Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Semoga Allah menjaga kita semua nya dan merahmati kita semua nya.


"Sungguh kalian akan mengikuti (meniru) tradisi umat-umat sebelum kalian selangkah demi selangkah sampai kalaupun mereka masuk kedalam liang biawak niscaya kalian akan masuk ke dalamnya pula.", Para sahabat bertanya: "Ya Rasulullah, orang orang yahudi dan Nasranikah?", Beliau Shallallahu’alaihi wa Sallam. menjawab: "Siapa lagi?" (Hadits Shahih. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).



Saya ucapkan selamat datang bagi yang baru bergabung. Selamat mendapatkan wasiat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Muliakanlah diri kita dengan ahlak yang mulia, karena apa yang kita ambil ini adalah warisan para Nabi dan Rasul. Yakni ilmu agama, dimana didalam nya disebutkan Firman Allah yang Maha Mulia, Sabda Rasulullah yang suci, dan perkataan para Imam – Imam yang Shaleh. Sungguh indah perkataan seorang pernyair rahimahullah, dia berkata :

“Ilmu (agama) itu mulia, dan tidak akan didapat kecuali oleh orang yang mulia. Maka persiapkanlah diri mu dengan ahlak yang mulia.”

Tidak tersumput dari pandangan kita, bahwa kebanyakan dari kaum Muslimin tiap tahun melakukan perayaan Tahun Baru Masehi, dengan berbagai macam bentuk dan model. Tapi tahukah kita, bagaimana hukum nya mengikuti atau merayakan Tahun Baru yang tinggal beberapa hari lagi.

Dan tidaklah tersumput dari pikiran kita, bahwa Tahun Baru Masehi adalah salah satu Hari Raya Umat Nashrani. Dan hal ini saya rasa semua orang mengetahui nya. Akan tetapi, sangat – sangat mengherankan, seorang Muslim yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya mengikuti perayaan orang – orang kafir ini (yakni Merayakan Tahun Baru)

Benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam.
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda :
"Sungguh kalian akan mengikuti (meniru) tradisi umat-umat sebelum kalian selangkah demi selangkah sampai kalaupun mereka masuk kedalam liang biawak niscaya kalian akan masuk ke dalamnya pula.", Para sahabat bertanya: "Ya Rasulullah, orang orang yahudi dan Nasranikah?", Beliau Shallallahu’alaihi wa Sallam. menjawab: "Siapa lagi?" (Hadits Shahih. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).

Ada seorang lelaki yang datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk meminta fatwa karena ia telah bernadzar memotong hewan di Buwanah (nama sebuah tempat), maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menanyakan kepadanya (yang artinya) : " Apakah disana ada berhala, dari berhala-berhala orang Jahiliyah yang disembah ?" Dia menjawab, "Tidak". Beliau bertanya, "Apakah di sana tempat dilaksanakannya hari raya dari hari raya mereka ?" Dia menjawab, "Tidak". Maka Nabi bersabda, "Tepatillah nadzarmu, karena sesungguhnya tidak boleh melaksanakan nadzar dalam maksiat terhadap Allah dalam hal yang tidak dimiliki oleh anak Adam"
[Hadits Riwayat Abu Daud dengan sanad yang sesuai dengan syarat Al-Bukhari dan Muslim]


Subhanallah, berapa banyak nya kaum Muslimin pada hari ini. Mengikuti kebiasaan (tradisi) nya orang kafir. Sehingga kalau di tuliskan kedalam buku (kitab), bisa mencapai berjilid - jilid besar. Semoga Allah menjaga orang – orang yang menjaga agama, semoga Allah membimbing orang – orang yang membutuhkan bimbingan. Semoga Allah membukakan pintu hati orang yang belum mau menerima islam secara keseluruhan.

TAHUN BARU DIDALAM PANDANGAN ORANG KRISTEN (NASHRANI)
Saya (prima) pernah bertanya kepada teman saya, dimana dia sendiri adalah orang Kristen. Kami berdiskusi, dia bertanya kepada saya tetang Islam dan saya bertanya kepada dia tetang Kristen. Kebetulan dia juga teman dekat saya, satu kampus. Kami berdiskusi siang dan malam, tetang Islam dan Kristen. Timbul didalam hati saya untuk bertanya kepada dia tetang Natal dan Tahun Baru apa yang mereka kerjakan.

