أخلو به فأعف عنه تكرما خوف الديانة لست من عشاقه

كالماء في يد صائم يلتذ به ظمأ فيصبر عن لذيذ مذاقه

Aku berdua dengannya, kujaga kehormatan untuk memuliakannya…

Karena takut kerendahan hingga aku tercampakkan dari cintanya…

Bagaikan air di tangan orang yang berpuasa untuk mencairkan dahaga…

Lalu ia bersabar tuk nikmati kesegarannya….


[lihat dalamكتاب الجواب الكافي لمن سأل عن الدواء الشافي /Jawabul Kaafi li-man Sa-a-la ‘anid-dawaa`i asy-Syaafi/, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah : 157 ]


http://alashree.wordpress.com/2010/01/16/hubb-ibn-qayyim/

Read More......

Salah satu Imam Mazhab, Muhammad bin Idris Asy-Syafi’I pernah menuturkan

لو كان حبك صادقا لأطعته … إن المحب لمن يحب مطيع

Jika Cintamu Jujur….

Niscaya ‘kau ‘kan taati dirinya…

Karna sesungguhnya orang yang mencintai itu…

Akan sangat taat kepada orang yang dicintainya...[*]

.
Ya Allah…

Aku senantiasa berucap bahwa ‘ku mencintaiMu…

Aku senantiasa berucap bahwa ‘ku mencintai nabi-Mu…

Namun, betapa sering ‘ku berpaling dari ketaatan padaMu…

Betapa sering ‘ku enggan enggan mengikuti petunjukMu…

Betapa sering kuterjang larangan-Mu…

Dan betapa sering ‘ku remehkan sunnah-sunnah Nabi-Mu…

.

Ya Allah…

Ampunilah diriku…

Sucikanlah aibku…

Dan jangan Kau campakkan diriku dari cinta-Mu…

.

Al-Ashri, 2 Shafar 1431 / 17 Januari 2009

— Pelayan Masjid Al-Ashri —


[*] Syair ini dikutip dari Imam Asy-Syafi’i oleh

(a) محمد بن أبي بكر أيوب الزرعي أبو عبد الله (masyhur dengan nama Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah) dalam kitab روضة المحبين ونزهة المشتاقين, cet. دار الكتب العلمية – بيروت ، 1412 – 1992, hal. 266

(b) : محمد بن أبي بكر أيوب الزرعي أبو عبد الله. Dalam kitab طريق الهجرتين وباب السعادتين, cet III (1414 – 1994) : دار ابن القيم – الدمام , hal. 444.

(c) anonim, dalam kitab مجمع الحكم و الأمثال, tidak tertulis halamannya.


http://alashree.wordpress.com/2010/01/17/puisi-syafii/

Read More......

فما في الأرض أشقى من محب … وإن وجد الهوى حلو المذاق

تراه باكيا في كل حين … مخافة فرقة أو لإشتياق

فيبكي إن ناؤا شوقا إليهم … ويبكي إن دنو خوف الفراق

فتسخن عينه عند الفراق … وتسخن عينه عند التلاق والعشق وإن استلذ به صاحبه فهو من أعظم عذاب القلب


Tidak ada di dunia ini yang lebih sengsara daripada seorang pencinta…
Meskipun ia merasakan manisnya cinta…
Kamu lihat dia menangis di setiap waktu…
Karena takut berpisah atau karena rindu…

Ia menangis karena rindu akan jauhnya sang kekasih…
Namun, bila kekasihnya dekat…
Ia menangis karena takut berpisah…

Matanya selalu menghangat ketika terjadi perpisahan…
Matanya pun berkaca-kaca ketika pertemuan itu tiba…
Pelakunya memang merasakan kenikmatan…
Namun, sebenarnya…
Kasmaran itu merupakan siksa yang paling besar di hati…


[ lihat dalam: كتاب الجواب الكافي لمن سأل عن الدواء الشافي , karya محمد بن أبي بكر أيوب الزرعي أبو عبد الله (masyhur dengan nama Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah), hal. 151 ]

Hendaknya kita semua bisa mengambil pelajaran.

—akhukum—

http://alashree.wordpress.com/2010/01/19/ilmu-vs-isyq/

Read More......

(Renungan untuk Ikhwan-Akhwat Pengguna Facebook: bag. II)


Dalam kitab Dzammul Hawa (ذم الهوى), Abul Faraj Al-Jauzy rahimahullah mengatakan, “Ibni Abi Manshur (ابن أبي منصور ) telah memberiku kabar, beliau berkata, “Al-Mubarak bin Abdil Jabbar (المبارك بن عبد الجبار ) telah memberiku kabar, beliau berkata, “Abu Ishaq Al-Barmaki (أبو إسحاق البرمكي ) telah memberiku kabar, beliau berkata, “Abul Husain Az-Zainabi (أبو الحسين الزينبي ) berkata, “Muhammad bin Khalaf (محمد بن خلف ) memberitahukan kepadaku bahwa sebagian rawi dari Al-Madaini (المدائني) menyampaikan kepadaku dari beberapa gurunya bahwa,

طلب داود بن عبد الله بعض أمراء البصرة فلجأ إلى رجل من اصحابه وكان منزله أقصى البصرة. وكان الرجل غيورا فأنزله منزلة وكانت له امراة يقال لها زرقاء وكانت جميلة فخرج الرجل في حاجة وأوصاها أن تلطفه وتخدمه فلما قدم الرجل قال له كيف رايت الزرقاء وكيف كان لطفها بك قال من الزرقاء قال أم منزلك قال ما أدري أزرقاء هي أم كحلاء فأتاها زوجها فتناولها وقال أوصيتك بداود أن تلطفيه وتخدميه فلم تفعلي قالت أوصيتني برجل أعمى والله ما رفع طرفه إلي

(#) “Seorang pejabat Bashrah mencari Daud bin ‘Abdillah. Maka, dia pergi kepada seorang shahabatnya yang tempat tinggalnya di ujung Bashrah. Ia seorang yang pencemburu. Maka, ia mendudukkan tamunya sesuai kedudukannya. Ia punya seorang istri cantik yang dipanggil Zarqa’. Orang ini keluar untuk suatu keperluan, dan memerintah istrinya supaya bersikap ramah dan berkhidmat kepada tamunya.

(*) : Ketika orang itu datang, ia bertanya kepada Daud, “Bagaimana kamu menilai Zarqa’ dan bagaimana keramahannya kepadamu?”

(+) : Daud balik bertanya, “Siapakah Zarqa’?”

(*) : Ia menjawab, “Nyonya rumah yang kamu singgahi ini!”

(+) : Ia mengatakan, “Aku tidak mengetahui apakah Zarqa’ ataukah Kahla.”

Maka, orang itu pun mendatangi Zarqa’ lalu membentaknya dan mengatakan,

(*) “Aku berpesan kepadamu supaya bersikap ramah kepada Daud dan berkhidmat kepadanya, tetapi kamu tidak melakukannya.”

(-) Zarqa’ menjawab

Kamu memerintahku supaya berkhidmat kepada orang yang buta. Demi Allah, ia tidak mengangkat pandangannya kepadaku.

­

—selesai penukilan dari kitab ذم الهوى, hal 89 —

Faidah:

  • Demikianlah pembaca mulia, sekelumit kisah kehidupan para pendahulu kita, salafusshalih, yang senantiasa menjaga diri mereka dari perbuatan maksiat, sekecil apapun itu (baca: hanya melihat Zarqa’, wanita bukan mahramnya) meskipun mereka memiliki kesempatan untuk melakukannya, dan tidak ada orang yang melihatnya.
  • Melihat wanita bukan mahram, termasuk perbuatan yang terlarang dalan Islam. Namun, ini menjadi hal yang dianggap remeh di masa kini. Wal-‘iyadzu billah.

Maka, dengan menukil satu kisah salaf di atas, hendaknya kita bisa merenungkan. Sudahkah kita buat mata ini tidak berkhianat di saat kesempatan itu ada?

Renungkanlah wahai facebookers…

.

—bersambung—

.

Al-Ashri, 6 Shafar 1431 / 21 januari 2010

Abu Muhammad Al-’Ashri

================================

Lihat Artikel Terkait:

Akhi, Apa Susahnya kau Hapus Akhwat dari Friendlist Facebookmu? [ Renungan untuk Ikhwan-Akhwat Pengguna Facebook Bag: I ]



http://alashree.wordpress.com/2010/01/21/zarqa-kahla/

Read More......

[artikel facebook, yang penulis posting di (Forum Diskusi) Belajar Bahasa Arab dan Diniyyah, pada 15 Juli 2009, pukul 21:48]

taman

Salafusshalih (orang-orang terdahulu dari kalangan umat Islam yang shalih) memiliki segudang akhlak mulia yang “barangkali” sudah sangat jarang ditemui di masa sekarang ini. Maka, dalam risalah ini, saya coba susun beberapa akhlak mulia mereka agar bisa menjadi perenungan bagi kita semua. Sudahkah kita memiliki akhlak mereka?

I. Salaf tidak Mencari-Cari Keburukan Muslim yang lain…

Seorang salaf, yang bernama Sahal ibn ‘Abdillah berkata, “Jangan suka mencari-cari kekurangan orang lain dankeburukan akhlaknya. Akan tetapi, cari dan telitilah bagaimana kondisi Anda di dalam akhlak Islam, sehingga Anda selamat dan bisa menghormati kedudukannya di dalam diri Anda dan di sisi Anda” [ حلية الأولياء و طبقات الأصفياء, IV/279 ].

