalah lelaki yang menjadi suaminya. Taburan nikmat demi nikmat, berhamburan dari kepribadian isterinya yang salihah, menjadi media penghibur yang sangat gemerlap.

“Yang selalu membuat suaminya bergembira bila dipandang, yang selalu taat kepada suaminya., dan yang tidak pernah melanggar perintahnya serta tidak berkhianat dalam mengelola harta suaminya tersebut.” (2)

Ciri khas yang paling kental pada pribadi wanita salihah adalah kemampuannya membuat suaminya bergembira. Senyum yang tersungging di kedua belah bibirnya, membawa arti amat penting untuk menghibur sang kekasih hati. Dan, jangan sekali-kali menganggap remeh arti sebuah senyuman.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

“Sesungguhnya senyumanmu di hadapan saudaramu adala h sedekah.” (3)

Azhar Ahmad Mahmud menjelaskan, “Senyuman kita di hadapan saudara seiman adalah hadiah termahal yang bisa diberikan kepadanya. Bisa jadi, secercah senyuman dapat membuat hatinya yang keruh menjadi bersuka cita…” (4)

Nah, suami mana yang tidak akan merasa nyaman dan terhibur, bila diberi hadiah seorang isteri yang salihah?
Baiklah, dan wanita mana yang tidak bebahagia, bila bertetangga dengan seorang wanita salihah, yang tidak suka menggunjing atau menyakiti tetangganya.

Hati si wanita akan semakin nyaman, karena tidak akan khawatir suaminya tercinta yang kena sabet wanita tetangganya itu.

Orang tua mana yang tidak akan berbahagia, bila dikarunia buah hati seorang puteri salihah, taat kepada suami dan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Manusia mana yang tidak berbahagia, bila menyaksikan wanita-wanita salihah itu menyemaraki kehidupan di tengah masyarakat : akan semakin sedikit perzinahan, akan semakin kecil kemungkinan terjadinya perselingkuhan dan akan semakin menurun pula godaan-godaan syahwat yang bisa menyebabkan banyak anak Adam terjerembab di lembah nista.

Dan, bukan main, betapa fenomena terorisme pernah dibuat sejuk dengan muncul pribadi wanita-wanita salihah yang secara sangat kebetulan para suaminya ‘dituduh’ sebagai teroris. Betapa masyarakat, meski sebenarnya tertipu, menjadi sangat terhibur, begitu melihat sosok mereka yang dituduh sebagai pengacau ternyata pa ra suami dari kumpulan primadona…

Baiklah, mungkin lebih baik tidak percaya kalau para lelaki itu betul-betul sebagai teroris. Tapi bukan itu persoalan kita. Namun, sosok seorang wanita salihah, bisa menyebabkan orang lebih merasa aman dan terhibur. Cobalah, bila kedapatan seorang pencuri yang memiliki isteri yang terlihat sangat salihah, pasti kebanyakan orang akan bilang : “Kasihan isterinya, ya.” Lupa, kalau si suami yang lebih patut dikasihani. Karena, dialah yang harus menanggung beban dosa dunia-akhirat. Tapi, kata ‘kasihan’ dan ‘sayang’, memang lebih layak ditujukan kepada pribadi-pribadi yang mencuat, yang dianggap sedang kemalangan, ketimbang orang-orang biasa yang sedang kesusahan. Akhirnya, publikpun mengakui, bahwa wanita salihah, betapapun kondisinya, tetaplah pribadi yang paling layak menggondol status sebagai sang idola.

PRIMADONAKU, SIAPA DIA?

Baiklah, untuk sebuah kaidah umum, bolehlah keshalihan dijadikan sebagai trade mark utama pada diri seorang wanita utnuk mencuatkan dirinya menjadi idola siapa saja. Artinya, setiap lelaki pasti menginginkan seorang isteri yang salihah, siapapun dia, dan betapapun buruknya kwalitas agamnya sendiri. Namun, tentu ada kiat-kiat lain yang bisa semakin mengentalkan tingkat keidolaan seorang wanita, dalam pandangan setiap lelaki. Mungkin, bisa disoroti secara singkat sebagai berikut :

Pertama, Wanita, dengan Tingkat ‘Kerapuhan’ Paling Rendah.

Memang, pada dasarnya, wanita itu rapuh, seperi layaknya botol-botol kaca. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah mengungkapkan, “Pelan-pelan saja, hai Anjasyah! Jagalah botol-botol kaca itu dengan penuh kelembutan.” (5)

Tabiat wanita bengkok, itu biasa. Mudah berubah-ubah, itu m emang sudah tabiatnya. Namun, konsistensi menjalankan tugas-tugasnya sebagai wanita salihah, pasti akan menempa dirinya menjadi wanita special dengan tingkat kerapuhan paling rendah.

Semakin rendah tingkat kerapuhannya, semakin nyaman dirasakan oleh setiap pribadi yang berinteraksi dengannya, termasuk suaminya yang tercinta.

Kedua, Gigih Melayani Suami

Untuk wanita yang sudah bersuami, statusnya sebagai primadona rumah tangga, akan semakin mencuat,, bila Ia semakin gigih melayani sang suami. Yah, terutama sekali, untuk memenuhi kebutuhan bilogis suaminya.

“Apabila seorang lelaki mengajak isterinya untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, maka hendaknya si isteri mendatanginya meskipun ia sedang berada di hadapan tungku.” (6)

Ketiga, Menyenangkan dan Menghibur

Jadilah wanita yang selalu berpenampilan OKE, selalu murah senyum, lebih mudah nurut, tidak terlalu cerewet dan gampang diingatkan. Semua kita itu boleh dibilang sebagai service utama seorang wanita, tehadap suaminya. Bila “sang customer” merasa puas, kepribadiannya sebagai primadona pun semakin legal.

“Wanita mana pun yang meninggal dunia sementara suaminya ridha kepadanya, ia pasti masuk Surga.” (7)

Keempat, Berilmu.