Saya bertanya kepada dia, “Apa yang kalian lakukan ketika Natal dan Tahun Baru. Apakah sembahyang atau apa.”

Teman Saya orang Kristen tadi menjawab “Sama seperti kalian (umat Islam), kami pada hari Natal juga sembahyang.”

Saya bertanya lagi “Lalu Tahun Baru, apa yang dilakukan”

Teman saya orang Kristen tadi menjawab “Orang – orang mengira hari raya kami itu pada Natal (25 Desember) saja. Padahal tidak, hari raya kami itu dari tanggal 25 desember dan puncak nya Tahun Baru itu (tanggal 1).”

Setelah itu dia bertanya kepada saya. “Ayat apa didalam Al-Quran yang paling engkau sukai” Maka saya menjawab “Surat Al-Ikhlas” Dia bertanya lagi “Apa intinya?” Lalu saya bacakan surat Al-Ikhlas dan artinya.

“Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia?.” (Q.S Al-Ikhlas ayat 1 – 4)

Dia diam ketika saya bacakan ayat ini, karena surat Al-Ikhlas ini adalah bantahan terhadap keyakinan mereka. Dimana mereka (orang Kristen) mengatakan bahwa Nabi Isa adalah Anak Tuhan. Padahal didalam Surat Al-Ikhlas “Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan” setelah itu dia diam dan tidak bertanya lagi.
Pertanyaan ini sering dia tanyakan kepada saya, sebelum nya dia juga pernah juga bertanya “Ayat dan surat apa yang paling engkau cintai didalam al-Quran” dan seterus nya. Hampir – hampir saja dia masuk Islam. Karena lingkungan dia hidup ada muslim dan teman dia lebih banyak muslim. Dan dia sendiri pernah berkata : “Saya lebih enak bergaul dengan orang Muslim dari pada orang Kristen sendiri”

Inilah sekilas dialog saya dengan teman saya (orang nashrani/Kristen). Yang ingin saya beritahukan kepada kalian semua nya adalah apa yang dia katakan tadi.

““Orang – orang mengira hari raya kami (umat nasrani) itu pada Natal -25 Desember saja. Padahal tidak, hari raya kami itu dari tanggal 25 desember dan puncak nya Tahun Baru itu (tanggal 1).”

Inilah pengakuan mereka, yang saya dengar langsung dari kedua telinga dan saya perhatikan dengan jelas.

Dengan demikian jelas sudah, bahwa Tahun Baru Masehi itu adalah Hari Raya mereka dan mereka beribadah pada hari ini. Maka tidaklah pantas bagi seorang Muslim yang beriman untuk mengikuti Hari Raya Mereka, baik itu Natal, Tahun Baru dan yang lain nya. Siapa saja yang mengikuti Hari Raya mereka, maka dia terancam kedalam sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, berarti ia dari golongan mereka.” [Hadits Shahih. Dikeluarkan oleh Abu Dawud (4031), Ahmad (5093, 5094, 5634) Di Shahihkan oleh Syaikh Ali Hasan Al-Halaby]

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum” artinya siapa saja yang mengikuti kebiasaan suatu kaum yang itu merupakan kekhususan mereka. Seperti ikut didalam hari raya mereka dan lain – lain. Maka akibat nya adalah “Berarti ia dari golongan mereka”

Hadits ini setegas – tegas nya dalil yang melarangan kita untuk ikut bertolerasi didalam masalah peribadatan mereka. Baik itu Natal, Tahun Baru dan yang lain nya. Sudah cukup bagi kita dua Hari Raya yang Allah pilihkan bagi kita, Idhul Fithri dan Idhul Adha. Maka dari itu, wahai saudaraku seiman. Janganlah kalian mengikuti kebiasaan mereka, terutama merayakan Tahun Baru. Jika tidak maka kalian terancam kedalam hadits diatas. Hanya Allah-lah yang bisa memberikan hidayah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juga mengatakan, "Tidak halal bagi kaum muslimin ber-Tasyabuh (menyerupai) mereka dalam hal-hal yang khusus bagi hari raya mereka ; seperti, makanan, pakaian, mandi, menyalakan lilin, meliburkan kebiasaan seperti bekerja dan beribadah ataupun yang lainnya. Tidak halal mengadakan kenduri atau memberi hadiah atau menjual barang-barang yang diperlukan untuk hari raya tersebut. Tidak halal mengizinkan anak-anak ataupun yang lainnya melakukan permainan pada hari itu, juga tidak boleh menampakkan perhiasan.