II. Salaf Senantiasa Berwajah Ceria terhadap Orang Lain

Urwah bin Zubair, murid shahabat Nabi, berkata, “Tertulis di dalam hikmah, “Ucapkanlah kata-kata yang baik dan tampilkanlah wajah yang cerah. Niscaya Anda lebih dicintai orang daripada mereka yang memberikan banyak hadiah.” [ حلية الأولياء و طبقات الأصفياء, II/178 ]


II. Salaf, Marah Besar Bila Melihat Islam Dilecehkan

Abu Salamah ibn Abdurrahman ibn Auf berkata, “Di antara shahabat-shahabat Nabi صلى الله عليه و سلم, ada seseorang yang apabila melihat AGAMANYA HENDAK DILECEHKAN, bola matanya langsung terlihat berputar-putar di wajahnya seperti orang gila (karena sangat marangnya-ed)” [ حلية الأولياء و طبقات الأصفياء, IX/194 ]

III. Salaf Gembira Apabla Kebenaran Justru Muncul dari Lawan Debatnya

Hatim Al-Aslam berkata, “Aku mempunyai tiga pekerti yang membuatku bisa mengalahkan lawan bicaraku.” Apa itu?, tanya mereka. Ia menjawab, (1) Aku gembira jika lawan bicaraku benar. (2) Aku sedih jika ia salah. (3) Dan aku selalu menjaga diriku agar tidak membodohinya.”
Notes: Ketika hal ini didengar Imam Ahmad ibn Hambal, ia berkata, Subhanallah, betapa cedasnya ia.” [ lihat: حلية الأولياء و طبقات الأصفياء, VII/82 ]

IV. Salaf Adalah Manusia yang Paling Sayang Kepada Ahli Maksiat, dengan Tidak Membiarkannya Terus dalam Kemaksiatannya.

Salaf bernama Mughirah berkata, “Ada seorang pria baik, tetapi kemudian melakukan perbuatan dosa. Hal ini kemudian diketahui Ibrahim An-Nakha’i, salah seorang ulama besar salafi. Lalu, Ibrahim berkata, “BANTULAH DIA, DAN NASIHATILAH DIA! JANGAN MENINGGALKANNYA”
[ حلية الأولياء و طبقات الأصفياء, IV/233 ]


V. Salaf memberi Nasehat bahwa JURUS TERAKHIR SETAN ADALAH WANITA

Tabi’in senior Sa’id bin Musayyib berkata, “Setiap kali setan merasa frustasi terhadap sesuatu (menggoda manusia-ed), IA PASTI MENDATANGI KORBANNYA MELALUI WANITA.
[ حلية الأولياء و طبقات الأصفياء, II/166 ]


VI. Salaf Mendoakan Kebaikan terhadap ORANG YANG MENDZALIMINYA

Al-’Alaa bin Musayyib berkata, “Ar-Rabi’ bin Khutsaim pernah Menjadi korban pencurian kuda, lalu warga pengajiannya berkata, “KUTUKLAH DIA” Ia menjawab, “JUSTRU AKU BERDOA UNTUKNYA: “YA الله JIKA DIA KAYA, TERIMALAH DENGAN HATINYA. JIKA DIA FAKIR, BERILAH DIA KECUKUPAN.”


VII. Salaf Membenci Popularitas dan Tidak Suka Terkenal di Mata Manusia

Bisyr ibn Harits berkata, “Aku tidak mengetahui orang yang ingin terkenal, melainkan agamanya hilang DAN AIBNYA TERBONGKAR, ia juga berkata, “Tiadk akan menemukan manisnya akhirat bagi orang yang INGIN DIKENAL ORANG BANYAK.
[ حلية الأولياء و طبقات الأصفياء, VIII/343 ]

——–bersambung——–

-
[ Lihat pula artikel ini (dan artikel-artikel yang lain) di http://www.facebook.com/pages/-Forum-Diskusi-Belajar-Bahasa-Arab-dan-Diniyyah-/92408561315 ]

Al-’Ashri, 23/07/1430H, pukul 21:44
Saudaramu, Abu Muhammad Al-’Ashri
عفا الله عنه (Mudah-mudahan الله memaafkannya)

http://alashree.wordpress.com/2009/08/02/jika-kita-mengaku-salafi-sudahkah-kita-memiliki-sifat-sifat-salaf-berikut-ini-bag-i/

Read More......

Abu Muhammad Al-’Ashri

[catatan facebook di-post pada 29 Juni 2009, 00:53)


lilin 2

Penulis teringat beberapa waktu yang lampau, ketika penulis bersama ikhwah yang lain mengikuti kajian salafi di salah satu ma’had. Ketika kajian berlangsung, ada salah satu hadirin yang “tidak kuat” mendengarkan kajian, terkantuk-kantuk bahkan terlihat tertidur di saat ikhwan-ikhwan yang lain menyimak apa yang dituturkan ustadz.

Setelah kajian selesai, tiba-tiba ikhwan yang “tidur” tadi terbangun. Serta merta, ia menjadi ORANG PERTAMA yang bertanya kepada Ustadz dengan pertanyaan yang tidak berkaitan dengan materi kajian, tetapi malah bertanya, “Ustadz, bagaimana tentang Ustadz X, bagaimana tentang Ustadz Y”, dengan intonasi yang menimbulkan pendengarnya pasti akan memberi penilaian negatif terhadap Ustadz yang disebut “si tukang tidur tadi”.

Mendengar pertanyaan bernada adu domba tersebut, sang Ustadz yang ditanya pun kaget dan meminta ikhwan tersebut untuk menanyakan hal yang ditanya kepada Ustadz yang lain. Alhamdulillah.

Akan tetapi shahabatku sekalian. Hal ini tidak jarang kali kita dapati pula di berbagai majelis kajian, di tengah-tengah kita. Dan tidak jarang pula ada sebagian thalabul ilmi atau bahkan ustadz yang terpengaruh model pertanyaan seperti ini. Akhirnya, perpecahan antar ikhwan atau antar ustadz pun terjadi. Padahal, terkadang perpecahan itu terjadi bukan karena keinginan antar ustadz yang akhirnya berseteru itu, tetapi KARENA ADANYA PERTANYAAN TIDAK BERMUTU DARI MURID-MURID YANG TIDAK BERMUTU…!

Bandingkan Kita dengan Salaf (orang-Orang Generasi Awal Islam Muncul)!

Nah, kalau kita mengaku sebagai salafi (pengikut salaf), cermati penggalam kisah salaf berikut ini. Bandingkan, bagaimana mereka menanggapi pertanyaan yang bernada ADU DOMBA.

Salah seorang salaf bernama Ambar berkata,

“Aku pernah duduk bersama Wahab bin Munabbih (ulama salaf yang sezaman dengan khalifah bani Umayyah, Umar bin Abdul Aziz), tiba-tiba ia didatangi seseorang dan berkata, “Sungguh aku telah berpapasan dengan si Fulan, DAN DIA MEMAKI ANDA”.

Wahab Langsung NAIK PITAM dan berkata, “SETAN TIDAK MENEMUKAN UTUSAN SELAIN KAMU”!!!

Sebelum Ambar beranjak dari sisinya (Wahab), ternyata ORANG YANG MEMAKI itu datang dan mengucapkan salam kepada Wahab.

Wahab menjawabnya, mengulurkan tangannya, dan menjabat tangannya, lalu memeberinya tempat duduk di sisinya.”

(Disebutkan Abu Nu’aim Al-Asfahani dalam Hilyatul Auliya’, juz IV, hal. 71)

Faidah:

Nah, camkanlah akhlak salaf di atas. Sebagai seorang muslim, dalam melihat muslim yang lain, kita hanya diperintahkan MENILAI DARI DZAHIRNYA SAJA. Kita tidak diperintahkan untuk mengorek-orek batin seseorang. Hukum asal seorang muslim adalah berbaik sangka pada muslim yang lain. Adapun batin manusia, akan dibongkar di akhirat nanti.

Maka, jika kita melihat DZAHIR seseorang itu baik, katankanlah orang tersebut itu baik, kecuali jika kesalahannya terlihat secara DZAHIR pula, maka katakanlah dia salah.

Read More......

A. Pengantar

Pembaca mulia, kita semua tentu ingin masuk surga. Kita pun menyadari bahwa jalan satu-satunya menuju surga adalah dengan mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Untuk bisa melaksanakan itu, tentu kita harus mengikuti utusan Allah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang diberi wahyu untuk menyampaikan syariat Allah ta’ala. Setalah itu, kita pun harus memahami petunjuk Nabi sebagaimana yang dipahami para shahabat beliau, karena merekalah manusia mulia yang hidup menyertai Nabi, dan langsung mendapat bimbingan dan pengarahan dari beliau.

Nah, pertanyaan yang muncul adalah bagaiamana kita bisa memahami petunjuk Nabi dan para shahabatnya, padahal kita di zaman yang lebih dari seribu tahun dari masa mereka?

Untuk menjawab hal itu, tentu kita harus mengikuti siapa saja di masa ini yang berpegang teguh pada ajaran Nabi dan para shahabatnya karena ajaran Islam ini berantai. Artinya, Islam datang kepada kita melalui jalur periwayatan, bukan dari mimpi, atau wangsit hasil perenungan manusia. Oleh karena itu, untuk menjaga kemurnian agama ini, para ulama terdahulu (salaf) benar-benar membuat sarat yang ketat, agar tidak semua orang yang berbicara tentang agama dapat diambil ilmunya.

Maka, kalau kita memabaca sejarah kehidupan salaf, niscaya kita dapati mereka adalah manusia yang sangat bersemangat terhadap ilmu, menjaga ilmunya, mengamalkan ilmunya, dan wara’ dengan ilmunya tersebut. Inilah manusia yang layak dijadikan “guru ngaji”.

Adapun sekarang, kita dapati kaum muslimin demikian mudah mengangkat orang menjadi “guru ngaji”. Maka, tidak sedikit kita temui ada manusia yang tidak mengetahui Al-Qur’an dan Hadits, tetapi ia dijadikan sebagai da’i hanya karena pintar berorasi. Di sisi lain, kita temui pula sebagian da’i yang sudah mengenal ilmu syar’i, tetapi ia tidak menghiasinya dengan akhlak Islami. Adapula orang-orang yang mengaku salafi, tetapi tidak berakhlak sebagaimana akhlak salaf.

Nah, point terakhir inilah yang sebenarnya menjadi titik pembahasan penyusun. Dengan dahsyatnya fitnah dakwah yang kita rasakan sekarang ini, tidak sedikit para penuntut ilmu salafi (orang yang senantiasa ingin meneladani salaf) menjadi bingung. Saya harus ngaji kepada siapa? Banyak orang mengaku salafi. Akan tetapi, mengapa mereka bermusuhan?

Pembaca mulia, di sisi lain, kini ada pula pihak yang ingin merusak persatuan ikhwah salafiyyin (yang mencintai dan bersemangat meneladani salaf), dengan memunculkan istilah-istilah baru untuk memecah belah persaudaraan, seperti salafi haraki, salafi yamani, salafi halabi, salafi muqbili, atau salafi rabi’i. Anehnya, pihak yang memunculkan istilah ini pun ngaku-ngaku dakwah salafiyyah adalah dakwah yang bijak.

Maka, semua hal di atas semakin menguatkan pertanyaan banyak kaum muslimin:

Kita mau mengambil ilmu kepada siapa?

Kepada ustadz siapa kita harus ngaji?

Mana yang benar-benar meneladani salaf?

Benarkah ustadz fulan membenci manhaj salaf?

Siapakah ustadz yang benar-benar menjaga kemurnia agama ini?

Siapa…? Siapa…?