Sebelum ataupun sesudah menikah, ilmu menjadi peranti paling utama yang harus dipersiapkan oleh seorang muslimah. Cobalah renungi ucapan s eorang wanita agung, Ummu Sufyan, kepada anaknya :

Wakie’ menceritakan : Ummu Sufyan pernah berkata kepada putranya, Sufyan : “Tuntulah ilmu, biar aku menghidupimu dengan hasil menenun. Kalau engkau menulis sepuluh hadits, coba perhatikan apakah engkau mendapatkan adanya pe rtambahan kapasitas dirmi?Kalau memang demikian, teruslah menuntut ilmu. Namun bila tidak, jangan diteruskan, silakan mencari tempat lain saja untuk belajar.” (8)

Itulah profil wanita yang amat mengangungkan ilmu. Tentu, yang akan mengangungkan ilmu adalah pribadi yang dekat dengan dunia ilmu. Jangan berpikir, bahkan seorang wanita yang ditekankan harus banyak di rumah, dibatasi pergaulannya demi menjaga kesucian dan kehormatannya, dalam satu arti dengan wanita yan g bodoh dan terbelakang. Karena, dinding rumah tidak pernah bisa membatasi limpahan ilmu yang mengucur deras dari segala arah. Lahirnya seorang Ummu Sufyan atau putri Sa’ied bin Al-Musayyab, atau Unaisah Putri Syaikh Al-Albani, bukan di ruang-ruang terbuka, juga bukan di dnuia pendidikan liberal yang tidak punya aturan sehat, namun justru di balik dinding pingitan.

“Dan bertaqwalah kepada Allah, Allah mengajarmu, dan Allah Maha Megetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah : 282)

Asalkan bertalwa kepada Allah, aliran imu pasti akan mengucur sedemikian deras, ke dalam jiwa seorang wanita muslimah, di manapun dia berada.

Baiklah, kita bukan bebicara bahwa setiap wanita muslimah harus menjadi ulama, karena memang betapa susahnya mencapai tingkat ulama, meski diusahakan oleh kaum lelaki sepanjang hidup mereka. Tapi, kita hanya menekankan, bahwa dengan cahaya ilmu, betapa keindahan kepribadian seorang wanita muslimah akan semakin mencuat.Dia akan menjadi semakin memprimadona, asalkan ilmu tersebut betul-betul mengubahnya semakin mawas diri. Kalau tidak, alangkah banyaknya wanita pintar yan g justru membikin kaum lelaki semakin memeras otak mencari selamat dari bulusnya………


Footnote :
1. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya, Kitab Ar-Radhaa bab : Sebaik-baik kenikmatan dunia adalah wanita salihah, hadits no. 1467.
2. Sunan An-Nasaa’i Hadits no. 3231. Diriwayatkan juga oleh Ahmad dalam Al-Musnad II : 251, sanadnya hasan.
3. Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan At-Tirmidzi. LIhat Shahih At-Targhieb oleh Al-Albani : 2684)
4. Thiebul Kalaam wa Talakatul Wajh oleh Azhar Ahmad Muhammad hal. 11
5. Diriwayatkan oleh Abu Dawud Ath-Thayalisi. LIhat I : 140
6. Yakni tungku untuk memasak roti.
7. Sunan At-Tirmidzi hadits no. 1161. At-Tirmidzi berkata : “Hadits ini hasan gharib.” Diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah Hadits no. 1854.
8. Siyar A’laam An-Nubalaa VII : 269

Sumber : Majalah Nikah vol. 3 no 12, Maret 2005 hal. 56-59

Read More......

Segala puji bagi Allah, kita memujinya, memohon pertolongan dan ampunan kepadaNya kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan kejelekan amlan-amalan kita, barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya hidayah.

Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwasannya Muham mad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah hamba dan utusan Allah.

“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam.” (QS. Ali ‘Imran : 102)

“Wahai manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya, dan daripadanya keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) NamaNya kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silahturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisa’ :1)

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah dengan perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu sosa-dosamu dan barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzaab : 70-71)

Amma ba’du :

“Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan dalam agama, setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu ditempatnya di Neraka.” (*)

(*) Khutbah ini dinamakan khutbatul haajah, yaitu khutbah pembuka yang biasa dipergunakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam untuk mengawali setiap majelisnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga mengajarkan khutbah ini kepada para Sahabatnya. Khutbah ini diriwayatkan dari enam Sahabat Nabi Shallallahu ‘alahi wa Sallam . Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (I/392-393), Abu Dawud (no. 1097, 2118), an-Nasa-I (III/104-105), at-Tirmidzi (no. 1105), Ibnu Majah (no. 1892), al-Hakim (II/182-183), ath-Thayalisi (no. 336), Abu Ya’la (no. 5211), ad-Darimi (II/142) dan al-Baihaqi (III/214, VII/146), dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini shahih. Wallahu a’lam.

Siapa Wanita Pilihanmu?

Jujur saja, walaupun dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam jelas disebutkan bahwa dalam memilih isteri hendaknya lebih mengutamakan akhlak dan agamanya namun kenyataannya sekarang banyak ikhwan yang lebih mendahulukan kecantikan dibanding agama. Apakah memilih wanita cantik dilarang? Tidak. Itu juga sah-sah saja. Namun hendaknya kriteria cantik ini tidak membuat kita lupa akan kriteria akhlak dan agamanya.

SEDIKIT CERITA

Sebut saja Maman, 27 tahun. Dulu, dia pernah bermimipi. Mimpi indah sekali. Mimpinya, bila suatu saat nanti dijodohkan oleh Allah Subhanallahu wa Ta’ala, bisa dipilihkan isteri yang tinggi, cantik, dan aduhai. Tapi kenyataanya, yang ia dapatkan malah sebaliknya, seorang wanita yang kurang sesuai impiannya. Kecewakah? Awalnya memang ada rasa seperti itu, tapi seiring perjalanan waktu, rasa itu pun perlahan hilang. Setelah tahu akhlak harian isterinya dan lupa dengan mimpi-mimpinya yang dulu. Baginya sekarang, ia mesti banyak bersyukur kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala, karena telah diberi seorang isteri yang pengertian. Selain juga pintar melayani dan pandai menutupi kekurangannya. Walaupun ia tidak menafikan adanya kekurangan-kekurangan pada isterinya tersebut.