Ringkasnya, tidak boleh melakukan sesuatu yang menjadi ciri khas dari syi'ar mereka pada hari itu. (Dalam Iqtidha Shirathal Mustaqim, pentahqiq Dr Nashir Al-'Aql 1/425-426).


Fatwa dari Komisi Tetap Fatwa dan Riset Ilmia, di Saudi Arabia tetang Tahun Baru

Sesungguhnya nikmat terbesar yang diberikan oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala kepada hamba-Nya adalah nikmat Islam dan iman serta istiqomah di atas jalan yang lurus. Allah Subhannahu wa Ta'ala telah memberitahukan bahwa yang dimaksud jalan yang lurus adalah jalan yang ditempuh oleh hamba-hamba-Nya yang telah diberi nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan sholihin (Qs. An Nisaa :69).

Jika diperhatikan dengan teliti, maka kita dapati bahwa musuh-musuh Islam sangat gigih berusaha memadamkan cahaya Islam, menjauhkan dan menyimpangkan ummat Islam dari jalan yang lurus, sehingga tidak lagi istiqomah. Hal ini diberitahukan sendiri oleh Allah Ta'ala di dalam firman-Nya, diantaranya, yang artinya:

"Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma'afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesung-guh-Nya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. 2:109).

Firman Allah Subhannahu wa Ta'ala yang lain, artinya:
Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi beng-kok, padahal kamu menyaksikan". Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (QS. 3:99)

"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menta'ati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu kebelakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi". (QS. 3:149)

Salah satu cara mereka untuk menjauhkan umat Islam dari agama (jalan yang lurus) yakni dengan menyeru dan mempublikasikan hari-hari besar mereka ke seluruh lapisan masyarakat serta dibuat kesan seolah-oleh hal itu merupakan hari besar yang sifatnya umum dan bisa diperingati oleh siapa saja.
وَدَّتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يُضِلُّونَكُمْ وَمَا يُضِلُّونَ إِلاَّ أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ ﴿٦۹﴾ [آل عمران: ٦۹]
"Artinya : Segolongan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya. [QS Aali 'Imroon: 69]


Sesungguhnya kaum Yahudi dan Nashara menghubungkan hari-hari besar mereka dengan peristiwa-peritiwa yang terjadi dan menjadikannya sebagai harapan baru yang dapat memberikan keselamatan, dan ini sangat tampak di dalam perayaan milenium baru (tahun 2000 lalu), dan sebagian besar orang sangat sibuk memperingatinya, tak terkecuali sebagian saudara kita -kaum muslimin- yang terjebak di dalamnya. Padahal setiap muslim seharusnya menjauhi hari besar mereka dan tak perlu menghiraukannya.

Perayaan yang mereka adakan tidak lain adalah kebathilan (kesesatan) semata yang dikemas sedemikian rupa, sehingga kelihatan menarik. Di dalamnya berisikan pesan ajakan kepada kekufuran, kesesatan dan kemungkaran secara syar'i seperti : Seruan ke arah persatuan agama dan persamaan antara Islam dengan agama lain. Juga tak dapat dihindari adanya simbul-simbul keagamaan mereka, baik berupa benda, ucapan ataupun perbuatan yang tujuannya bisa jadi untuk menampakkan syiar dan syariat Yahudi atau Nasrani yang telah terhapus dengan datangnya Islam atau kalau tidak agar orang menganggap baik terhadap syariat mereka, sehingga biasanya menyeret kepada kekufuran. Ini merupakan salah satu cara dan siasat untuk menjauhkan umat Islam dari tuntunan agamanya, sehingga akhirnya merasa asing dengan agamanya sendiri.

Telah jelas sekali dalil-dalil dari Al Quran, Sunnah dan atsar yang shahih tentang larangan meniru sikap dan perilaku orang kafir yang jelas-jelas itu merupakan ciri khas dan kekhususan dari agama mereka, termasuk di dalam hal ini adalah Ied atau hari besar mereka. Ied di sini mencakup segala sesuatu baik hari atau tempat yang diagung-agungkan secara rutin oleh orang kafir, tempat di situ mereka berkumpul untuk mengadakan acara keagamaan, termasuk juga di dalam hal ini adalah amalan-amalan yang mereka lakukan. Keseluruhan waktu dan tempat yang diagungkan oleh orang kafir yang tidak ada tuntunannya di dalam Islam, maka haram bagi setiap muslim untuk ikut mengagungkannya.