Karena saya ingin masuk surga……

Berdasarkan hal di atas, muncullah inspirasi untuk menulis risalah ini. Maka, dengan ini, penyusun berupaya mengumpulkan sebagian akhlak guru ngaji di masa salaf, agar pembaca bisa membuat kesimpulan, “Sudahkah guru ngaji saya meneladani salaf?”

Ini penting untuk kita ketahui karena…

  • Tidak semua orang yang menamakan dirinya salafi, belum tentu ia benar-benar mengikuti salaf. …
  • Belum tentu orang yang sudah lama ngaji dengan ulama atau syaikh salafi, ia berilmu dan berakhlak sebagaimana gurunya….

Maka, penyusun pun berharap agar dengan ditulisnya risalah ini, sekaligus bisa menjadi nasehat bagi setiap da’i agar senantiasa menghiasi dirinya dengan sikap wara’, karena hal inilah yang akan mempermudah dirinya dalam mendakwahkan Islam dan indahnya manhaj salaf. Sesungguhnya mendakwahkan al-haq sudah berat, dan jangan diperberat lagi dengan buruknya akhlak kita.

  • Abu Nua’aim Ahmad bin Abdillah Al-Ashfahani (أبو نعيم أحمد بن عبد الله الأصبهاني ) berkata, “Muhammad bin Ali (محمد بن علي ) menyampaikan kepadaku bahwa “Ahmad bin Muhammad bin Al-Hasan Adh-Dhirab (احمد بن محمد بن الحسن الضراب ) menyampaikan kepadaku bahwa “Ali bin Muhammad Al-Khulwani (علي بن محمد الحلواني )menyampaikan kepadaku bahwa “Ahmad bin Basyar bin Bakr (احمد بن بشر بن بكر ) menyampaikan kepadaku bahwa “Ayahku menyampaikan kepadaku dari Al-Auza’i (الاوزاعي ) dari Az-Zuhri (الزهري ), “Beliau berkata,

كنا نأتي العالم فما نتعلم من أدبه أحب إلينا من علمه

“Kami pernah mendatangi seorang ahli ilmu. Kemudian, kami lebih suka mempelajari etikanya daripada ilmunya.”

(حلية الأولياء وطبقات الأصفياء , III/362).

B. Tinjauan Pustaka

Semua nukilan salaf dalam risalah ini, dinukil dari kitab حلية الأولياء وطبقات الأصفياء, karya أبو نعيم أحمد بن عبد الله الأصبهاني, cetakan IV, tahun 1405H, terbitan دار الكتاب العربي – بيروت. Kitab cetakan ini dapat disearch di software المكتبة الشاملة. Penomoran jilid dan halaman dalam المكتبة الشاملة sesuai dengan kitab aslinya.

C. Alasan Pemilihan Kitab Rujukan

Berbicara mengenai Kitab حلية الأولياء وطبقات الأصفياء (kitab ini ada 10 jilid), cukuplah penyusun nukilkan perkataan Ibnu Taimiyyah rahimahullah tentangnya. Beliau pernah ditanya tentang seorang yang mau mendengar kitab-kitab hadits dan tafsir, tetapi ketika kitab Al-Hilyah dibacakan, ia tidak mau mendengarnya. Maka, Ibnu Taimiyyah rahimahullah pun mengatakan bahwa Abu Nu’aim rahimahullah adalah ,

من أكبر حفاظ الحديث ومن أكثرهم تصنيفات وممن إنتفع الناس بتصانيفه وهو أجل من أن يقال له ثقة فإن درجته فوق ذلك وكتابه كتاب الحلية من أجود الكتب المصنفة فى أخبار الزهاد

Salah satu penghafal hadits terkemuka, penulis buku terbanyak, dan karya tulisannya dimanfaatkan banyak orang. Dia lebih mulia dari sebutan tsiqah (terpercaya) karena kualitasnya lebih tinggi dari gelar itu. Adapun kitabnya, Kitab “Al-Hilyah”, adalah salah satu kitab terbaik yang mengangkat kisah-kisah orang zuhud.

(lihat perkataan Ibnu Taimiyyah ini dalam مجموع الفتاوى, jilid 18 dalam software المكتبة الشاملة, halaman 71-72).

Meskipun demikian tinggi pujian Ibnu Taimiyyah terhadap Abu Nu’aim beserta kitab Al-Hilyah, alhamdulillah takdir Allah tetap berlaku bahwa tidak ada kitab yang paling sempurna selain kitabullah (Al-Qur’an). Oleh karena itu, di tempat lain Ibnu Taimiyyah juga memberi catatan bahwa dalam Al-Hilyah juga terdapat hadits-hadits dan riwayat lemah (penilaian Ibnu Taimiyyah ini juga masih di مجموع الفتاوى, jilid 18, halaman 71-72).

D. Sekarang, Mari Kita Lihat “Guru Ngaji” di Masa Salafusshalih

I. Tidak Semua yang Pinter itu adalah Ulama yang Hakiki

Abu Muslim Al-Khaulani rahimahullah berkata,

العلماء ثلاثة رجل عاش بعلمه وعاش الناس معه ورجل عاش بعلمه ولم يعش الناس معه ورجل عاش الناس بعلمه وأهلك نفسه أسند عن معاذ بن جبل وعبادة بن الصامت رضي الله تعالى عنهما

“Ulama ada tiga macam: (1) ulama yang hidup dengan ilmunya dan manusia pun hidup bersamanya, (2) ulama yang hidup dengan ilmunya, tetapi manusia tidak hidup bersamanya, (3) dan ulama yang manusia hidup dengan ilmunya, sementara ia sendiri binasa.

(حلية الأولياء وطبقات الأصفياء 5/121)

Na’am, benarlah Abu Muslim Al-Khaulani rahimahullah. Betapa banyak sekarang ini orang yang memang sudah memiliki ilmu, tetapi ia memanfaatkan ilmunya itu untuk menggiring manusia ke dalam hawa nafsu. Tidak jarang pula kita dapati orang berilmu yang malah terjun ke politik praktis sehingga ilmu yang telah ia timba selama bertahun-tahun seolah tak berbekas kecuali ia gunakan ilmunya itu untuk menarik massa. Tidak sedikit pula kita dapati sebagian da’i yang membangga-banggakan ijazah kuliahnya di negeri Arab, tetapi ia malah memalingkan para pemuda dari ilmu-ilmu syar’i menuju ke arah pembicaraan masalah politik kontemporer, yang sering mereka namakan dengan fiqhul waqi’.

.

II. Jika Guru Ngajimu itu Ahli Fiqh, Ia akan Zuhud kepada Dunia

Imran Al-Qushair rahimahullah bercerita ketika ia kepada Al-Hasan bahwa fuqaha (ahli fiqh) itu adalah orang yang bisa mengatakan demikian dan demikian, Al-Hasan pun balik mengatakan,

وهل رأيت فقيها بعينك إنما الفقيه الزاهد في الدنيا البصير بدينه المداوم على عبادة ربه عز وجل

Pernahkah Anda melihat seorang ahli fiqhi yang sesungguhnya? Ahli fiqh yang sebenarnya ialah orang yang zuhud terhadap dunia, waspada terhadap dosanya, dan senantiasa beribadah kepada Rabb-nya

(حلية الأولياء وطبقات الأصفياء II/147)

Catatan Penting: Sekarang ini, banyak sekali da’i yang diklaim menguasai ilmu fiqh karena pandainya mengutip ayat Al-Qur’an dan banyaknya hadits yang ia hafal. Namun, sangat disayangkan da’i tersebut dengan ilmu yang dimilikinya itu, terkadang justru menjustifikasi hal-hal yang bertentangan dengan syariat. Betapa banyak kita jumpai banyak da’i zaman sekarang yang menghalalkan musik, menghalalkan bunga bank, menghalalkan demonstrasi, menghalalkan mencela pemerintah di muka umum, dan berbagai hal bathil lainnya. Wal’iyadzu billah.

.

III. Dia Tidak Suka Popularitas

Ibnu Muhallil rahimahullah berkata, Sufyan pernah bertanya kepadaku, “Di mana keselamatan itu?” Aku menjawab, “Ketika Anda tidak dikenal.” Ia pun berkata, “Ini tidak mungkin terjadi. Akan tetapi, keselamatan itu ada ketika Anda tidak suka dikenal.”

(حلية الأولياء وطبقات الأصفياء VII/13)

.

IV. Dia Tidak Suka Berdebat dan Membanggakan Pendapatnya Sendiri

Al-Auza’i rahimahullah mendengar Bilal bin Sa’ad berkata,

اذا رأيت الرجل لجوجا مماريا معجبا برأيه فقد تمت خسارته

Jika Anda melihat seseorang yang keras kepala, suka berdebat, dan bangga pada pendapatnya sendiri, sempurnalah kerugiannya.

(حلية الأولياء وطبقات الأصفياء V/228).

.

V. Guru Ngaji di Masa Salaf Memiliki “Aura Ilmu”.

Asy-Sya’bi rahimahullah pernah diberitahu bahwa si Fulan adalah seorang ulama. Lalu ia berkata,

ما رأيت عليه بهاء العلم قيل وما بهاؤه قال السكينة إذا علم لا يعنف واذا علم لا يأنف

Aku tidak melihat aura ilmu pada dirinya.” Seseorang bertanya padanya, “Apa auranya?” Ia menjawab, “Ketenangan. Jika ia berilmu, ia tidak keras. Dan jika ia berilmu, ia tidak sombong.

(حلية الأولياء وطبقات الأصفياء 4/323)

.

VI. Dia bisa menggabungkan antara wara’, ibadah, dan pemahaman fiqh

Ibnul Mubarak rahimahullah berkata,

تعجبني مجالس سفيان الثوري كنت إذا شئت رأيته في الورع وإذا شئت رأيته مصليا وإذا شئت رأيته غائصا في الفقه

Aku sangat mengagumi forum-forum Sufyan Ats-Tsauri. Anda bisa melihatnya dalam hal wara’. Anda juga bisa melihatnya sebagai orang yang ahli shalat. Anda pun bisa melihatnya menyelam ke dalam ahli fiqh.

(حلية الأولياء وطبقات الأصفياء , 6/358)

.

VII. Dia Pandai Menjaga Lisan dan Tidak Suka Menggunjing Manusia

Hazm rahimahullah berkata,

كان ميمون بن سياه لا يغتاب ولا يدع أحدا يغتاب عنده ينهاه فان انتهى وإلا قام عنه

Maimun bin Siyah tidak mau menggunjing dan tidak membiarkan siapapun menggunjing di sisinya. Ia pasti mencegahnya. Jika tidak berhasil, ia kan meninggalkannya.”