Itu adalah satu contoh sekaligus satu pelajaran, khususnya bagi anda para bujangan. Bahwasannya dalam menikah yang paling utama bukanlah sosok kecantikan semata, tapi lebih dari itu adalah akhlak dari pasangan. Hanya akhlak baik yang akan bisa membuat kehidupan rumah tangga tenteram dan bahagia. Akhlak yang baik juga mampu mengubah kecantikan isteri. Dalam arti, menurut pandangan kita, isteri menjadi lebih cantik secantik akhlaknya. Memang akan lebih sempurna bila selain akhlak yang bagus didukung pula dengan kecantikan fisik. Namun yang demikian sepertinya tidak ada, karena semua wanita ada kekurangannya. Tapi mungkin kriteria ‘sempurna’ itulah yang ingin dikejar oleh ikhwan-ikhwan itu.

Walaupun demikian, sifat ikhwan yang mengutamakan kecantikan semata atau berharap kesempurnaan, hanya sebagian saja. Sebagian lagi masih berusaha mengikuti saran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Selama akhlak dan agama si akhwat b aik, ia terima. Ia juga sadar bahwa tidak ada wanita di dunia yang sempurna. Hendaknya demikianlah seharusnya prinsip seorang ikhwan.

CANTIK,TAPI…

Sebagaimana yang sudah sering kita dengar dan baca, bahwa di dunia ini tak ada manusia yang sempurna. Terlebih lagi wanita yang telah Allah Subhanallahu wa Ta’ala ciptakan dalam keadaan bengkok. Secara kodrat, mereka lebih banyak kekurangan dan kelemah an dibanding pria, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

“…Tidaklah aku tinggalkan melihat orang yang kurang akal dan kurang agama lagi potensial melemahkan laki-laki yang kuat selain salah seorang di antara kalian (para wanita)…” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Hal demikian menuntut kita (para lelaki) untuk lebih banyak mengerti wanita, juga lebih bisa memahami kekurangan mereka. Menyangkut kekurangan ini, bukanlah hal yang aneh bila ada wanita yang secara fisik cantik tapi pemboros, atau abid (ahli ibadah) tapi tak bisa masak, atau ahli masak tapi pencemburu berat, dan lainnya. Yang demikian itu adalah biasa. Hampir terjadi dan ada pada setiap wanita.

Nah, bagi anda para bujangan, wanita mana yang akan anda pilih, semua tergantung pada anda. Pada dasarnya ini menyangkut kriteria utama yang anda tetapkan dan kekurangan-kekurangan yang masih bisa anda toleransi. Tentunya setiap ikhwan berbeda-beda. Satu ikhwan mungkin menjadikan kecantikan sebagai standar utama, tak peduli bisa masak atau tidak, sementara ikhwan lain mungkin lebih mengutamakan ibadahnya dan tak peduli kekurangan-kekuragan yang lainnya, dan seterusnya. Yang jelas, tak ada wanita di dunia ini yang sempurna 100%. Pasti ada saja kekurangannya. Ini hal pertama yang hendaknya dipahami betul.

BAGAIMANA DENGAN WANITA?

Kalau boleh jujur juga, akhwat pada dasarnya tak beda jauh dengn ikhwan. Kalau seumpama mereka ditanya bagaimana kriteria ikhwan yang diinginkannya, hamper pasti akan dijawab lelaki yang sempurna. Yaitu ikhwan yang ganteng, gagah, berilmu tinggi, dan mapan. Karena, sebagaimana pernyataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, wanita adalah saudara laki-laki. Apa yang terjadi pada laki-laki, terjadi juga pada wanita. Termasuk dalam hal ini adalah keinginan-keinginannya. Perbedaanya, wanita umumnya lebih bisa menyembunyikan perasaan dan lebih bisa menerima kekurangan-kekurangan pasangannya. Se hingga baginya, selama ikhwan yang datang meminang nampak baik akhlak dan agamanya maka akan ia terima. Kalaupun nantinya ada kekecewaan, ia lebih bisa terima dan lebih bisa mengalah. Ini keumuman wanita, namun secara khusus (orang per orang) tentu berbeda. Walaupun begitu, secara umum wanita juga lebih sadar diri, dalam arti lebih bisa bercermin pada dirinya dibanding laki-laki. Kalau laki-laki seringnya “lupa diri”. Walaupun banyak kekurangan, dalam menetapkan kriteria tetap harus yang sempurna (tidak ada kekurangannya). Inilah yang kemudian menjadikan beberapa akhwat mundur teratur, tak berani mengajukan diri karena merasa tak sesuai kriteria si ikhwan. Kebijakan seperti ini juga menjadi satu sebab banyaknya wanita terlantar. Duhai para ikhwan, tidakkah kalian kasihan?

KALAU BISA SEPERTI NABI Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Kalau kita sedikit menengok sejarah nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, bagaimana cara beliau memperisteri wanita atau kriteria apa yang ditetapkan oleh beliau bagi wanita yang menjadi isterinya., maka akan kita dapati nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lebih mengutamakan agama dan akhlaknya dibanding fisiknya. Itu pun masih didasari pada manfaat dan madharatnya bagi perkembangan Islam. Itulah mengapa Rasulullah Shallallahu ‘aiahi wa Sallam hanya menikahi satu wanita yang masih perawan, yaitu Aisya radhiyallahu ‘anha. Sedangkan yang lainnya para janda dan umumnya sudah tua. Pelajaran yang bisa dipetik dari perkawinan beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ini, bahwa agama hendaknya dijadikan patokan u tama dalam memilih seorang wanita, agar nantinya rumah tangga bahagia dunia dan akhirat.

Nah, kalau sekarang anda ingin menikah, cobalah bertanya pada diri sendiri tentang wanita yang hendak anda nikahi tersebut. Cobalah anda lihat dan baca! Dengan keadaan dia seperti itu, akankah pernikahan anda dengannya nanti bermanfaat bagi agama anda, atau malah sebaliknya?Atau, akankah dia bisa jadi isteri yang penurut atau justru pembangkang?Hal ini akan lebih membuat anda berhati-hati dalam menentukan calon pasangan.

