KISAH NYATA

Dari Majalah Nikah Vol.4 No. 12 Maret 2006
“Semoga bisa menjadikan inspirasi dan menyemangati kita tuk berdakwah, terutama pada orang-orang yg kita cintai”

Jalan dakwah memang tidak selalu mulus. Banyak kerikil tajam dan duri yang menghadang jalanku dalam mengamalkan Islam yang benar, dan mendakwahkannya pada orang-orang yang kucintai. Hanya karena doa, kesabaran, serta kasih sayang-Nyalah, bila dakwahku, khususnya pada wanita yang telah mengandung dan melahirkanku, akhirnya membuahkan hasil yang membahagiakan.

Ada benturan dan gesekan yang dahsyat dari keluarga, teman, maupun masyarakat, ketika awal-awal mengamalkan Islam secara benar. Mulai dari di tuduh LDII yang sesat karena celana nggantung di atas mata kaki, diomeli tidak bemasyarakat karena tidak ikut acara bid’ah tahlilan dan yasinan, sampai dianggap “sok suci” tatkala menolak berjabat tangan, berdekatan ataupun membonceng dengan lawan jenis.

Sebenernya tak hanya itu saja, sewaktu SMA aku pernah dinasehati secara pribadi dikantor wakasek untuk tidak ikut-ikutan “Islam radikal” dan memilih Islam yang “moderat” kata mereka. Semua tantangan itu masih sangat ringan dibanding beberapa ikhwan yang harus dboikot keluarga dan masyarakat, bahkan sampai diusir dari rumah. Lebih-lebih para ikhwan yang istrinya bercadar, mendapatkan tantangan yan cukup sengit demi menyelamatkan akidah dan manhaj.

Begitulah pahit getirnya pejuangan ini. Walaupun demikian, bukan berarti dakwah Islam yang salah. Memang awal-awal revolusi penuh dengan luka dan air mata. Begitulah sunnatulloh bagi pejuang. Bukankan Rasululloh saja dahulu pernah dilempari batu hingga kotoran? Namun beliau shalallallahu ‘alaihi wa sallam tetap bersabar hingga akhirnya Islam berkembang dan memperoleh kemenangan.

Saat Harus Memulai
Canggung rasanya ketika harus memulai dakwah pada keluarga dan masyarakat. Kecanggungan ini dipicu dari latar belakang yang serba jahiliyah dan blank dalam agama. Apalagi statusku yang masih tergantung pada orang tua. Terkadang muncul kesan menggurui dan sok tahu bila berhadapan dengan orang tua.

Demi Alloh, sebenernya telah lama aku mendamba hidayah menjamah harum dalam keluargaku. Air mata ini telah mengering dan hati ini telah meronta melihat Abi dan Ummi terjerumus dalam syirik, kering dari Tilawatil Quran, berpakaian tapi telanjang, serta amalan-amalan khurafat, bid’ah, dan tahayyul.

Akhirnya, dengan azzam yang membuncah, kuberanikan diri mendakwahi Abi dan Ummi. Tentunya dengan hikmah Mau’idzah Hasanah. Awalnya mereka sering marah-marah. Namun dengan kekuatan doa disertai kesabaran dan contoh yang nyata perlahan semua mencair. Aku lebih memilih sikap daripada kata-kata. Selain tidak ada kesan menggurui, akhlaq itu lebih memesona di obyek dakwah. Kadang kita sering diuji dengan kata-kata kita sendiri yang akhirnnya menjadi boomerang dalam dakwah.

Ketika dia tertatih tatih
Subhanalloh, perasaan haru dan lega menyemburat dalam jiwa. Tetesan air matapun mengalir deras meredam duka tatkala menyaksikan Ummi tampak khusyuk dalam sholatnya. Sejuk dan damai hati ini melihat keluarga terwarnai dengan indahnya pelangi Islam. Allahu Akbar!!
Aku tawarkan pengajian di malam Ahad untuk meningkatkan kualitas dan keistiqomahan. Pengajian bersama membaca dan memahami Al Quran. Gayung bersambut dari kalangan ibu-ibu, terutama dari ummi sendiri, untuk belajra iqra’ bersama.

Sekitar 12 orang ibu-ibu kami ajak. Pertemuan rutin untuk mengajipun berjalan lancar. Alhamdulillah. Banyak hikmah yang kupetik dari hasil dakwah yang mulai tampak ini. Sekarang harus berpikir dewasa, aku mesti bermain perasaan keibuan untuk menyampaikan maksud dakwah pada mereka.