Larangan untuk meniru dan memeriahkan hari besar orang kafir selain karena adanya dalil yang jelas juga dikarenakan akan memberi dampak negatif, antara lain:

o Orang-orang kafir itu akan merasa senang dan lega dikarenakan sikap mendukung umat Islam atas kebatilan yang mereka lakukan.

o Dukungan dan peran serta secara lahir akan membawa pengaruh ke dalam batin yakni akan merusak akidah yang bersangkutan secara bertahap tanpa terasa.

o Yang paling berbahaya ialah sikap mendukung dan ikut-ikutan terhadap hari raya mereka akan menumbuhkan rasa cinta dan ikatan batin terhadap orang kafir yang bisa menghapuskan keimanan. Ini sebagaimana yang difirmankan Allah Ta'ala, artinya: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya o-rang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim". (QS. 5:51)

Dari uraian di atas, maka tidak diperbolehkan (HARAM) bagi setiap muslim yang mengakui Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai nabi dan rasul, untuk ikut merayakan hari besar yang tidak ada asalnya di dalam Islam, tidak boleh menghadiri, bergabung dan membantu terselenggaranya acara tersebut. Karena hal ini termasuk dosa dan melanggar batasan Allah. Dia telah melarang kita untuk tolong-menolong di dalam dosa dan pelanggaran, sebagaimana firman Allah, artinya: "Dan tolong-menolonglah kamu di dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." (QS. 5:2).

Tidak diperbolehkan kaum muslimin memberikan respon di dalam bentuk apapun yang intinya ada unsur dukungan, membantu atau memeriahkan perayaan orang kafir, seperti : iklan dan himbauan; menulis ucapan pada jam dinding atau fandel; menyablon/membuat baju bertuliskan perayaan yang dimaksud; membuat cinderamata dan kenang-kenangan; membuat dan mengirimkan kartu ucapan selamat; membuat buku tulis;memberi keistimewaan seperti hadiah /diskon khusus di dalam perdagangan, ataupun (yang banyak terjadi) yaitu mengadakan lomba olah raga di dalam rangka memperingati hari raya mereka. Kesemua ini termasuk di dalam rangka membantu syiar mereka.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, berarti ia dari golongan mereka.” [Hadits Shahih. Dikeluarkan oleh Abu Dawud (4031), Ahmad (5093, 5094, 5634) Di Shahihkan oleh Syaikh Ali Hasan Al-Halaby]


Kaum muslimin tidak diperbolehkan beranggapan bahwa hari raya orang kafir seperti tahun baru (masehi), atau milenium baru sebagai waktu penuh berkah (hari baik) yang tepat untuk memulai babak baru di dalam langkah hidup dan bekerja, di antaranya adalah seperti melakukan akad nikah, memulai bisnis, pembukaan proyek-proyek baru dan lain-lain. Keyakinan seperti ini adalah batil (sesat dan rusak) dan hari tersebut sama sekali tidak memiliki kelebihan dan ke-istimewaan di atas hari-hari yang lain.

Dilarang bagi umat Islam untuk mengucapkan selamat atas hari raya orang kafir, karena ini menunjukkan sikap rela terhadapnya di samping memberikan rasa gembira di hati mereka. Berkaitan dengan ini Ibnul Qayyim rahimahullah pernah berkata, "Mengucapkan selamat terhadap syiar dan simbol khusus orang kafir sudah disepakati kaharamannya seperti memberi ucapan selamat atas hari raya mereka, puasa mereka dengan mengucapkan, "Selamat hari raya (dan yang semisalnya), meskipun pengucapnya tidak terjerumus ke dalam kekufuran, namun ia telah melakukan keharaman yang besar, karena sama saja kedudukannya dengan mengucapkan selamat atas sujudnya mereka kepada salib. Bahkan di hadapan Allah, hal ini lebih besar dosanya daripada orang yang memberi ucapan selamat kapada peminum khamr, pembunuh, pezina dan sebagainya. Dan banyak sekali orang Islam yang tidak memahami ajaran agamanya, akhirnya terjerumus ke dalam hal ini, ia tidak menyadari betapa besar keburukan yang telah ia lakukan. Dengan demikian, barang siapa memberi ucapan selamat atas kemaksiatan, kebid'ahan dan lebih-lebih kekufuran, maka ia akan berhadapan dengan murka Allah". Demikian ucapan beliau rahimahullah!