BILA PILIH YANG BELUM JADI

Kalaupun ternyata anda lebih memilih wanita yang “kurang” dari sisi agama, alangkah baiknya kalau anda yakin betul bahwa wanita tersebut bisa diatur. Anda mesti yakin bahwa dia mampu diubah akhlak dan agamanya hingga bisa menjadi akhwat utama. Kalau anda yakin, silahkan memilihnya. Jikalau anda ikhlas, insya Allah ini akan jadi lading dakwah dan pahala utama bagi anda. Tapi yang seperti ini sangat riskan. Yang terjadi, biasanya si ikhwan malah terseret dalam keburukan isterinya. Maka dari itu, hendaknya anda pikirkan matang-matang dulu sebelum menetapkan pilihan. Akan lebih baik disesuaikan dengan kemampuan anda. Dalam mendidik dan membimbing wanita. Kalau anda tak yakin, lebih baik jangan memilih wanita yang ‘BELUM JADI’, karena penyesalan yang kemungkinan besar akan terjadi. Sekarang tinggal keputusan anda!

Untuk para wanita, anda pun punya pilihan. Mau jadi akhwat yang utama atau yang ‘BELUM JADI’ saja? Wallahu a’lam.

Sumber :
Majalah Nikah vol.3, no. 12, Maret 2005. Pada Bab Sakinah 1 hal. 5-7.

Read More......


Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (Ali ‘Imran: 14). Dalam tulisan ini mungkin kami lebih fokus mengenai kecintaan antara lelaki dan wanita, insya Allah.

Pertama, perhatikanlah bagaimana awal hadirnya cintamu itu.

Kecenderungan hati atau rasa cinta itu muncul, terkadang bersama sesuatu yang dibolehkan syariat, namun seringnya muncul bersama sesuatu yang tidak syar'i. Indera adalah pintu menuju hati, apa yang dari pandangan, pendengaran, maka akan masuk dan melekat ke dalam hati kita dan diantaranya muncullah rasa cinta. Misalnya, suatu ketika ada yang melihat atau mengetahui seseorang yang menarik hatinya, jika ini karena sesuatu yang tidak disengajanya insya Allah tidak mengapa, tapi dia tidak boleh melanjutkannya dengan pandangan yang kedua. Rasulullah bersabda:
"...janganlah kamu ikuti pandangan (pertama) itu dengan pandangan (berikutnya). Pandangan (pertama) itu boleh buat kamu, tapi tidak dengan pandangan sel anjutnya"

Setelah munculnya ketertarikan dari pandangan pertama, adalah godaan yang berat sekali kecuali bagi yang dirahmati Allah, untuk seseorang tidak melanjutkan kepada apa-apa yang jiwanya inginkan utk semakin merekahkan rasa cintanya. Di sini sungguh butuh kesabaran yang luar biasa, bertarung dengan hawa nafsunya yang hina, demi kesucian hatinya. Jika rasa cinta itu muncul dari apa-apa yang tidak disengajanya, lalu berhenti disitu, maka insya Allah tidak mengapa, itulah hiasan yang Allah anugerahi bagi hatinya.

Akan tetapi, banyak orang yang kurang bersabar atas ujian syahwatnya, cinta itu masuk dan tumbuh dari cara-cara yang tidak dibenarkan syariat.

- pertama adalah mereka yang sengaja mengumbar pandangannya atau pencariannya untuk memunculkan rasa cintanya. Apa yang didapatnya itu ad alah memang suatu kesengajaan untuk memuaskan hawa nafsunya. Sekalipun setelah itu muncul rasa cinta di hatinya, itu adalah cinta yang maksiat, yang telah didahului oleh sesuatu yang hina yaitu pelampiasan hasratnya atas keindahan-keindahan dunia tanpa mengindahkan syariat.

Allah ta'ala telah berfirman: "Katakanlah kepada laki-laki yang beriman supaya mereka menundukkan pandangan mereka… Katakanlah kepada kaum wanita yang beriman agar menundukkan pandangan mereka". (QS. An-Nur: 30-31)

Betapa pandangan yang diumbar bebas kepada yang diharamkan Allah itu akan mengeraskan hati, karena muncul kecintaan di hatinya kepada apa-apa yang diharamkan itu. Menjadikan hati redup cahayanya, menjadikan ruang-ruang dalam hati itu terisi oleh bisikan-bisikan syahwatnya, menjadikan hati lama kelamaan makin tertutup k otoran sehingga semakin sulit cahaya kebenaran masuk. Al Imam Ibnul Qayyim memiliki tulisan yang sangat bagus mengenai ini dalam Ighatsatul Lahafan.

- yang kedua, yaitu mereka yang mendapati rasa cinta itu dari pandangannya yang pertama yang tidak disengaja, alhamdulillah ini adalah sesuatu yang dibolehkan. Tetapi dia kurang bersabar menahannya dari apa-apa yang dilarang oleh syariat yaitu melanjutkan itu dengan apa yang dilarang. Dia ingin menumbuhkan rasa cintanya itu dengan melanjutkan yang pertama itu dengan yang kedua, dimulai dengan pandangan kedua, lalu m ulai menulis, lalu mulai menyapa, lalu mulai berbicara, dan seterusnya hingga ia terbuai oleh rasa cintanya yang semakin bertambah. Di sinilah rasa cinta itu dimasukkan olehnya melalui cara-cara yang menyelisihi syariat Allah.

Sekilas hampir tidak kelihatan perbedaan keadaan orang yang kedua ini, apakah dia itu menumbuhkan cintanya itu demi memenuhi kepuasan hawa nafsunya, ataukah dia melanjutkannya demi mencapai sesuatu yang syar'i, yaitu ta'aruf, lalu melamar dan menikahi. Di antara perbedaannya adalah, bagaimana dia menjaga batas-ba tas hubungan dan komunikasi itu hanya pada hal-hal yang diperlukan saja baginya untuk memutuskan langkah selanjutnya yang syar'i, dia menjaga dan khawatir akan terjatuh pada fitnah dan kerinduan yang berlebihan kepada seseorang yang bukan haknya. Selain itu, di antara perbedaan itu bisa juga kita lihat dengan mengetahui bagaimana hakikat cinta itu dan kemana dia arahkan cintanya.