Seiring berjalannya waktu, sunnatullah berjalan bagi hamba-hambaNya. Beberapa orang mulai terlempar dari rel tarbiyah ini. Dari 12 orang, akhirnya hanya tinggal ummi dan tiga orang yang masih istiqomah hingga bisa membaca Al Quran dari awal betul-betul nol.

Ya Illahi, betapa bahagianya melihat bibir mungil Ummi melafalkan ayat-ayat suci Al Quran. Menangis mata ini mendengar tilawah Ummi yang kadang tertatih-tatih dengan wajah khusyu’ yang tertunduk. Subhanalloh, Alhamdulillah, Allahu Akbar!!

Pengajian Iqra beralih ke kajian singkat tafsir. Dari sinilah transfer manhaj dan aqidah mulai bergulir indah, setelah sedikit tahsin Al Quran. Booming perubahan mulai meledak.
Alhamdulillah, Ummi mulai memahami Islam secara benar. Kini aku tak lagi mendapat wejangan etika tidak ikut acara adat yang berbau syirik dan bid’ah dalam masyarakat.

Jilbab Teruntuk Ummi
Dari lubuk hati yang paling dalam. Aku tak tega melihat orang tua yang mengandung dan menyusuiku bodoh dalam agama. Anak mana yang rela menyaksikan orang yang mendekap, menimang dan mempertaruhkan nyawanya, terbuka auratnya diapu semua mata orang?
Ummi tersayang, ananda memang tak bisa memberimu rumah tingkat yang membuatmu terpikat, dan mobil mewah yang mengantarmu ke tempat indah, ataupun emas permata yang menjadikanmu bekaca-kaca. Hanya dua jilbab besar ini sebagai kado untukmu di bulan Ramadhan tahun lalu. Walau tak sebanding dengan kasih sayangmu, mudah-mudahan bisa menjadi hujjahku di hadapan Alloh subhanahu wa ta’ala. Semoga bisa menaungimu dari panasnya neraka di hari akhir nanti. Hari ketika setiap diri lari dai saudaranya, dan lari dari ibu dan ayahnya (‘Abasa : 34-35). Ummi, anakmu ini sangat beharap untuk berkumpul denganmu di jannah Alloh subhanahu wa ta’ala. Semoga ….

Kepada “Pintu Surgaku”
Kini, karena aku menuntut ilmu di kota hujan, terpaksalah harus rela berjauhan dengan Ummi. Ummi tercinta, maafkan aku…telah banyak kata-kata kasarku yang telah melukaimu.
Ummi yang baik, maafkan jika tak ada waktu lagi untuk belajar tafsir bersama, mendengar keluh kesahmu saat memasak di dapur dan membantumu mengambil air.

Ummu, ada bening menemaniku. Saat teringatmu membaca Al Quran atau melihat penampilanmu dengan jilbab yang kuberikan. Bukannya aku cengeng Ummi, tapi biarlah sesekali bening air mata ini membasahi keringnya kerinduan dalam jiwa.

Ummi, hanya secumbu kecupan di keningmu saat aku meninggalkanmu menuntut ilmu di kota hujan ini. Saat itu kulihat sosok keteguhanmu dibalik pandangan matamu yang beraca-kaca karena pepisahan. Yakinlah Ummi, pepisahan ini hanya sementara dan hanya akan menambah manis dan wanginya keinduan dalam jiwa. Ummi, keridhaanmu menjadi peneguh dalam perantauan ini. Keikhlasanmu menguatkan kesabaran dalam perjuangan ini, dan untaian doa dalam tangismu menjadi penyejuk hati di tengah samudera kehidupan yang keras ini.

Ummi, percayalah takkan kubiarkan hari tuamu menyendiri dipanti jompo. Aku tahu Ummi, itu adalah kedurhakaan besar. Engkau adalah pintu surgaku di dunia ini. Karena itulah Alloh melebihkanmu dalam birrul walidain daripada laki-laki. Ummi..memang jasamu tiada terbatas waktu walau kusucikan dirimu dengan banjiran keringat dan air mata.

Satu hal yang kupinta Ummi….sembahlah Alloh saja dan jauhilah segala kesyirikan, bagiku itu lebih dari sekedar cukup. Demi Alloh…Ummi!

Ummi..jagalah Alloh, niscaya Alloh akan menjagamu.

http://akhsa.wordpress.com/2008/01/30/kado-special-tuk-“pintu-surgaku”/
"Ummi......jagalah Alloh, niscaya Alloh akan menjagamu".

0 comments:

Poskan Komentar