Setiap muslim harus merasa bangga dan mulia dengan hari raya nya sendiri termasuk di dalam hal ini adalah kalender dan penanggalan hijriyah yang telah disepakati oleh para Sahabat Radhiallaahu’anhumma, sebisa mungkin kita pertahankan penggunaannya, walau mungkin lingkungan belum mendukung. Kaum muslimin sepeninggal sahabat hingga sekarang (sudah 14 abad), selalu menggunakannya dan setiap pergantian tahun baru hijriyah ini, tidak perlu dengan mengadakan perayaan-perayaan tertentu.

Demikianlah sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap mukmin, hendaknya ia selalu menasehati dirinya sendiri dan berusaha sekuat tenaga menyelamatkan diri dari apa-apa yang menyebabkan kemurkaan Allah dan laknatNya. Hendaknya ia mengambil petunjuk hanya dari Allah dan menjadikan Dia sebagai penolong.

[Fatwa Komisi Tetap untuk Penelitian Ilmiyah dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi tentang Perayaan Milenium Baru tahun 2000.]

Tertanda
Ketua:
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh

Anggota:
Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman Al-Ghadyan,
Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid,
Syakh Shalih bin Fauzan Al Fauzan


Fatwa Syaikhul Imam Al-’Allamah ‘Abdul Aziz bin Baz rahimahullah tetang hal serupa, Syaikh Abdul Aziz berkata :

Tidak boleh bagi muslim dan muslimah untuk ikut serta dengan kaum
Nashara, Yahudi, atau kaum kafir lainnya dalam acara perayaan-perayaan mereka. Bahkan wajib meninggalkannya. Karena barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk kaum tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dari sikap
menyerupai mereka atau berakhlaq dengan akhlaq mereka. Maka wajib atas setiap mukmin dan mukminah untuk waspada dari hal tersebut, dan tidak boleh membantu untuk merayakan perayaan-perayaan orang-orang kafir tersebut dengan sesuatu apapun, karena itu merupakan perayaan yang menyelisihi syari’at Allah dan dirayakan oleh para musuh Allah.

Maka tidak boleh turut serta dalam acara perayaan tersebut, tidak boleh bekerja sama dengan orang-orang yang merayakannya, dan tidak boleh membantunya dengan sesuatu apapun, baik teh, kopi, atau perkara lainnya seperti alat-alat atau yang semisalnya.

Allah juga berfirman :
“Tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan jangalah kalian tolong menolong dalam dosa dan permusuhan” [Al-Ma`idah : 2]

Ikut serta dengan orang-orang kafir dalam acara perayaan-perayaan
mereka merupakan salah satu bentuk tolong-menolong dalam dosa dan
permusuhan. Maka wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk
meninggalkannya.

Tidak selayaknya bagi seorang yang berakal jernih untuk tertipu dengan perbuatan-perbuatan orang lain. Yang wajib atasnya adalah melihat kepada syari’at dan aturan yang dibawa oleh Islam, merealisasikan perintah Allah dan Rasul-Nya, dan sebaliknya tidak menimbangnya dengan aturan manusia, karena kebanyakan manusia tidak mempedulikan syari’at Allah.

Sebagaimana firman Allah :
“Kalau engkau mentaati mayoritas orang yang ada di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” [Al-An’am : 116]

Allah juga berfirman :
“Kebanyakan manusia tidaklah beriman walaupun engkau sangat
bersemangat (untuk menyampaikan penjelasan).” [Yusuf : 103]



Maka segala perayaan yang bertentangan dengan syari’at Allah tidak
boleh dirayakan meskipun banyak manusia yang merayakannya. Seorang
mukmin menimbang segala ucapan dan perbuatannya, juga menimbang segala perbuatan dan ucapan manusia, dengan timbangan Al-Qur`an dan As- Sunnah. Segala yang sesuai dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah atau salah satu dari keduanya, maka diterima meskipun ditinggakan manusia. Sebaliknya, segala yang bertentangan dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah atau salah satunya, maka ditolak meskipun dilakukan oleh manusia. [Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah rahimahullahI/405]

(selesai ucapan Syaikh Abdul Aziz ibnu Baaz rahimahullah)

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ
"Artinya : Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. [QS Al Baqoroh: 109]


