“Mi…adik itu dari mana sih datangnya? Nanti keluarnya dari mana…?”

Pertanyaan seperti itu, bukan tidak mungkin akan keluar dari mulut si kecil, manakala ibu memberitahunya akan kehadiran sang adik bayi. Tidak itu saja, banyak lagi tanda Tanya besar dalam diri anak mengenai berbagai hal baru, termasuk masalah yang berkaitan dengan seks.

Bagaimana dengan orangtua sendiri…?
Kapan dan perlukah pendidikan seks diajarkan pada anak…?

Kadang ada orangtua yang enggan dan menganggap hal tersebut tabu untuk diajarkan, karena adanya anggapan bahwa seiring dengan perkembangan usianya, anak akan tau dan dapat belajar dengan sendirinya. Tanpa disadari, kelengahan ini dapat menimbulkan bahaya besar bagi sang anak.


Sejak Kapan Memulai….?

Islam tidak mengesampingkan satu aspek dari seluruh aspek pendidikan kepada anak, termasuk pendidikan seksual. Dengan demikian, pendidikan seks untuk anak juga merupakan bagian dari pendidikan yang perlu dan bahkan penting untuk diajarkan pada anak.

Lalu sejak kapan anak mulai dapat diberi pendidikan ini…?
Sejak anak mulai dapat membedakan hal yang benar dengan yang salah, yaitu usia tamyiz, biasanya pada usia 7 tahun, atau bahkan bisa kurang dari 7 tahun.

Pada usia ini, anak umumnya sudah mempunyai daya nalar yang cukup untuk menerima penjelasan dari orang dewasa di sekitarnya. Umumnya mereka sudah dapat membedakan antara laki-laki dan perempuan, serta memasukkan diri mereka sendiri dalam kategori yang mana.

Bagaimana Mengajarkannya….?

Pendidikan seks dapat diberikan secara langsung maupun tidak langsung kepada anak. Pengajaran dapat diberikan secara lisan, maupun melalui pembiasaan. Nah, berikut ini adalah beberapa yang dapat diajarkan kepada anak :

1. Mengajarkan etika meminta izin

“ Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak yang kamu miliki dan orang-orang yang belum baligh diantara kamu, meminta izin tiga kali (dalam satu hari), yaitu sebelum shalat, ketika kamu menanggalkan pakaianmu di tengah hari, dan sesudah shalat isya. Itulah tiga aurat bagimu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak pula atas mereka selain dari tiga waktu itu. Mereka melayani kamu, sebagian kamu (ada keperluan) kepada sebagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta ijin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta ijin…” (Terjemahan An-Nur 58-59)

Ayat ini mengajarkan kepada kita untuk mendidik anak-anak agar meminta ijin ketika akan menemui orangtuanya saat berada di tempat tidur, misalnya dengan mengetuk pintu terlebih dahulu. Hikmahnya apabila anak memasuki kamar orangtuanya, ia tidak dikejutkan oleh suatu keadaan yang tidak baik untuk dilihat. Orangtua pun benar-benar harus menjaga agar anak tidak pernah melihat keadaan yang tidak baik untuk dilihat tersebut. Hendaknya pula hal ini tetap dibiasakan hingga anak telah mencapai usia baligh.


2. Mengajarkan etika memandang lawan jenis

Sejak anak telah memasuki masa tamyiz (sekitar 7-10 tahun), anak sudah dapat dibiasakan untuk mempraktekkan etika melihat terhadap lawan jenis agar anak dapat membedakan mana yang dihalalkan dan mana yang diharamkan baginya. Saat memasuki masa baligh nanti, anak diharapkan telah mendapatkan bekal akhlak yang mantap. Sejak kecil, di dalam lingkungan keluarga anak sudah dapat dibiasakan untuk tidak memakai pakaian yang menampakkan auratnya (seperti memakai pakaian yang pendek sehingga terlihat kedua pahanya, memakai pakaian yang ketat dan tipis) agar di masa baligh, ia telah terbiasa menjaga auratnya.

Apalagi jika bersama dengan orang yang bukan mahramnya, anak diajarkan untuk menjaga pandangannya. Pembiasaan yang lain adalah mengajarkan anak untuk tidak memasuki kediaman perempuan asing yang boleh dinikahi (bukan mahram), dan mengajarkannya untuk tidak bersalaman dengannya…(tidak bersentuhan). Sejak memasuki masa peralihan (pubertas) yaitu sekitar usia 10 hingga 14 tahun, anak sudah dapat diberitahukan siapa yang menjadi mahramnya.


3. Menghindarkan anak dari rangsangan seksual

Tidur bersama saudara-saudara, laki-laki dan wanita di satu tempat tidur pada usia sepuluh tahun ke atas termasuk hal-hal yang dapat membangkitkan rangsangan seksual terutama apabila mereka berada dalam satu selimut. Oleh karena itu, memisahkan tempat tidur mereka harus segera dibiasakan. Sebagaimana Rasulullah shalalahu ‘alaihi wa salam bersabda :

“ Perintahkanlah anak-anak kalian mengerjakan shalat pada usia 7 tahun, pukullah mereka karena menginggalkan shalat pada usia 10 tahun, dan pisahkanlah, diantara mereka (sendiri-sendiri) dalam tempat tidur” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, shahih)

Hikmah adanya pemisahan tempat tidur ini juga diakui oleh para ilmuwan. Anak-anak yang tidur terpisah akan terhalang untuk bersentuhan badan dan bersenda gurau. Hal lain yang juga penting untuk diperhatikan adalah orangtua yang tidur dalam satu tempat tidur dengan anak. Hindarkanlah keadaan ini, meskipun anak masih bayi, sebab tidak selamanya anak tidur, ketika orangtuanya menunaikan hajat suami-istri. Anak dapat mendengar suara-suara yang mencurigakan. Ini sangat berbahaya bagi perkembangan kejiawaannya di usia mendatang.