(حلية الأولياء وطبقات الأصفياء, III/107)

Abu Muslim Al-Khaulani rahimahullah berkata,

دخلت مسجد حمص فإذا فيه نحوا من ثلاثين كهلا من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم وإذا فيهم شاب أكحل العينين براق الثنايا لا يتكلم ساكت فاذا امترى القوم في شيء أقبلوا عليه فسألوه فقلت لجليس لي من هذا فقال معاذ بن جبل رضي الله تعالى عنه فوقع في نفسي حبه فكنت معهم حتى تفرقوا

Aku pernah masuk masjid Himsha dan ternyata sudah ada tiga puluhan shahabat Nabi shalllallahu ‘alaihi wa sallam yang sudah senior. Namun, di antara mereka ada seorang pemuda yang matanya bercelak, lekuk-lekuknya bersinar. Ia tidak berbicara dan diam saja. Ketika orang-orang itu memperdebatkan sesuatu, mereka semua menghadap ke arahnya dan bertanya kepadanya. “Siapa dia?” tanyaku kepada orang yang duduk di sebelahku. Ia menjawab, “Mu’adz bin Jabal.” Aku langsung jatu hati kepadanya. Aku tetap bersamanya sampai mereka bubar.

(حلية الأولياء وطبقات الأصفياء, I/230).

.

VIII. Namun, ketika melihat Kemungkaran, Ia Akan bersegera Bersuara untuk Mencegahnya

Dalam kondisi tertentu, berbicara lebih baik daripada diam. Ibnu Abi Najih rahimahullah meriwayatkan dari ayahnya bahwa Thawus rahimahullah pernah berkata kepadanya,

أي أبا نجيح من قال واتقي الله خير ممن صمت واتقى الله

Hai Abu Najih, orang yang berbicara dan bertaqwa kepada Allah lebih baik daripada orang yang diam dan bertaqwa kepada Allah.”

(حلية الأولياء وطبقات الأصفياء, IV/5)

Maka, meskipun salafusshalih adalah manusia yang paling tidak suka banyak berbicara, mereka akan sangat lantang ketika aturan-aturan Allah dilanggar atau melihat bid’ah muncul di tengah masyarakat. Dalam kondisi inilah mereka paling terdepan dalam amar ma’ruf nahi mungkar, dan tidak takut terhadap resiko yang harus dihadapi.

Bisyr bin Harits rahimahullah berkata,

لا ينبغي أن يأمر بالمعروف وينهى عن المنكر إلا من يصبر على الأذى

Amar ma’ruf nahi mungkar hanya layak dilakukan oleh orang yang siap menghadapi resiko.

(حلية الأولياء وطبقات الأصفياء, VIII/337)

Oleh karena itu, tidak jarang kita jumpai kisah salaf yang tetap tegar ketika amar ma’ruf nahi mungkar, meskipun dipukuli massa. Hal ini seperti yang terjadi pada Kurz bin Wabrah Al-Haritsi (كرز بن وبرة الحارثي ) rahimahullah. Diceritakan bahwa

كان كرز اذا خرج أمر بالمعروف فيضربونه حتى يغشى عليه

Apabila Kurz keluar untuk melakukan amar ma’ruf mereka memukulinya sampai pingsan.

(حلية الأولياء وطبقات الأصفياء, V/80)

.

IX. Dia akan gentle untuk mengatakan Tidak Tahu jika memang tidak tahu ilmunya.

Sufyan bin Uyainah rahimahullah berkata,

إذا ترك العالم لا أدري أصيبت مقاتله

Jika seorang ulama tidak mau mengucapkan kata “Aku Tidak Tahu”, berarti dia tertimpa serangan pembunuh”.

(حلية الأولياء وطبقات الأصفياء, VII/274)

Ibnu Mahdi rahimahullah berkata

سأل رجل مالكا عن مسألة فقال لا أحسنها فقال الرجل إني ضربت إليك من كذا وكذا لأسألك عنها فقال له مالك فإذا رجعت إلى مكانك وموضعك فأخبرهم أني قد قلت لك إني لا أحسنها

(*) Ada seseorang bertanya kepada Malik bin Anas tentang suatu masalah.

(+) Lalu dijawab, “Aku tidak menguasainya”.

(-) Orang tersebut berkata, “Aku datang ke tempat Anda dari tempat yang jauh, hanya untuk menanyakan suatu masalah ini kepada Anda.”

(+) Lalu, Imam Malik membalas,

“Jika Anda kembali ke tempat Anda, sampaikanlah kepada mereka bahwa aku berkata kepada Anda bahwa aku tidak menguasainya.

(حلية الأولياء وطبقات الأصفياء ,VI/323)

.

X. Dia Tidak Membanggakan Ilmunya

Para ulama di masa salaf, sangat tawadhu’ meskipun mereka menguasai berbagai bidang ilmu. Membanggakan ilmu, bukanlah sifat dan akhlak mereka. Oleh karena itu, Ka’bul Ahbar rahimahullah berkata,

Tidak lama lagi kalian akan melihat orang-orang bodoh yang membanggakan ilmu dan berubah sikap seperti wanita yang berubah sikap di depan laki-laki.”

(حلية الأولياء وطبقات الأصفياء ,V/376)

Masruq rahimahullah juga berkata,

Seseorang cukup berilmu bila ia takut kepada Allah. Dan seseorang cukup bodoh bila ia kagum pada amalannya sendiri.

(حلية الأولياء وطبقات الأصفياء , II/95).

.

XI. Jangan Ambil Ilmu dari Guru Ngaji yang Tidak Hati-Hati dalam Ilmunya

Shalih bin Mahran rahimahullah berkata,

Setiap tukang tidak bisa mengerjakan pekerjaannya kecuali dengan alat. Dan alatnya Islam adalah ilmu. Jika Anda melihat orang berilmu yang tidak hati-hati terhadapa ilmunya, Anda tidak boleh mengambil ilmu darinya.

(حلية الأولياء وطبقات الأصفياء , X/391).

.

XII. Ambillah Ilmu dari Guru Ngaji yang Mengamalkan ilmunya

Mughirah rahimahullah meriwayatkan bahwa Ibrahim rahimahullah berkata,

كانوا اذا أتوا الرجل ليأخذوا عنه نظروا الى صلاته وإلى هديه وإلى سمته

Dulu, apabila mereka mendatangi seseorang untuk mengambil sesuatu (ilmu) darinya, mereka akan melihat shalatnya, tingkah lakunya, dan tindak tanduknya.

(حلية الأولياء وطبقات الأصفياء , IV/225).

Perkataan Mughirah rahimahullah di atas mirip dengan perkataan Abul Aliyah rahimahullah,

أرحل إلى الرجل مسيرة أيام فأول ما أتفقد من أمره صلاته فإن وجدته يقيمها ويتمها أقمت وسمعت منه وإن وجدته يضيعها رجعت ولم أسمع منه وقلت هو لغير الصلاة أضيع

Aku pergi ke rumah seseorang dengan menempuh perjalanan selama beberapa hari. Hal pertama yang aku perhatikan darinya adalah shalatnya. Jika ia melaksanakannya dengan sempurna, aku akan tinggal dan mendengarkan keterangannya. Jika ia menyia-nyiakannya, aku pulang dan tidak mau mendengarkan keterangannya. Aku mengatakan, “Untuk selain shalat dia pasti lebih parah dalam hal menyia-nyiakannya.

(حلية الأولياء وطبقات الأصفياء , II/220).

.

XIII. Anda pun Perlu Belajarlah Kepada Beberapa “Guru Ngaji”, Barangkali Ada Faidah yang Tidak Anda Temukan di Guru Ngaji Pertama Anda…

Hammad bin Zaid rahimahullah berkata bahwa

لنا أيوب إنك لا تبصر خطأ معلمك حتى تجالس غيره جالس الناس

Ayyub pernah mengatakan kepadaku, “Sungguh, Engkau tidak bisa mengetahui kesalahan gurumu sampai Kau berguru kepada orang lain. Bergurulah kepada banyak orang!

(حلية الأولياء وطبقات الأصفياء , III/9).

.

IX. Namun, Ingat! Banyak Guru Bukan Berarti Asal Banyak-Banyakan! Perhatikanlah Komitmennya Pada Sunnah dan Kebenciannya Kepada Bid’ah.

Na’am. Dulu, ulama salaf dikenal tegas jika berbicara tentang aturan agama. Oleh karena itu, diriwayatkan bahwa ‘Ali berkata,

لا يقيم أمر الله إلا من لا يصانع ولا يضارع ولا يتبع المطامع

Perintah Allah tidak bisa ditegakkan kecuali oleh orang yang tidak mau kompromi, tidak suka berpura-pura, dan tidak mau mengikuti ketamakan.

(حلية الأولياء وطبقات الأصفياء , VII/286).

Maka, mereka pun sangat membenci bid’ah, seperti yang dapat kita lihat dari perkataan Abu Idris Al-Khaulani rahimahullah,

لأن أرى في جانب المسجد نارا لا أستطيع إطفاءها أحب الي من أن أرى فيه بدعة لا أستطيع تغيرها

Aku lebih suka melihat api yang tidak bisa aku padamkan di samping masjid daripada melihat bid’ah yang tidak bisa aku ubah di sana.”

(حلية الأولياء وطبقات الأصفياء , V/124)

Dengan demikian, mereka juga tidak suka banyak bergaul dengan para pengekor hawa nafsu (Ahlu bid’ah). Salah seorang salaf, Aus bin Abdillah rahimahullah mengatakan,

لأن أجالس القردة والخنازير أحب إلي من أن أجالس رجلا من أهل الأهواء

Sungguh, aku lebih suka duduk bersama monyet dan babi daripada duduk bersama orang yang suka mengikuti hawa nafsu.”

(حلية الأولياء وطبقات الأصفياء, III/78 )

.

XV. Jika Kau Bergaul dengannya, Kau ‘Kan Lihat Dia Mengamalkan Ucapannya.

Sahal bin Abdillah rahimahullah pernah ditanya oleh seseorang

يا أبا محمد إلى من تأمرني أن أجلس فقال له إلى من تكلمك جوارحه لا من يكلمك لسانه

(?) “Hai Abu Muhammad (nama kunyah Sahal), siapakah yang menurut Anda layak aku temani?”

(>) Ia menjawab, “Bertemanlah dengan orang yang berbicara dengan anggota tubuhnya, dan bukan dengan lidahnya.”

(حلية الأولياء وطبقات الأصفياء , X/197).

.

XVI. Jika Kau Bergaul dengannya, ‘Kau ‘Kan Temukan Kesejukan dalam Hatimu

Abul Mulaih berkata bahwa ia pernah mendengar Maimun berkata,

العلماء هم ضالتي في كل بلدة وهم بغيتي ووجدت صلاح قلبي في مجالسة العلماء

Orang-orang yang berilmu adalah orang yang kucari di setiap tempat. Mereka adalah tujuan yang selalu kucari. Dan aku menemukan keshalihan hatiku di dalam bergaul dengan orang-orang yang berilmu.