Maka dari itu, wahai saudara ku. Janganlah kalian mengikuti perayaan mereka baik itu Tahun Baru dan yang lain nya. Barangsiapa yang mengikuti nya, maka Demi Allah, saya berlepas diri dari kalian. Dan hendaknya kita takut jika diri kita terancam kedalam hadits Rasulullah :
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, berarti ia dari golongan mereka.” [Hadits Shahih. Dikeluarkan oleh Abu Dawud (4031), Ahmad (5093, 5094, 5634) Di Shahihkan oleh Syaikh Ali Hasan Al-Halaby]

Hanya Allah-lah yang dapat memberi petunjuk, Dia menyesatkan siapa yang di kehendakinya, dan Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakinya. Siapa yang disesatkan oleh Allah , maka tidak akan ada yang dapat menolong nya. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkan nya. Selamatkanlah diri kita, dan takutlah akan ahzab yang pedih dan menyedihkan. Apakah belum datang waktu nya bagi orang beriman untuk tunduk hati nya kepada Allah.

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyu’ hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” [Al-Hadid : 16]

Bukit tinggi, Padang : Senin : 11 Muharram 1431 H / 28 Desember 2009 M

Penulis :

Prima Saputra (Abu Abdillah Frima Ibnu Firdaus Ar-Arani)
Semoga Allah mengampuni kami, kedua orang tua kami, keluarga kami dan kaum Muslimin.

"Sesungguhnya nikmat terbesar yang diberikan oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala kepada hamba-Nya adalah nikmat Islam dan iman serta istiqomah di atas jalan yang lurus. Allah Subhannahu wa Ta'ala telah memberitahukan bahwa yang dimaksud jalan yang lurus adalah jalan yang ditempuh oleh hamba-hamba-Nya yang telah diberi nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhadaa dan sholihin (Qs. An Nisaa :69).


Baca juga artikel:
1. Hukum Perayaan Menyambut Tahun Baru/Millenium Baru
http://salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=835
http://salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=836

2. Hukum Perayaan Menyambut Tahun Baru
http://www.almanhaj.or.id/content/1263/slash/0

3. 10 Kerusakan dalam Perayaan Tahun Baru
http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/2844-10-kerusakan-dalam-perayaan-tahun-baru-.html

4. Kekeliruan dalam Menyambut Awal Tahun Hijriyah
http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/2829-kekeliruan-dalam-menyambut-awal-tahun-baru-hijriyah.html

5. Mengucapkan Selamat Natal Dianggap Amalan Baik
http://muslim.or.id/aqidah/mengucapkan-selamat-natal-dianggap-amalan-baik.html

6. Bolehkah Seorang Muslim Mengucapkan Selamat Natal
http://muslim.or.id/manhaj/selamat-natal.html

7. Ada Apa Antara Yahudi dengan Kita
http://muslim.or.id/aqidah/ada-apa-antara-yahudi-dengan-kita.html

8. Tafsir Al-Qur'an Ali-Imran:118, Jangan Mudah Percaya dengan Orang Kafir
http://muslim.or.id/al-quran/tafsir-al-quran-surat-ali-imran-ayat-118-jangan-mudah-percaya-dengan-orang-kafir.html

8. Merayakan Tahun Baru???
http://muslimah.or.id/aqidah/merayakan-tahun-baru.html

9. Bagaimanakah Kita Menyikapi Tahun Baru Masehi
http://muslimah.or.id/manhaj/menyikapi-tahun-baru-masehi.html

10. Perayaan Tahun Baru
http://muslimah.or.id/manhaj/perayaan-tahun-baru.html

11. Bolehkah Mengikuti Natal dan Tahun Baru?
http://muslimah.or.id/aqidah/bolehkah-mengikuti-natal-bersama-dan-tahun-baru.html

12. Nikmat yang Sering Dilupakan
http://muslimah.or.id/aqidah/nikmat-yang-sering-dilupakan.html

13. Hukum Perayaan Menyambut Tahun Baru Masehi
http://www.facebook.com/notes/abu-ayaz-thoolib-biasa/hukum-perayaan-menyambut-tahun-baru-masehi/219870790683

14. Tahun Baru Masehi Sejarah Kelam Penghapusan Jejak Islam
http://www.facebook.com/notes/nisa-bahagia/tahun-baru-masehi-sejarah-kelam-penghapusan-jejak-islam/256727297246

0 comments:

Poskan Komentar