Abu Muhammad Al-’Ashri

[catatan facebook di-post pada 29 Juni 2009, 00:53)


lilin 2

Penulis teringat beberapa waktu yang lampau, ketika penulis bersama ikhwah yang lain mengikuti kajian salafi di salah satu ma’had. Ketika kajian berlangsung, ada salah satu hadirin yang “tidak kuat” mendengarkan kajian, terkantuk-kantuk bahkan terlihat tertidur di saat ikhwan-ikhwan yang lain menyimak apa yang dituturkan ustadz.

Setelah kajian selesai, tiba-tiba ikhwan yang “tidur” tadi terbangun. Serta merta, ia menjadi ORANG PERTAMA yang bertanya kepada Ustadz dengan pertanyaan yang tidak berkaitan dengan materi kajian, tetapi malah bertanya, “Ustadz, bagaimana tentang Ustadz X, bagaimana tentang Ustadz Y”, dengan intonasi yang menimbulkan pendengarnya pasti akan memberi penilaian negatif terhadap Ustadz yang disebut “si tukang tidur tadi”.

Mendengar pertanyaan bernada adu domba tersebut, sang Ustadz yang ditanya pun kaget dan meminta ikhwan tersebut untuk menanyakan hal yang ditanya kepada Ustadz yang lain. Alhamdulillah.

Akan tetapi shahabatku sekalian. Hal ini tidak jarang kali kita dapati pula di berbagai majelis kajian, di tengah-tengah kita. Dan tidak jarang pula ada sebagian thalabul ilmi atau bahkan ustadz yang terpengaruh model pertanyaan seperti ini. Akhirnya, perpecahan antar ikhwan atau antar ustadz pun terjadi. Padahal, terkadang perpecahan itu terjadi bukan karena keinginan antar ustadz yang akhirnya berseteru itu, tetapi KARENA ADANYA PERTANYAAN TIDAK BERMUTU DARI MURID-MURID YANG TIDAK BERMUTU…!

Bandingkan Kita dengan Salaf (orang-Orang Generasi Awal Islam Muncul)!

Nah, kalau kita mengaku sebagai salafi (pengikut salaf), cermati penggalam kisah salaf berikut ini. Bandingkan, bagaimana mereka menanggapi pertanyaan yang bernada ADU DOMBA.

Salah seorang salaf bernama Ambar berkata,

“Aku pernah duduk bersama Wahab bin Munabbih (ulama salaf yang sezaman dengan khalifah bani Umayyah, Umar bin Abdul Aziz), tiba-tiba ia didatangi seseorang dan berkata, “Sungguh aku telah berpapasan dengan si Fulan, DAN DIA MEMAKI ANDA”.

Wahab Langsung NAIK PITAM dan berkata, “SETAN TIDAK MENEMUKAN UTUSAN SELAIN KAMU”!!!

Sebelum Ambar beranjak dari sisinya (Wahab), ternyata ORANG YANG MEMAKI itu datang dan mengucapkan salam kepada Wahab.

Wahab menjawabnya, mengulurkan tangannya, dan menjabat tangannya, lalu memeberinya tempat duduk di sisinya.”

(Disebutkan Abu Nu’aim Al-Asfahani dalam Hilyatul Auliya’, juz IV, hal. 71)

Faidah:

Nah, camkanlah akhlak salaf di atas. Sebagai seorang muslim, dalam melihat muslim yang lain, kita hanya diperintahkan MENILAI DARI DZAHIRNYA SAJA. Kita tidak diperintahkan untuk mengorek-orek batin seseorang. Hukum asal seorang muslim adalah berbaik sangka pada muslim yang lain. Adapun batin manusia, akan dibongkar di akhirat nanti.

Maka, jika kita melihat DZAHIR seseorang itu baik, katankanlah orang tersebut itu baik, kecuali jika kesalahannya terlihat secara DZAHIR pula, maka katakanlah dia salah.

0 comments:

Poskan Komentar