(حلية الأولياء وطبقات الأصفياء , IV/85 )

.

E. Penutup

Itulah di antara sifat “guru ngaji” salaf . Maka, suatu nikmat yang besar bila kita diberi anugerah untuk menimba ilmu kepada “guru ngaji” salafi, yaitu guru ngaji yang senantiasa berusaha meneladani salaf. Dan Merugilah orang yang membenci salafi dan menebarkan fitnah kepada manusia untuk membenci salafi.

Namun, catatan yang lebih penting adalah kita sendiri, masih enggankah kita menyatakan diri sebagai seorang salafi? Jika kita masih ragu, buanglah keraguanmu! Bersegaralah kita menjadi seorang yang berusaha meneladani salaf.

Dan bagi saudara-saudaraku yang sudah lama menyatakan dirinya sebagai seorang salafi, mari kita bertanya kepada diri kita,

“ Jika kita sudah mengaku sebagai seorang salafi, sudahkah kita berakhlak dengan akhlak salaf?”

Silakan kita jawab sendiri….

.

Ba’da Shalat Jumat,

Masjid Al-’Ashri, 7 Shafar 1431 H / 22 Januari 2010

Abu Muhammad Al-Ashri

alashree.wordpress.com

studyarabic.blog.ugm.ac.id

.

=======================

http://alashree.wordpress.com/2010/01/22/cari-ustadz-salafi/

Read More......

Dr. Abdussalam bin Barjas Alu Abdul Karim rahimahullah mengisahkan,

….أن رجلاً خطب إمرأة ذات منصب وجمال فأبت لفقره وقله حسبه ففكر بأي الأمرين ينالها أبلمال أم الحسب فاختار الحساب وطلب له العلم حتى أصبح ذا مكانة فبعثت غليه المرأة تعرض نفسها فقال لا أوثر علي العلم شيئاً.

“….Seorang laki-laki melamar seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan. Wanita itu tidak mau karena dia fakir dan rendah kedudukannya. Kemudian, laki-laki itu berpikir dengan apa dia akan meraih wanita itu, apakah dengan harta atau dengan kedudukan?

Akhirnya, dia memilih kedudukan. Kemudian, dia menuntut ilmu untuk hal itu sampai akhirnya dia menjadi orang yang memiliki kedudukan.

Setelah itu, wanita yang dulu ingin ia lamar mengirim utusan kepada si laki-laki untuk menawarkan dirinya (untuk dinikahi). Akan tetapi, laki-laki itu berkata,

Aku tidak lebih mementingkan sesuatupun dibanding ilmu

=============

Catatan:

  • Dr Abdussalam bin Barjas rahimahullah menukil kisah ini dalam kitab ‘awaiqut-thalab, bukan untuk mendorong pemuda agar tidak menikah. Akan tetapi, beliau memasukkan kisah ini dalam salah satu pasal yang berjudul العائق الأول :طلب العلم لغير وجه الله تعالى /Rintangan Menuntut Ilmu Pertama: Menuntut Ilmu karena Selain Wajah Allah/ untuk memberikan pelajaran bagi pembaca bahwa hal pertama yang harus dilakukan seseorang ketika akan menuntut ilmu adalah mengikhlaskan niat.
  • Faidah penting yang perlu dicatat di sini adalah betapa banyak manusia sekarang ini menjadikan “dunia” sebagai tolak ukur, sampai ia pun berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan apa yang ia cari.
  • Dalam kisah di atas, ditunjukkan bahwa pada awalnya laki-laki tersebut tidaklah berniat ikhlas dalam menuntut ilmu syar’i. Tidaklah ia mencari ilmu untuk mengharap wajah Allah, tetapi malah ditujukan untuk mendapatkan wanita. Akan tetapi, seiring waktu berjalan, alhamdulillah ia tersadarkan bahwa sesungguhnya ilmu untuk mengenal Allah jauh lebih tinggi nilainya dibanding keridhaan seorang wanita.

Maka, ketika ilmu telah ia gapai, ia pun seolah ingin menghinakan wanita yang menolaknya dulu dengan mengatakan,

لا أوثر علي العلم شيئاً

“Aku tidak lebih mementingkan sesuatu dibandingkan ilmu”

Perkataan di atas sungguh mengena karena seorang yang menuntut ilmu karena wajah Allah, tidak pantas disandingkan dengan wanita yang mau dinikahi karena dunia.

Oleh karena itu, Dr. Abdussalam bin Barjas rahimahullah menyatakan,

فتورع بترك امرأةٍ كان طلب العلم لأجلها ، إعلاماً بصدق قصده وسلامة مأربه

“Laki-laki itu menjadi wara’ dengan meninggalkan seorang wanita yang menjadi penyebab dirinya menuntut ilmu. Dia memberitahukan kejujuran niatnya dan keselamatan akalnya (dengan ucapannya kepada wanita tadi).”

  • Faidah di atas juga berlaku bagi muslimah. Hendaknya apa yang ia niatkan dalam menuntut ilmu syar’i adalah untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya sehingga ia bisa menggapai ilmu untuk mengenal Allah, bukan untuk mengharap wajah yang lain. Wallahu a’lam.

.

Akhukum,

Abu Muhammad Al-‘Ashri

Menjelang dzuhur di Masjid Al-‘Ashri

10 Shafar 1431 / 25 Januari 2010 M

http://alashree.wordpress.com/2010/01/25/ilmu-vs-wanita/

Read More......


-Surat Cinta Untuk Calon Suamiku-

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Entah angin apa yang membuai hari ini, membuatku begitu berani mencoretkan sesuatu untuk dirimu yang tidak pernah aku kenali. Aku sebenarnya tidak pernah berniat untuk memperkenalkan diriku kepada siapapun. Apalagi mencurahkan sesuatu yang hanya aku khususkan buatmu sebelum tiba masanya. Kehadiran sseorang lelaki yang menuntut sesuatu yang kujaga rapi selama ini semata-mata buatmu, itulah hati dan cintaku, membuatku tersadar dari lenaku yang panjang.

Ibu telah mendidikku semenjak kecil agar menjaga maruah dan mahkota diriku karena Allah telah menetapkannya untukmu suatu hari nanti. Kata ibu, tanggungjawab ibu bapak terhadap anak perempuan ialah menjaga dan mendidiknya sehingga seorang lelaki mengambil-alih tanggungjawab itu dari mereka. Jadi, kau telah wujud dalam diriku sejak dulu. Sepanjang umurku ini, aku menutup pintu hatiku dari lelaki manapun karena aku tidak mau membelakangimu.

Aku menghalang diriku dari mengenali lelaki manapun karena aku tidak mau mengenal lelaki lain selainmu, apa lagi memahami mereka. Karena itulah aku sekuat ‘kodrat yang lemah ini’ membatasi pergaulanku dengan bukan mahramku. Aku lebih suka berada di rumah karena rumah itu tempat yang terbaik buat sorang perempuan. Aku sering merasa tidak selamat dari diperhatikan lelaki. Bukanlah aku bersangka buruk terhadap kaummu, tetapi lebih baik aku berwaspada karena contoh banyak di depan mata.

Aku palingkan wajahku dari lelaki yang asyik memperhatikan diriku atau coba merayuku. Aku sedaya mungkin melarikan pandanganku dari lelaki ajnabi (asing) karena Sayyidah Aisyah r.a pernah berpesan, “Sebaik-baik wanita ialah yang tidak memandang dan tidak dipandang oleh lelaki.” Aku tidak ingin dipandang cantik oleh lelaki. Biarlah aku hanya cantik di matamu. Apalah gunanya aku menjadi idaman banyak lelaki sedangkan aku hanya bisa menjadi milikmu seorang. Aku tidak merasa bangga menjadi rebutan lelaki bahkan aku merasa terhina diperlakukan sebegitu seolah-olah aku ini barang yang bisa dimiliki sesuka hati.

Aku juga tidak mau menjadi penyebab kejatuhan seorang lelaki yang dikecewakan lantaran terlalu mengharapkan sesuatu yang tidak dapat aku berikan. Bagaimana akan kujawab di hadapan ALLAH kelak andai ditanya? Adakah itu sumbanganku kepada manusia selama hidup di muka bumi? Kalau aku tidak ingin kau memandang perempuan lain, aku dululah yang perlu menundukkan pandanganku. Aku harus memperbaiki dan menghias pribadiku karena itulah yang dituntut oleh Allah. Kalau aku ingin lelaki yang baik menjadi suamiku, aku juga perlu menjadi perempuan yang baik. Bukankah Allah telah menjanjikan perempuan yang baik itu untuk lelaki yang baik?

Tidak kunafikan sebagai remaja, aku memiliki perasaan untuk menyayangi dan disayangi. Namun setiap kali perasaan itu datang, setiap kali itulah aku mengingatkan diriku bahwa aku perlu menjaga perasaan itu karena ia semata-mata untukmu. Allah telah memuliakan seorang lelaki yang bakal menjadi suamiku untuk menerima hati dan perasaanku yang suci. Bukan hati yang menjadi labuhan lelaki lain. Engkau berhak mendapat kasih yang tulen.

Diriku yang memang lemah ini telah diuji oleh Allah saat seorang lelaki ingin berkenalan denganku. Aku dengan tegas menolak, berbagai macam dalil aku kemukakan, tetapi dia tetap tidak berputus asa. Aku merasa seolah-olah kehidupanku yang tenang ini telah dirampas dariku. Aku bertanya-tanya adakah aku berada di tebing kebinasaan ? Aku beristigfar memohon ampunan-Nya. Aku juga berdoa agar Pemilik Segala Rasa Cinta melindungi diriku dari kejahatan.

Kehadirannya membuatku banyak memikirkan tentang dirimu. Kau kurasakan seolah-olah wujud bersamaku. Di mana saja aku berada, akal sadarku membuat perhitungan denganmu. Aku tahu lelaki yang menggodaku itu bukan dirimu. Malah aku yakin pada gerak hatiku yang mengatakan lelaki itu bukan teman hidupku kelak.

Aku bukanlah seorang gadis yang cerewet dalam memilih pasangan hidup. Siapalah diriku untuk memilih permata sedangkan aku hanyalah sebutir pasir yang wujud di mana-mana.

Tetapi aku juga punya keinginan seperti wanita solehah yang lain, dilamar lelaki yang bakal dinobatkan sebagai ahli syurga, memimpinku ke arah tujuan yang satu.