Usaha lain untuk menghindarkan anak dari rangsangan seksual semenjak dini adalah menghindarkannya dari tayangan televisi yang tidak bermanfaat, video, bioskop, panggung sandiwara, komik porno, dan tempat-tempat hiburan. Penelitian menunjukkan bahwa anak pada zaman sekarang lebih cepat menjadi matang secara seksual akibat pengaruh rangsangan seksual dari luar tersebut.


4. Mengajarkan hukum-hukum kepada anak

Semenjak anak mulai menginjak masa peralihan (pubertas) menuju masa remaja, anak telah diajarkan tentang hukum-hukum syariat yang berkenaan dengan kecenderungan dan kematangan seksual. Anak perempuan yang duduk di kelas empat SD, misalnya, telah dapat diajarkan oleh ibunya tentang apa haid, bagaimana cara bersuci darinya, kewajiban syariat apa yang harus dilakukan jika sudah haid, dll.

Pengajaran tentang air mani, mimpi basah, dan lain-lain, hendaknya diberikan oleh ayah kepada anak laki-lakinya.

Dengan demikian, tidak dijumpai anak gadis yang berada dalam keadaan tidak suci (karena belum bersuci dari haid) , sementara mereka berfikir telah menunakan hak Allah dalam ibadah shalat.


5. Hiasi hari-hari anak dengan ibadah dan kegiatan yang bermanfaat

Banyak pendidikan yang dapat diberikan kepada anak dalam mengisi hari-harinya dengan kegiatan yang bermanfaat. Ini harus dimulai sejak anak masih kecil, agar kebiasaan yang baik hingga masa dewasanya. Menyibukkan anak dengan banyak kegiatan akan menghindarkannya dari perilaku seks yang menyimpang, seperti maturbasi.

Selain dialami pada masa remaja. Banyak penelitian menunjukkan bahwa maturbasi juga dialami oleh anak-anak kecil usia satu hingga 6 tahun yang kurang aktif dalam kegiatan, banyak melamun, dan sering kesepian. Alangkah baiknya jika orangtua dapat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan anaknya. Menjaga anak agar bergaul pada lingkungan yang bersih dan mengusahakannya mendapatkan persahabatan yang baik, akan sangat membantu sang anak. Biasakanlah anak untuk memperbanyak ibadah, seperti shalat, puasa, membaca al qur’an, hafalan al qur’an dan hadist, maupun mengajaknya ikut ta’lim, agar ia mendapatkan benteng yang kuat dalam menghadapi rangsanga-rangsangan seksual di sekitarnya.


6. Menjelaskan masalah seksual secara terbuka, jika anak sudah cukup umur
Penjelasan masalah seks merupakan masalah penting pada anak. Adapun dasar-dasar mengadakan hubungan seksual dan tata krama menyalurkan kebutuhan biologis, dapat diajaran pada saat anak mendekati usia baligh serta memasuki ambang pintu pernikahan.
Buang jauh-jauh perasaan tabu dan malu untuk menjelaskannya, karena anak Anda membutuhkan pendidikan ini dari Anda. Jangan sampai ia terlanjur salah langkah, karena Andalah yang bertanggung jawab akan pendidikannya



Perhatikanlah beberapa hal berikut ini dalam memberikan pendidikan seks untuk anak Anda :

1. Ajarkanlah tentang hukum-hukum tersebut yang sesuai dengan tingkat usianya.
Tentu akan sangat membingungkan bagi anak usia 10 tahun jika diajarkan tentang dasar-dasar hubungan seksual, sementara hokum yang berlaku pada masa pubertas dan masa baligh tidak diajarkan kepada mereka.

2. Sang ibu lebih utama mengajarkan masalah seksual kepada putrinya karena secara emosi mereka lebih dekat, dan menghindarkan rasa canggung. Apabila tidak ada, maka hendaklah diberikan kepada pendidik wanita lainnya yang dapat menggantikan kedudukan sang ibu.


Diketik ulang dari Majalah Nikah edisi Febuari 2003


Tambahan :

Waktu itu pernah membaca juga…namun lupa di mana sumbernya…mengenai pendidikan seks pada anak…

1. Untuk anak yang masih kecil, kita bisa mengajarkan anak pendidikan seks melalui adab-adab pakaian, misalnya laki-laki dibiasakan memakai celana, dan wanita memakai jilbab dan rok

Dengan begitu, anak akan mengetahui bahwa laki-laki dan wanita itu berbeda. Saat itu, kita bisa mulai menerangkan bahwa, karena mereka berbeda, mereka mempunyai karakteristik sendiri-sendiri, dan tugas masing-masing, misalnya ayah mencari nafkah, ibu di rumah mendidik anak.

2. Jangan lupa untuk mengontrol teman-teman anak-anak kita
Pada saat anak masih kecil, biasanya mereka kurang paham mengenai apa saja yang boleh dilakukan/tidak boleh dilakukan dengan teman-teman sepermainan yang lawan jenis.
Misalnya saja, anak-anak kecil biasa saling mencium, memeluk, padahal mereka lawan jenis, karena itu, mulailah mengajarkan bahwa mereka tidak boleh melakukannya.


**************************
************************************************
Hanya share dari majalah….dan belum ada pengalaman mendidik anak…
Jadi mohon saran dan masukannya/ sharingnya jika ada….
Jazaakumullahu khairan…..

0 comments:

Poskan Komentar