Kedua, perhatikanlah bagaimana hakikat cintamu itu.

Perhatikanlah ayat di atas tadi, disebutkan di antara bentuk-bentuk cinta yang Allah anugerahkan pada kita, yaitu wanita, anak-anak, dan harta. Kita tidak perlu gundah gulana dan merasa bersalah jika ia muncul di jiwa dan hati kita, itu adalah cinta tabiat manusia yang asalnya boleh, tinggal bagaimana kita mengelola kecintaan atau kesenangan kita pada itu semua sesuai tuntunan dan tidak melanggar syariat. Allah kemudian meng ingatkan bahwa itu semua adalah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. Bagaimanapun kita wujudkan kecintaan kita pada hal-hal keduniaan itu, entah dalam hal-hal yang diridhai Allah,maupun dalam hal-hal yang dimurkai Allah -wal'iyyadzubillah-, maka kita pasti akan tinggalkan itu semua dan kita akan kembali kepada Allah. Yang kita bawa bukan apa-apa yang kita cintai itu, tapi amalan yang telah kita perbuat sebagai wujud kecintaan itu tadi.

Ketika hati seseorang dihiasi dengan rasa cinta, maka bagi yang tidak memahami bagaimana cinta yang benar, mereka hanya terbuai oleh kecintaan dunia berupa wanita, anak-anak, dan harta. Bahkan kecintaan itu bisa menjadi kesyirikan jika ia m encintai yang selain Allah seperti atau melebihi kecintaannya kepada Allah. Karena cintanya yang keliru, semua urusan di dunianya dia lakukan demi itu semua, ia halalkan yang haram dan ia haramkan yang halal, dan ia korbankan apa saja demi meraih yang ia cintai itu. Hingga kita lihat seorang wanita atau lelaki menjadi takluk dan pasrah di hadapan kekasihnya, mereka men jalin hubungan tanpa ikatan yang syar'i, atas nama cinta. Tapi sesungguhnya ini adalah cinta yang maksiat.

"...itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik". Dari sini dapat pula kita pahami bahwa kecintaan yang paling tinggi dan mulia adalah cinta seorang hamba kepada Rabb-nya, bagaimanapun kesenangan di dunia itu, tempat kembali yang baik hanya di sisi Allah. Jika kita menyadari ini, maka seluruh hidup kita selayaknya dijalani dan ditujukan hanya dalam kerangka mencintai Allah, demi mendapatkan tempat yang baik disisi-Nya, dan itulah cinta yang sejati. Bahkan Allah jadikan ini sebagai salah satu ciri dari orang-orang yang beriman, karena cinta adalah termasuk dari ibadah hati yang orang-orang beriman pasti beramal dengannya secara benar. Allah berfir man;
“Dan orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)
“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu.” (Al-Hujurat: 7)
“Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” (Al-Maidah: 54)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya.” (HR Bukhari- Muslim)

Di antara bentuk kecintaan yang benar kepada Allah, adalah d engan mencintai kesenangan dunia itu melalui cara atau dengan hal-hal yang dicintai Allah, bukan yang dimurkai Allah. Allah telah menguji kecintaan hamba-Nya;
“Katakanlah, jika kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.” (Ali ‘Imran: 31)
Tentu saja apa yang disunnahkan Rasulullah itu adalah pasti dicintai Allah, karena beliau 'alaihissholatu wassallam adalah khalilullah, maka itu pantaslah kita mengikuti beliau untuk mendapatkan juga cinta Allah. Sebaliknya, apa-apa yang dilarang oleh Rasulullah adalah hal-hal yang dimurkai Allah, maka kita tinggalkan itu agar kecintaan Allah tidak berubah menjadi kemurkaan-Nya kepada kita.

Ketiga, perhatikanlah kepada siapa cintamu itu.

Jika engkau mencintai kepada yang memiliki kecantikan atau ketampanan saja, atau yang memiliki harta saja, atau pemilik kelebihan lainnya dari dunia ini, sedangkan dia adalah seorang yang penuh kemaksiatan kepada Allah, atau akhlaknya jauh dari tuntunan Nabi, atau jauh dari jalan orang-orang yang dicintai Allah, atau terdapat penyimpangan dalam akidah atau manhajnya, atau menyepelekan syariat-syariat Allah, atau kejelekan-kejelekan lain dari agamanya, maka bagaimanakah bukti kecintaanmu kepada Allah? Dia kurang cintanya kepada Allah dan Allah tidak mencintai apa-apa yang ada pada dirinya, lantas bagaimana bisa engkau bisa mencintainya? kira-kira akan kemanakah tempat kembalinya dia, dan kemanakah tempat kembali dirimu kelak?

Oleh karena itu, ketika engkau mencintai seseorang, maka hendaknya dibangun dalam kerangka kecintaan kepada Allah dan di jalan Allah. Engkau menci ntai dia yang padanya terdapat hal-hal yang dicintai oleh Allah, yaitu kesungguhan mengikuti sunnah Rasulullah. Dan engkau mencintainya karena dia adalah seseorang yang sangat cintanya kepada Allah, berupa ketaatannya kepada syariat Allah. Engkau mencintainya karena kebencian dia pada hal-hal kemaksiatan, karena jauhnya dia dari hal-hal yang dibenci oleh Allah. Sungguh indah rumah tangga suami dan istri yang saling mencintai dengan kecintaan yang demikian. Insya Allah mereka tidak hanya saling mencintai di dunia, tapi akan Allah satukan juga cinta mereka kelak di surga Allah, dan itulah tempat kembali yang terbaik disisi-Nya.

Maka perhatikanlah wahai saudaraku, bagaimanakah cintamu itu hadir?
Wallahu a'lam.

http://www.facebook.com/note.php?note_id=153109197948

dari Group Darussunnah Al-Islamy

Read More......