Tidak perlu kau memiliki wajah setampan Nabi Yusuf Alaihisalam, juga harta seluas perbendaharaan Nabi Sulaiman Alaihisalam, atau kekuasaan seluas kerajaan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, yang mampu mendebarkan hati juataan gadis untuk membuat aku terpikat.

Andainya kaulah jodohku yang tertulis di Lauh Mahfuz, Allah pasti akan menanamkan rasa kasih dalam hatiku juga hatimu. Itu janji Allah. Akan tetapi, selagi kita tidak diikat dengan ikatan yang sah, selagi itu jangan dimubazirkan perasaan itu karena kita masih tidak mempunyai hak untuk begitu. Juga jangan melampaui batas yang telah Allah tetapkan. Aku takut perbuatan-perbuatan seperti itu akan memberi kesan yang tidak baik dalam kehidupan kita kelak.

Permintaanku tidak banyak. Cukuplah engkau menyerahkan seluruh dirimu pada mencari ridha Illahi. Aku akan merasa amat bernilai andai dapat menjadi tiang penyangga ataupun sandaran perjuanganmu. Bahkan aku amat bersyukur pada Illahi kiranya akulah yang ditakdirkan meniup semangat juangmu, mengulurkan tanganku untukmu berpaut sewaktu rebah atau tersungkur di medan yang dijanjikan Allah dengan kemenangan atau syahid itu. Akan kukeringkan darah dari lukamu dengan tanganku sendiri. Itu impianku.

Aku pasti berendam airmata darah, andainya engkau menyerahkan seluruh cintamu kepadaku. Cukuplah kau mencintai Allah dengan sepenuh hatimu karena dengan mencintai Allah, kau akan mencintaiku karena-Nya. Cinta itu lebih abadi daripada cinta biasa. Moga cinta itu juga yang akan mempertemukan kita kembali di syurga….

Wassalam…

Seorang gadis yang membiarkan dirinya dikerumuni, didekati, diakrabi oleh lelaki yang bukan muhrimnyacukuplah dengan itu hilang harga dirinya…di hadapan Allah. Di hadapan Allah. Di hadapan Allah. PELIHARALAH DIRI DAN JAGA KESUCIAN.

Read More......


Resep makanan membuat minuman es campur yang merupakan minuman pelepas haus dahaga halal, enak, nikmat, sedap, lezat dan bergizi :

A. Bahan-Bahan Yang Diperlukan Untuk Membuat Es Campur Yakni :

1. Susu kental manis putih = secukupnya sesuai selera
2. Air putih = secukupnya
3. Es batu atau serutan es balok = secukupnya
4. Sirup cocopandan / kokopandan = 3 sendok makan
5. Buah alpukat matang = 1 buah
6. Cincau hitam dipotong kecil-kecil = 25 gram
7. Leci / Lychee = 3 buah
8. Cendol = 2 sendok makan
9. Selasih = 2 sendok makan
10. kerokan kelapa muda = 3 sdm
11. Nata de coco / sari kelapa = 2 sedok makan
12. Tape / peyeum = 1 sendok makan

Catatan : bahan es campur bisa dikurangi atau ditambah sesuai selera anda.

B. Panduan Cara Menyiapkan minuman Es Campur Secara Bertahap Yaitu :

1. Semua bahan di masukkan jadi satu ke dalam gelas atau mangkuk (alpukat, cincau, selasih, sari kelapa, kelapa muda, tape, lechi, cendol).
2. Masukkan susu dan sirup secukupnya sesuai selera anda lalu aduk-aduk.
3. Beri serutan es atau potongan es dengan air putih dingin.
4. Aduk hingga rata dan sajikan dalam keadaan dingin segar.

-----

Tambahan :
Resep es campur dan semua resep dapur lainnya adalah halal. Dapatkan banyak resep masakan rahasia lainnya di situs Organisasi.Org ini secara gratis cuma-cuma hanya untuk anda. Gunakan fitur pencarian yang ada di situs ini untuk mencari resep lainnya seperti aneka sajian hidangan sayur, sambal, lauk-pauk, kue basah, kue kering, minuman, cemilan, dll. Anda juga dapat berpartisipasi mengirimkan resep anda ke situs ini. Selamat masak, makan dan menikmati es campur.

Read More......


Resep membuat Bakpia almond, cokelat dan keju. Kue tradisional yang cukup unik ini, sangat tepat disajikan sebagai teman minum teh disaat santai. Sebagai teman minum kopi juga bisa.



Bahan-Bahan:

Bahan A:

* 250 gram terigu
* 75 cc minyak sayur
* 150 cc air
* 1/2 sdt garam

Bahan B:

* 250 gr terigu Kunci Biru / Roda Biru
* 150 cc minyak

Bahan Isi:

* 500 gr kacang hijau, kupas kulitnya
* 500 gr gula
* 100 cc minyak
* Coklat, keju, vanili secukupnya

Cara Mengolah :

Cara Membuat Isi :

1. 100 cc minyak dijerangkan di atas api.
2. Masukkan kacang hijau setelah panas.
3. Masukkan gula, vanili.
4. Sebagian diberi coklat dan vanili.
5. Untuk yang keju, tanpa gula diberi keju.

Cara Membuat Bakpia :

1. Aduk seluruh bahan A sehingga merata.
2. Aduk seluruh bahan B sehingga merata.
3. Tipiskan/pipihkan adonan A.
4. Tipiskan atau pipihkan setengah dari adonan B. Taruh diatas adonan A yang sudah dipipihkan.
5. Lipat.
6. Tipiskan/pipihkan sisa adonan B.
7. Letakkan adonan B diatas adonan yang telah dilipat.
8. Gulung dan dibagi dua.
9. Potong-potong tiap bagian melintang 1 cm.
10. Tipiskan tiap potongan adonan, isi dengan adonan isi.
11. Bulatkan hingga rapi.
12. Taruh di atas loyang, semir dengan kuning telur.
13. Panggang dalam oven panas selama 30 menit hingga kuning keemasan. Angkat dan dinginkan.

http://resepmasakan.rismaka.net/kue-dan-makanan-ringan/bakpia-almond-cokelat-keju.htm

Read More......


Resep: Fatmah Bahalwan

Bahan:
1 bh kelapa muda, keruk dagingnya
1 bh alpukat, keruk dagingnya
10 bj nangka, iris tipis
15 bj kolang-kaling manis, iris tipis
500 ml simpel syrup
5 sdm susu kental manis
Es serut, secukupnya

Bahan simpel syrup:
400 ml air kelapa (atau air biasa)
100 gr gula pasir

Cara membuatnya:
- taruh dalam gelas, kelapa muda, alpukat, nangka dan kolang-kaling. Tuangi sympel syrup dan kucuri susu kental manis.
- Sajikan bersama es serut.

http://lemariresep.blogspot.com/2007/09/es-teler.html

Read More......




BAHAN:
175 g tepung beras, ayak
1/2 sdt garam
300 ml air
100 ml air daun suji
1/2 tetes pewarna hijau
50 g tepung sagu
6 buah pisang raja matang

Bubur:
800 ml santan dari 1 butir kelapa parut
50 g tepung beras
75 g gula pasir
1 lembar daun pandan, simpulkan
1/4 sdt garam

Pelengkap:
Es Serut
100 ml sirop cocopandan, siap pakai
100 ml susu kental manis


CARA MEMBUAT:

* Campurkan tepung beras, garam, air, air daun suji, dan pewarna hijau, aduk rata. Jerang di atas api kecil hingga mendidih sambil aduk-aduk agar adonan tidak berbutir. Angkat.
* Masukkan tepung sagu sedikit demi sedikit sambil aduk-aduk hingga kalis. Bagi adonan menjadi 6 bagian. Bulatkan dan tipiskan hingga 1/2 cm.
* Balut setiap pisang dengan adonan tepung beras hingga semua bagian tertutup rata.
* Rebus pisang dalam air mendidih hingga mengapung dan adonan matang. Angkat. Tiriskan. Sisihkan.
* Bubur: Campurkan santan, tepung terigu, gula pasir, daun pandan dan garam, aduk rata. Jerang di atas api sedang sambil aduk-aduk hingga kental. Angkat.
* Penyajian: Potong-potong pisang ijo. Letakkan di atas piring saji. Tuangkan bubur. Tambahkan es serut, sirop, dan susu kental manis.
* Sajikan segera.

Untuk 6 porsi
Kalori per porsi 397



[Dari femina 31 / 2007]

http://www.femina-online.com/kuliner/kuliner_detail.asp?id=204&cid=1&views=843

Read More......





Description:
Minuman segar pendamping hidangan lebaran

Ingredients:
Bahan:


* 2 bh kelapa muda
* 5 bh jeruk peras (jeruk siam)
* 1 ltr air matang / air kelapa
* 300 gr gula pasir
* 2 lbr daun pandan



Directions:
Cara membuatnya:


1. Keruk daging buah kelapa muda, seduh dengan air panas, tiriskan.
2. Tampung air kelapa secara terpisah.
3. Syrup gula: masak air kelapa, gula pasir, dan daun pandan hingga gula larut.
4. Dinginkan. Peras jeruk siam, ambil air jeruknya, sisihkan.
5. Dalam wadah, satukan daging kelapa muda, air jeruk dan syrup gula, aduk rata.
6. Tambahkan Es batu atau simpan dalam kulkas hingga saat disajikan.


kiriman dari: Peni Respati, Tangerang
© 2009 Kompas


http://kulinerkita.multiply.com/recipes

Read More......





Description:
Kenyalnya bola kanji berpadu dengan manisnya kuah santan. Tak hanya lezat dinikmati saat berbuka puasa, tetapi juga untuk sajian penutup makan.

Ingredients:
Bahan:


* 500 gr ubi merah, kukus, haluskan
* 3 sdm tepung sagu
* 500 gr gula jawa
* 1 ltr air
* 500 ml santan kental
* ½ sdt garam
* 1 lbr daun pandan



Directions:
Cara membuat:


1. Tuang tepung sagu ke dalam ubi halus, uleni hingga rata, buat bulatan.
2. Sementara itu masak gula jawa dan air hingga mendidih dan gula larut.
3. Saring, didihkan kembali.
4. Masukkan bulatan adonan ubi ke dalam kuah gula mendidih.
5. Biarkan hingga mengapung. Matikan api.
6. Masak santan, garam, dan daun pandan sambil diaduk hingga mendidih, angkat.
7. Sajikan biji salak bersama kuah santan.


resep: Fatmah Bahalwan, pendiri komunitas memasak, Natural Cooking Club
foto: Fatmah Bahalwan
© 2009 Kompas


http://kulinerkita.multiply.com/recipes/item/557/Biji_Salak

Read More......





By: zahrotul ‘azizah as-salafiyyah

BAHAN:
- Agar-agar swallow warna putih
- Labu kuning / waluh, dikukus kemudian diblender sampai halus.
- Gula pasir
- Gula kelapa, dihancurkan lalu direbus dengan sedikit air.
- Garam
- Air
- Santan
- Susu kental manis full cream
- Daun pandan
- Cocoa van houten (bubuk kokoa larut air), disini sebagai pewarna coklat
- Pewarna makanan
- Penguat rasa makanan sesuai selera


KETERANGAN
- Standar jumlah air yang digunakan untuk 1 bungkus (bks) agar2 disini adalah 4 gelas (menggunakan gelas belimbing)
- 1 gelas = ± 250 cc
- sdm = sendok makan
- Wadah yang digunakan untuk penyajian adalah cup plastik kecil bertutup.


CARA MEMBUAT
A. LAPISAN DASAR WARNA COKLAT
1. Rebus 1 bks agar-agar bersama dengan 2 gelas air, 1 gelas santan, 1 gelas gula kelapa dan sedikit garam. Jika kurang manis, tambahkan gula pasir. Aduk terus sampai mendidih.
2. Setelah mendidih, tambahkan ± 3 sdm cocoa van houten, aduk sampai merata.
3. Matikan api
4. Tambahkan penguat rasa coklat / coklat pasta sesuai selera.
5. Masukkan dalam masing-masing cup sebanyak ± 2 sdm / sesuai selera. Biarkan dingin dan mengeras.

Ket.
- Perbandingan air, santan dan gula kelapa bisa seperti ini:
2 : 1 : 1 atau 1 : 2 : 1, sesuai selera. Santan pada lapisan ini fungsinya untuk membuat warna menjadi lebih pekat.
- Jika tidak suka santan, maka bisa diganti dengan susu full cream atau susu kental manis yang rasa coklat. Jadi hanya menggunakan air & gula kelapa dengan perbandingan 3 : 1.
- Jika menggunakan susu, maka tidak perlu ditambah garam.


B. LAPISAN TENGAH WARNA KUNING TUA
1. Rebus 1 bks agar-agar bersama dengan 2 gelas waluh, 1 gelas santan, 1 gelas gula kelapa dan sedikit garam serta daun pandan. Jika kurang manis, tambahkan gula pasir. Aduk terus sampai mendidih.
2. Matikan api.
3. Tuangkan dalam masing-masing cup sebanyak ± 2 sdm / sesuai selera (di atas lapisan dasar). Biarkan dingin dan mengeras.

Ket.
- Jika tidak suka santan, maka sebaiknya tidak menggunakan waluh. Bisa menggunakan buah lain dengan diblender sebelumnya. Atau seperti membuat agar-agar biasa dengan diberi rasa dan warna yang berbeda tiap lapisnya.
- Jika kurang kental, maka waluh bisa ditambahkan.


C. LAPISAN ATAS WARNA PUTIH
1. Rebus 1 bks agar-agar bersama dengan 2 gelas air, 2 gelas santan dan gula pasir secukupnya. Tambahkan daun pandan. Aduk terus sampai mendidih.
2. Matikan api.
3. Tambahkan penguat rasa sesuai selera.
4. Tuangkan dalam masing-masing cup sebanyak ± 2 sdm / sesuai selera (di atas lapisan tengah). Biarkan dingin dan mengeras.



Ket: Jika tidak suka santan, maka bisa diganti dengan susu full cream, tanpa garam dan daun pandan. Air sebanyak 4 gelas.


D. PENTOL WARNA-WARNI
Khusus untuk pentol, standar 1 bks agar-agar menggunakan 3 gelas air, agar lebih keras.
1. Rebus 1 bks agar-agar bersama dengan 1 gelas air, 2 gelas santan, gula pasir secukupnya dan sedikit garam. Jika tidak suka santan, maka: 3 gelas air + susu full cream secukupnya + gula pasir secukupnya. Aduk terus sampai mendidih.
2. Matikan api.
3. Bagi menjadi tiga bagian. Masing-masing bagian diberi warna dan rasa yang berbeda sesuai selera.
4. Cetak masing-masing bagian pada cetakan setengah bola seperti pada gambar.
5. Setelah dingin dan mengeras, ambil, lalu letakkan dan tata pada permukaan agar-agar yang telah disusun tadi.



Ket: Jika jumlah pentol kurang, bisa membuat lagi dengan cara yang sama.


E. LAPISAN PEREKAT
Jika pentol dipasang begitu saja, maka akan mudah bergeser dan telepas jika ada pengaruh dari sekitar. Maka untuk merekatkan ada caranya:
1. Rebus 1 bks agar-agar dengan 4 gelas air dan gula pasir secukupnya. Aduk sampai mendidih.
2. Matikan api.
3. Tambahkan penguat rasa makanan tanpa pewarna makanan, jadi hasil akhirnya adalah agar-agar berwarna bening.
4. Tuangkan dalam masing-masing cup sebanyak ± 1 sdm pada permukaan agar-agar yang telah dipasang pentol. Biarkan dingin dan mengeras.
Nah, dengan demikian pentol-pentol tersebut akan tetap bertahan di tempatnya.


NB:
- Setiap penggunaan santan, selalu tambahkan sedikit garam agar gurih.
- Gula kelapa hanya digunakan untuk agar-agar waluh dan agar-agar yang berwarna coklat / gelap. Karena warna dari gula kelapa ini bisa memberikan pengaruh untuk warna-warna yang cerah.
- Memasukkan agar-agar ke dalam cup harus menunggu agar lapisan sebelumnya dingin dan mengeras agar tidak tercampur.
- Jumlah lapisan sesuai selera, yang pasti harus ada adalah lapisan atas warna putih dan lapisan perekat.



Mudah khan.. Semua bahan bisa di dapat di toko terdekat.. Selamat mencoba! ^_^

Sumber:
http://ummuyahyakdr.blogspot.com/2009/08/puding-kombinasi.html

Read More......




Makanan - Makanan Pembakar Kalori !

Buat temen-temen yang sedang ingin ber-diet sehat, aktivitas fisik amat dianjurkan untuk membakar kalori tubuh. Tapi, selain aktivitas fisik, seperti berolahraga, ada cara lain untuk membakar kalori lebih cepat.



Jika Anda konsumsi makanan-makanan pembakar kalori berikut ini, plus berolahraga teratur, dijamin ajang membakar kalori tubuh jadi lebih mudah dan cepat.

1. Grapefruit

Beberapa penelitian menunjukkan konsumsi jus grapefruit 150 ml setiap hari, bisa mengurangi berat badan 1 kg dalam waktu dua minggu. Grapefruit juga memiliki level GI (glycemic index) yang sangat rendah dan mengurangi kadar insulin serta kolesterol dalam tubuh. Zat inositol juga ditemukan dalam grapefruit, yaitu zat alami pembakar lemak yang memiliki rasa sedikit pahit. Zat tersebut memicu proses metabolisme dan melancarkan sisitem pencernaan.

2. Teh Hijau

Selain terkenal sebagai pencegah kanker, teh hijau juga membantu proses metabolisme tubuh dan membakar kalori. Sangat baik mengonsumsi teh hijau setiap hari setelah Anda makan. Usahakan mengonsumsi lima gelas teh hijau setiap hari karena bisa membakar 70-80 kalori.

3. Produk susu rendah lemak

Jika Anda sedang diet, jangan mengesampingkan produk susu dalam menu makanan. Pilih saja produk susu yang rendah lemak. Mengonsumsi produk susu bisa memicu produksi calcitriol, yaitu sel pembakar lemak.

Wanita yang mengonsumsi produk susu rendah lemak 3-4 kali per hari, kalorinya bisa aterbakar hingga lebih dari 70% lemak. Wanita dewasa membutuhkan 1.200 mg kalsium setiap hari.

4. Air putih

Jika Anda kurang mengonsumsi air putih, maka berat badan akan sulit turun. Kekurangan cairan membuat proses metabolisme menjadi lebih lambat dan bisa mengurangi kadar glukosa dalam tubuh yang bisa memicu sakit kepala.

Konsumsilah 1,5 liter air setiap hari karena bisa mempercepat proses metabolisme hingga 30% dan kalori yang terbakar pun lebih banyak.

5. Makanan pedas

Makanan pedas bisa membantu Anda membakar kalori lebih banyak, cobalah untuk menambahkan lada dan cabai ke dalam makanan.

Makanan pedas bisa membakar kalori lebih banyak karena rasa pedas memicu adrenalin dan mempercepat metabolisme dan membakar kalori.

Wahyu_Win
dari berbagai sumber.

Read More......




Wanita suci,
Mungkin aku memang tak romantis, karena kau tak mengenalku
dan tak perlu mengenalku…
Bagiku kau bukan bunga, tak mampu aku samakanmu dengan bunga-bunga terindah dan terharum sekalipun
Bagiku manusia adalah mahluk terindah, tersuci dan tertinggi
Bagiku kau salah satu manusia terindah, tersuci, dan tertinggi, karenanya kau tak membutuhkan persamaan…

Wanita suci,
Jangan pernah biarkan aku menatapmu penuh, karena itu akan membuatku mengingatmu
Berarti memenuhi kepalaku dengan inginkanmu
Berimbas pada tersusunnya gambarmu dalam tiap dinding khayalku
Membuatku inginkanmu sepenuh hati, seseluruh jiwa, sesemangat mentari
Kasihani dirimu jika harus hadir dalam khayalku yang masih penuh lumpur, dirimu terlalu suci…

Wanita suci,
Berdua menghabiskan waktu denganmu bagaikan mimpi tak berujung, ada ingin tapi tak ada henti
Menyentuhmu merupakan ingin diri, berkelebat selalu, meski ujung penutupmupun tak berani kusentuh
Jangan pernah kalah oleh mimpi dan inginku, karena sucimu, indahmu kau pertaruhkan
Mungkin kau tak peduli, tapi kau hanya akan menjadi wanita biasa di hadapanku bila kau kalah,
Tak lebih dari wanita biasa

Wanita suci,
Jangan pernah kau tatapku penuh, bahkan kau tak perlu lirikkan matamu untuk melihatku
Bukan karena aku terlalu indah, tapi karena aku seorang manipulator
Aku biasa memakaikan topeng keindahan pada wajah burukku, mengenakan pakaian sutera emas
Meniru laku para rahib, meski hatiku lebih kotor dari kubangan lumpur
Kau memang suci, tapi masih sangat mungkin kau termanipulasi
karena toh kau hanya manusia -hanya wanita- meskipun kau wanita suci

Wanita suci,
Beri sepenuh diri pada dia sang lelaki suci yang sepenuh diri bawamu pada Allah
Untuknya dirimu ada, kata otakku, terukir dalam kitab suci tak perlu pikir lagi
Tunggu sang lelaki suci menjemputmu dalam rangkaian khitbah dan akad
Atau kejar sang lelaki suci, itu adalah hakmu seperti yang dicontohkan ibunda Khadijah
Jangan ada ragu, jangan ada malu, semua terukir dalam kitab suci

Wanita suci,
Bariskan harapmu pada istikharah sepenuh arti ikhlas
Relakan Allah pilihkan lelaki suci bagimu, mungkin sekarang atau nanti, bahkan mungkin tak ada sampai kau mati
Mungkin itu berarti dirimu terlalu suci untuk semua lelaki di alam permainan saat ini
Mungkin lelaki suci itu menantimu di istana kekalmu yang kau bangun dengan seluruh kekhusyu’an ibadahmu

Wanita Suci,
Pilihan Allah tak selalu seindah inginmu, tapi itulah inginNya, tak ada yang lebih baik dari pilihanNya
Mungkin kebaikan itu bukan pada lelaki terpilih itu
Melainkan pada jalan yang kau pilih
Seperti kisah Ummu Sulaim di masa lalu yang meminta keislaman sebagai mahar pernikahan
Atau mungkin kebaikan itu terletak pada keikhlasanmu menerima putusan sang Kekasih tertinggi
Kekasih tempat kita menerima cinta yang tak terhingga dalam tiap detik hidup kita

http://www.bloggaul.com/rawinaw/readblog/23465/surat-dari-seorang-ikhwan-untuk-semua-wanita-suci

Read More......