Pada dirinya yang mulia sumber teladan bagi setiap manusia yang berusaha menggapai ridha-Nya. Terpesona pada kehidupannya yang tak akan pernah habis dan puas di reguk oleh hamba-hambaNya yang merindukan surga-Nya.Sampai masalah kehidupan pribadinya pun begitu indah mempesona. Ia memberi teladan bagi para suami tentang arti cinta dan kesetiaan pada pasangannya yang sesungguhnya. Cinta itu tak kan pernah lekang oleh ruang dan waktu yang di lewati manusia. Walau sang belahan jiwa tercinta telah keharibaan-Nya. Tapi cinta itu tetap membara di dalam dadanya yang suci dan mulia. Bila ia teringat pada sang kekasihnya tercinta yang telah tiada, bibirnya yang mulia tak kan jemu senantiasa menyebut namanya ,memujinya dan memintakan ampunan untuknya. Adakah para suami istri berhasrat untuk meneladani cinta dan kesetiaannya?

Duhai, para suami,…junjunganmu memberikan contoh yang sangat istimewa dan mulia. Tentang kisah cinta dan kesetiaannya yang telah disaksikan oleh istri-istrinya yang lain dan para sahabatnya yang mulia. Generasi seterusnya dan para ulamapun membukukannya dalam tulisan mereka. Sehingga kisah ini bukanlah dongengan ataupun khayalan semata. Akan tetapi ia nyata adanya dan bagi orang yang ingin menirunya tentu pahala menantinya. Tidakkah hatimu tergerak untuk mewujudkannya?

Rasulmu tercinta yang amat sangat mencintai umatnya adalah sangat menghargai jasa istrinya. Bukti penghargaan beliau ini diwujudkan dengan tidak menikahnya beliau dengan wanita lain ketika Khadijah radiyallahu anha masih hidup mendampinginya. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalan Az-Zuhri dari Urwah radiyallahu anhu bahwa Aisyah radiyallahu anha berkata:

“Nabi Shalallahu alaihi wassalam tidak menikahi wanita lain sampai khadijah wafat”1

Hal ini tidak diperselisihkan di kalangan ahli ilmu dan sejarawan yang menunjukkan betapa agungnya kedudukan khadijah radiyallahu anha dalam hati beliau, tidakkah engkau memikirkannya?

Wahai para istri,…mengapa sangat agung kedudukan Khadijah radiyallahu anha dalam hati beliau shalallahu alaihi wassalam?Karena ia telah memberikan pengorbanan dan jasa yang sangat besar dalam kehidupan suaminya tercinta.Ia tak kenal lelah dan letih begitu setia mendampingi Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dalam berdakwah mengenalkan islam pada masyarakat Quraisy waktu itu, sehingga sang suami mendapat berbagai cobaan, ujian dan kesulitan dalam hidupnya. Ia korbankan harta bendanya untuk sang suami tercinta di jalan dakwahnya, memberikan dukungan, ketenangan dan kasih sayang yang melimpah ruah dalam rumah tangganya.Mendidik anak-anak beliau sehingga menjadi penyejuk mata bagi keduanya.Inilah sosok istri teladan yang patut bagi setiap muslimah untuk mencontohnya dan mempersembahkannya untuk suami tercinta sehingga rumah tangga setiap muslim menjadi kokoh dan kuat bangunannya.Wajarlah bila Allah Azza wa jalla memberikan kabar gembira atas jasa-jasa beliau ini berupa istana di surga.Dari Abu Hurairah radiyallahu anhu bahwa suatu ketika malaikat Jibril mendatangi Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dia berkata :

”Wahai Rasulullah, itu Khadijah telah datang membawa makanan atau minuman. Kalau sudah tiba, sampaikan salam kepadanya dari Allah dan dariku, dan berilah kabar gembira bahwa telah di sediakan untuknya sebuah istana di surga yang terbuat dari intan permata dan di istana tersebut tidak ada keributan maupun keletihan”2

Selain itu atas jasa besar Khadijah radiyallahu anha yang sangat tulus dalam memperjuangkan islam akhirnya beliaupun berhak menyandang gelar sebagai wanita yang terbaik pada umat ini. Dari Ali bin Abu Thalib Radiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shalalahu alaihi wassalam bersabda:

“Wanita mereka yang terbaik adalah Maryam (yakni kepada umat yang didalamnya terdapat Maryam)dan wanita umat ini yang terbaik adalah Khadijah “3

Bukankah Allah sangat cepat hisabnya wahai saudariku,…Tidaklah Dia membalas kebaikan melainkan dengan kebaikan bahkan yang berlipat ganda, dan tidakkah kita ingin meraihnya?

Untuk para suami yang berusaha membahagiakan sang istri tercinta,…walau Khadijah radiyallahu anha telah tiada penghormatan beliau padanya tetap seperti di masa hidupnya . Beliau senantiasa memberikan hadiah pada kerabat dan kawan-kawan istrinya sebagai bukti nyata cinta beliau bukan hanya isapan jempol belaka.Sehingga perbuatan beliau ini membuat Aisyah radiyallahu anha sangat cemburu, Aisyah berkata :

“Aku tidak pernah cemburu kepada satupun diantara istri-istri Rasulullah shalallahu alaihi wassalam seperti cemburuku kepada Khadijah. Aku tidak melihatnya, akan tetapi Rasulullah sering menyebut namanya. Terkadang beliau menyembelih kambing, lalu memotong-motongnya, kemudian membagi-bagikannya kepada kawan-kawan Khadijah.Pernah aku berkata pada beliau, ‘Seolah-olah tidak ada perempuan lain di dunia ini selain Khadijah?” Beliau menjawab : “Dia dulu begini dan begitu. Dan darinya pula aku punya anak”4

Tentang perkataan Aisyah”…akan tetapi Rasulullah sering sekali menyebut namanya” Ibnu Hajar berkata bahwan dalam riwayat Abdullah al-Bahiyy dari Aisyah sebagaimana di sebutkan dalam Kitab Ath-Thabrani “beliau menyebut nama Khadijah, tidak bosan-bosan memujinya dan beristighfar untuknya”5

Tentang perkataan Rasulullah Shalalahu alaihi wassalam : “Dia dahulu begini dan begitu” Ibnu Hajar berkata bahwa maksudnya dia adalah wanita mulia, cerdas dan sejenisnya.6

Dalam kitab Al-Musnad Imam Ahmad menyebutkan riwayat Masruq dari Aisyah bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda:

“Dia beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar, membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, membantuku dengan hartanya ketika orang-orang tidak mau memberi bantuan, dan Allah Subhanahu wa ta’ala memberiku anak darinya ketika Dia tidak memberiku anak dari wanita lain”7.