Umar bin Qais pernah mengungkapkan : “Bila engkau mendapatkan kesempatan berbuat baik, lakukanlah kebaikan itu meski sekali, niscaya engkau akan menjadi ahlinya.”Aku menyelesaikan studiku di sebuah sekolah kesehatan setelah bersusah-payah. Aku sama sekali tidak fokus pada pelajaran. Namun Allah memudahkan juga jalanku untuk menyelesaikan kuliahku. Lalu aku ditempatkan di sebuah rumah sakit yang dekat dengan kotaku. Alhamdulillah, segala urusanku berjalan lancar, dan akupun masih tetap bisa tinggal bersama kedua orang tuaku ..

Aku berniat mengumpulkan harta mahar untuk calon istriku kelak. Dan itulah yang selalu ditekankan oleh ibuku setiap hari. Pekerjaanku berjalan mudah, karena kulakukan dengan sungguh-sungguh dan telaten, terutama karena pekerjaanku itu adalah di rumah sakit tentara.

Aku senang beraktivitas, -itu sebabnya secara medis- aku mendapatkan sukses besar dalam pekerjaanku tersebut. Bila dibandingkan dengan pelajaran teori yang membosankan yang pernah kupelajari.

Rumah sakit tersebut mengumpulkan berbagai tenaga medis dari berbagai bangsa. Demikian kira-kira. Hubungan¬ku dengan mereka, sebatas hubungan kerja saja. Sebagai¬mana mereka juga mengambil manfaat dari kehadiranku, sebagai penduduk asli negeri ini. Saya sering menjadi guide mereka mengunjungi berbagai tempat bersejarah dan pasar¬-pasar. Sebagaimana aku juga sering mengantarkan mereka ke sawah-sawah kami. Hubunganku dengan mereka amat erat. Dan seperti biasa, di akhir ikatan hubungan kerja, kami mengadakan pesta perpisahan ..

Pada suatu hari, salah seorang dokter dari Inggris berniat melakukan perjalanan pulang ke negerinya, karena masa kerjanya sudah habis. Kami bermusyawarah untuk menga-dakan pesta perpisahan baginya. Tempat yang kami tentukan adalah sawah kami, kemudian didekorasi seperti biasanya. Namun yang menguras pikiranku adalah: hadiah apa yang akan kuberikan kepadanya? Terutama karena aku sudah bekerja bersamanya dalam waktu yang lama ..

Akhirnya aku temukan sebuah hadiah berharga dan se¬suai untuk saat itu. Dokter yang satu ini dikenal suka me¬ngumpulkan barang-barang tradisional. Tanpa perlu bersusah-payah, kebetulan ayahku menyimpan banyak barang-¬barang semacam itu. Maka akupun meminta kepada beliau. Aku memilih sebuah benda tradisional hasil karya daerahku, di masa lampau. Seorang di antara saudara sepupuku turut hadir untuk kuajak berdiskusi tentang hal itu.

Saudaraku itu menyela: 'Kenapa tidak engkau beri hadiah buku tentang Islam?' Aku lebih memilih barang tradisional itu. Tak kuindahkan pendapat saudaraku tersebut dengan anggapan bahwa sulit untuk mendapatkan buku yang cocok untuknya. Namun Allah memudahkan diriku untuk menda¬patkan barang tersebut tanpa bersusah-payah. Esok harinya, aku pergi untuk membeli beberapa mushaf dan majalah dari toko buku. Ternyata aku dapatkan sebuah buku tentang Islam berbahasa Inggris.

Kembali kata-kata sepupuku itu terngiang di telingaku.
Pikiran untuk membeli buku itu menjadi pertimbangan khusus bagiku saat itu, karena kebetulan harganya murah sekali. Akupun membeli buku tersebut.

Datanglah saat pesta perpisahan dengan sahabatku itu. Aku meletakkan buku tersebut di tengah barang tradisional tersebut. Seolah-olah aku menyembunyikannya. Akupun menyerahkan hadiahku tersebut. Sungguh itu merupakan perpisahan yang amat berkesan. Dokter itu memang amat disukai oleh rekan-rekan kerjanya ...

Sahabat kamipun pergi meninggalkan kami. Hari demi haripun berlalu. Bulan demi bulan juga berlalu demikian cepat. Akupun menikah dan dianugerahi seorang putra.

Suatu hari, datanglah surat dari Britania (Inggris). Aku segera membacanya dengan perlahan. Surat itu ditulis dalam' bahasa Inggris. Pada mulanya, aku memahami sebagian isinya. Namun aku tidak bisa memahami sebagian kata¬-katanya. Aku tahu bahwa surat itu berasal dari teman lama yang beberapa saat bekerja bersama kami. Namun kuingat-¬ingat, baru kali ini kudengar namanya. Bahkan nama itu terdengar aneh di telingaku. Difullah, demikian namanya.

Kututup surat tersebut. Aku berusaha mengingat-ingat sahabat bernama Difullah. Namun aku tidak berhasil mengingat seorangpun dengan nama itu. Kubuka lagi surat itu, dan kembali kubaca isinya dengan tenang. Huruf demi huruf mengalir dengan mudah dan lancar. berikut sebagian isi surat tersebut:

Saudara yang mulia, Dhaifullah ...
Assalamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Allah telah memudahkan diriku memahami Islam dan memberiku petunjuk melalui kedua belah tanganmu. Tak pernah kulupakan persahabatanku denganmu. Aku selalu mendoakanmu. Aku teringat dengan buku yang pernah engkau hadiahkan kepadaku di hari kepergianku. Suatu hari kubaca buku itu, sehingga bertambahlah kesungguhanku untuk lebih banyak mengenal Islam. Termasuk di antara taufik Allah kepadaku, di sampul buku tersebut aku mendapatkan nama penerbit buku itu.

Akupun mengirim surat kepada mereka untuk meminta tambahan buku. Mereka segera mengirimkan buku yang kuminta. Segala puji bagi Allah yang telah menyalakan cahaya Islam dalam dadaku. Akupun pergi menuju Islamic Center dan mengumumumkan ke-Islamanku. Aku ubah namaku dari Jhon menjadi Dhaifullah. Yakni seperti namamu, karena engkau orang yang memiliki keutamaan dari Allah. Aku juga melampirkan surat resmi ketika aku mengumumkan syahadatku. Aku akan mengusahakan pergi ke Mekah Al-Mukarramah untuk menunaikan haji.

Dari saudaramu seiman, Dhaifullah.
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Akupun menutup surat tersebut. Namun dengan cepat kubuka kembali. Aku membacanya untuk kesekian kali.

Surat itu demikian menggetarkan diriku. Karena aku merasakan ikatan persahabatan pada setiap huruf-hurufnya. Akupun menangis terus. Bagaimana tidak? Allah telah memberi hidayah kepada seseorang menuju Islam melalui kedua belah tanganku, padahal selama ini aku lalai dalam memenuhi hakNya. Hanya dengan sebuah buku yang tidak sampai lima Riyal harganya, Allah memberi hidayah kepada seseorang ... Aku sedih sekaligus bahagia.

Bahagia, karena tanpa usaha yang keras dariku, Allah menunjukkannya kepada Islam. Namun aku juga merasa sedih, karena penasaran terhadap diriku sendiri: Kemana saja aku selama ini ketika masih bersama para pekerja tersebut? Aku belum pernah mengajaknya kepada Islam? Bahkan belum pernah mengenalkannya dengan Islam? Tak ada satu katapun tentang Islam yang akan menjadi saksi buat diriku pada hari Kiamat nanti.

Aku banyak mengobrol bersama mereka dan sering bercanda dengan mereka, namun aku tidak pernah membica¬rakan Islam, banyak ataupun sedikit Allah telah memberi hidayah kepada Dhaifullah untuk masuk Islam, dan juga memberiku petunjuk untuk ber¬introspeksi diri akan keteledoranku dalam menaati Allah. Aku tidak akan meremehkan kebajikan sedikitpun, meski hanya dengan sebuah buku berharga satu Riyal saja ...

Aku berfikir sejenak: Seandainya setiap muslim menghadiahi sebuah buku saja kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya, apa yang akan terjadi?

Namun aku tertegun karena hal yang aku takuti dari berita yang kubaca, dari benua Afrika ....
Beberapa kenyataan itu menyebutan:
Telah berhasil dikumpulkan dana sebesar satu juta dolar Amerika untuk tujuan gereja.
Berhasil kaderisasi 3.968.100 penginjil selama satu tahun..
Telah berhasil dibagi-bagikan sebanyak 112.564.400 eksemplar Injil.
Jumlah stasion radio dan televisi Nashrani telah mencapai 1.620 buah.

Aku bertanya-tanya: "Di manakah kita berada, dalam kondisi demikian? Berapa banyak supir di negeri kita ini yang bukan muslim? Dan berapa banyak pembantu di negeri kita ini yang juga bukan muslimah? Berapa, berapa dan berapa? Sungguh rasa sakit yang didahului linangan air mata. Namun tetap bergayut satu pertanyaan: Mana usaha kita? Mana usaha kita?".

Sumber: Az-Zaman Al-Qaadim

Read More......