Imam Nawawi berkata : “Hadits-hadits ini merupakan dalil kesetiaan, penjagaan cinta kasih, dan penghormatan kepada pasangan hidupnya baik semasa hidup maupun setelah mati, serta penghormatan kepada para kenalan teman hidup tersebut”.8.

Jasa istrinya selalu beliau kenang sepanjang masa, sepanjang perjalanan hidupnya. Beliau begitu setia, santun, memiliki pergaulan yang baik dengan istrinya, menjaga kehormatan hidup istrinya baik di saat hidup maupun setelah tiada serta memuliakan kerabat dan teman-temannya.Cintanya tak pernah lekang di makan usia bahkan beliau tetap setia mencintainya ,senantiasa menyebut namanya. Betapa indahnya!

Aisyah berkata bahwa Haalah binti Khuwailid saudara perempuan Khadijah meminta izin bertemu Rasulullah Shalallahu alihi wassalam. Saat itu beliau teringat akan cara minta izinnya Khadijah yaitu cara minta ijin Haalah yang mirip dengan Khadijah. Beliaupun terkenang dan terkejut dengan berkata “ Ya, Allah itu Haalah!” Aisyah yang melihat sikap beliau ini menjadi sangat cemburu. Aku berkata pada beliau :”Untuk apa engkau mengingat-ingat perempuan tua yang sudah tanggal giginya (ompong) dan sudah lama mati, padahal Allah telah memberimu ganti yang lebih baik darinya”9

Tidakkah engkau melihat kecemburuan Aisyah? Cemburu pada wanita yang telah tiada? Rasulullah tidak pernah melupakannya, melupakan gerak-gerik istrinya di masa hidupnya semua terekam indah dalam ingatan beliau. Hingga Aisyahpun tak kuasa menahan kecemburuannya.Adakah yang mau merenungkannya?

Pada Rasulullah suri tauladan yang menawan, semoga dengan membaca kisah cinta dan kesetiaannya hatimu akan tertawan. Alangkah indah dan manisnya hidup dalam cinta dan kesetiaan.Sehingga tenanglah hati para istri mengarungi biduk rumah tangga yang penuh onak dan duri-duri kehidupan. Islamlah solusi kehidupan bagi para pasangan. Di dalamnya akan kita dapati jalan keluar yang kita butuhkan. Wahai para suami,…apalagi yang engkau pikirkan? Jika manusia yang paling mulia di atas bumi ini telah mengajarkanmu arti cinta dan kesetiaan. Tidakkah ingin engkau persembahkan kepada pasangan hidupmu yang telah Allah halalkan? Dan tentu para istripun akan menambah pengabdian dan ketaatan mereka padamu karena inilah yang mereka harapkan! Wallahu ‘alam bish-shawwab.

Artikel ini telah di muraja’ah oleh : Ustadz Khalid Samhudi Lc dan Ustadz Muhammad Elvy Syam Lc.



Sumber Rujukan :
1.Fathul Baari Syarah Shahihul Bukhari jilid 7 Kitabul Manaqib Al-Anshariy, Bab Tazwiijun Nabi Shalallahu alaihi wassalam Khadijata wa fadhliha radiyallahu anha, di tahkik oleh Syaikh Abdullah bin Baaz, daarul Fikr, Lebanon.

2.Ringkasan Shahih Muslim, Imam Al-Mundziri ,Bab Keutamaan Khadijah Radiyallahu anha Ummul Mukminin, Istri Nabi Shalallahu alaihi wassalam hal: 976-978, Pustaka Amani,Jakarta
Catatan kaki:

1. Fathul Baari 7:517 [↩]
2. HR. Bukhari no.3820 dan Muslim no.1671 [↩]
3. HR.Bukhari no.3815 Fathul Baari 7/512 dan Muslim no.1670 [↩]
4. HR. Bukhari no 3818 [↩]
5. Fathul Baari :7/516 [↩]
6. Fathul Baari : 7/516 [↩]
7. fathul Baari 7/516 [↩]
8. Fathul Baari, 7/517 [↩]
9. HR.Bukhari no.3821 Muslim no.1674 [↩]

http://jilbab.or.id/archives/654-inilah-cinta-dan-kesetiaan/

Read More......

Segala puji bagi Allah, kita memujinya, memohon pertolongan dan ampunan kepadaNya kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan kejelekan amlan-amalan kita, barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya hidayah.

Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah hamba dan utusan Allah.

“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam.” (QS. Ali ‘Imran : 102)

“Wahai manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya, dan daripadanya keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) NamaNya kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silahturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisa’ :1)

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah dengan perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu sosa-dosamu dan barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzaab : 70-71)

Amma ba’du :

“Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan dalam agama, setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu ditempatnya di Neraka.” (*)

(*) Khutbah ini dinamakan khutbatul haajah, yaitu khutbah pembuka yang biasa dipergunakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam untuk mengawali setiap majelisnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga mengajarkan khutbah ini kepada para Sahabatnya. Khutbah ini diriwayatkan dari enam Sahabat Nabi Shallallahu ‘alahi wa Sallam . Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (I/392-393), Abu Dawud (no. 1097, 2118), an-Nasa-I (III/104-105), at-Tirmidzi (no. 1105), Ibnu Majah (no. 1892), al-Hakim (II/182-183), ath-Thayalisi (no. 336), Abu Ya’la (no. 5211), ad-Darimi (II/142) dan al-Baihaqi (III/214, VII/146), dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini shahih. Wallahu a’lam.

Kau Yang Terindah

Wanita, seolah tak ada habisnya menjadi berita. Walaupun tak bisa dianggap persis, tapi ketersohorannya mampu menjadi topik pembicaraan yang menarik tak ubahnya seperti cinta. Sosoknya menjadi perhatian dimana-mana.

Di sisi lain, wanita dikatakan sebagai satu sumber fitnah. Pandangan mata lelaki yang tak mampu ditundukkan, akan mampu menggetarkan jiwanya. Hatinya menjadi tergoda dan terbuai oleh paras suara sang wanita.

Walaupun begitu, dalam Islam wanita dianggap sebagai tokoh yang sangat berharga. Tak sembarang orang boleh dan pantas mersakan cinta dan kecantikannya. Ia dipelihara dalam naungan Islam demi menjaga harga dirinya. Betapa Islam menjaga citra wanita tak ubahnya mutiara yang paling mulia.

WANITA TERPILIH

Akan tetapi, wanita yang dijaga tersebut hanyalah mereka para wanita pilihan. Sementara mereka yang “MENGOBRAL DIRI” justru dihinakan olehNya. Dan bagi lelaki salih, wanita seperti itu tak ada harganya. Hanya wanita pilihan yang akan diidamkan. Kiranya para wanita itu menyadarinya.

Ada beberapa jawaban dari beberapa ikhwan yang ditanyakan tentang masalah tersebut :

1.Sebut saja ikhwan A (29 tahun), bapak satu anak yang asli Medan ini, memberikan pendapatnya tentang wanita ideal (pilihan). Baginya wanita ideal ialah wanita yang sanggup memenuhi kriteria syariat atau paling tidak mendekati. Dari cara berpakaiaan misalnya. Karena menurutnya pakaian seorang wanita menunjukkan ekspresi jiwanya, dan yang terpenting adalah pemahamannya tentang diri (agama). Ketika ditanya tentang alasannya memilih isterinya, ia mengatakan karena pada waktu itu sang isterilah yang paling mudah untuk dinikahi, kemudahan tidak hanya didapat dari si akhwat tapi juga keluarganya. Ia mengajukan mahar yang tidak memberatkan, dan baginya itu yang penting. Tapi yang terpenting ialah ia ingin memenuhi tuntunan syariat. Dari kebahagiaan pernikahannya, kini ia telah dikaruniai seorang putra yang sangat lucu.

CANTIK PENTING, TAPI…

Kecantikan, banyak dijadikan dasar dan alas an dikemukakan, diantaranya agar mampu menumbuhkan rasa cinta. Sementara dipahami rumah tangga tanpa cinta adalah momok. Dan itu sangat menakutkan.

Walaupun begitu, masih banyak lelaki yang sadar bahwa kecantikan bukanlah satu-satunya tolok ukur sebuah ketenangan atau jaminan kebahagiaan rumah tangga. Sebagian lebih tertarik pada wanita karena kepribadiannya, kadang juga kecerdasannya.

Seorang ikhwan yang sebut saja bernama ikhwan B (24 tahun), yang asli Jawa Tengah ini menuturkan bahwa ia mengajukan beberapa syarat yang lumayan “berat” sebelum menikah dulu. Ada banyak kriteria yang ingin diwujudkan. Biasa, standar seorang lelaki. Seperti cantik, posturnya tinggi dan langsing. Alasannya sama, guna menumbuhkan rasa cinta dalam rumah tangganya.

Akan tetapi, ketika ia dihadapkan pada kenyataan, maka kagetlah ia. Wanita yang dikenal dan diproses untuk menikah dengannya bukan merupakan “INCARANNYA”. Sempat ada bentuk penolakan dalam dirinya. Tapi tidak berlangsung lama, ia mulai berpikir lebih jauh bahwa wanita (akhwat) yang mempunyai pemahaman diri yang akan mampu memberikan ilmu yang terbaik buat anak-anaknya kelak. Hingga kini ia sangat mencintai isterinya.

DEmikian pula ikhwan yang sebut saja bernama C (25 tahun). Lelaki yang masih kuliah di Yogyakarta ini mengatakan, perempuan ideal secara fisik tentu yang enak dipandang. Menurutnya kecantikan itu sifatnya nisbi, tidak bisa dipatok standar yang pasti, karena bisa jadi menurutnya wanita itu menarik tetapi tidak menurut pendapat orang lain, dan begitu pula sebaliknya.
Dia sendiri akan meneliti kemudian memilih wanita yang sesuai kriterianya, seperti pengertian dan humoris. Dia juga tidak melupakan bahwa wanita yang cerdas tentu enak diajak bicara, dan tidak tulalit ketika diajak diskusi. Jika ada yang seperti itu pasti akan membutuhkan sedikit pertimbangan untuk segera dipilih, tuturnya.

Ada pameo (satu pandangan) di masyarakat bahwa “wanita itu dipilih dan bukan memilih”. Namun kenyataannya begitu? Dan selamanya benar? Terus, apakah wanita tidak berhak untuk memilih? Lantas, apakah memang ia harus memilih karena ia telah dipilih? Alasan ini tidak benar seratus persen. Karena pada dasarnya masing-masing pihak berkah memilih dan dipilih. Wanita maupun pria semua punya kesempatan yang sama untul menilai dan dinilai.

Setiap orang berhak memegang pendapat dan bertahan dengan pendapatnya. Setiap lelaki berhak mendapatkan apa yang diinginkan untuk masa depan hidupnya termasuk soal wanita yang diharapkan mampu memberikan inspirasi dan kontribusi dalam kehidupannya. Entah, seperti apa wanita pilihan yang diinginkan menurut versinya, yang jelas Islam telah menyebutkan bagaimana kriteria wanita ideal, sebagaimana diterangkan di dalam hadits-hadits yang masyur.

Maka dari itu, wahai wanita hendaklah kalian berusaha sebaik mungkin untuk menjadi wanita pilihan, tentu bukan sekedar menjadi pilihan lelaki, tapi lebih dari itu, wanita yang dipilih oleh Allah Azza wa Jalla untuk menjadi penghuni surga.Wallahu a’lam.

Sumber :
Majalah Nikah vol.3, no. 12, Maret 2005. Pada Bab Rileks hal 10-11

Ditulis ulang oleh Hanunah Ghaida Zanirah
Tgl 1 November 2009
Semarang




Read More......